Sabtu, 28 Februari 2009

Rejeki...gak rejeki...

Gak Rejeki....dikejar gak dapet, Udaah Rejeki.... ditolak tetep masuk....

Makan gratis bukan rejeki gw hari ini, walaupun lima menit menjelang pulang med rep masuk ruang kerja dan menawarkan makan di luar, bincang-bincang sebentar, rancang sana rincing sini, akhirnya diputuskan untuk makan di Margo city, lokasi paling deket dengan area kerjanya. Rencana dimatangkan bersama, orang yang akan diajak terlibat diundang dan 5 orang langsung dihubungi. Deasy adalah orang yang pertama aku telpon, basa-basilah aku dulu, menanyakan apakah dia di jemput suami?, suami lagi dimana? Dan ujung2nya “ikut makan yuk!” Suatu ajakan keluar juga, danbukan rejekinya kaya’nya, deasy bilang dia mau pulang on time hari ini. Ya sudah....Deasy gugur! Dua orang lain yang sudah okepun akhirnya batal...., yo wis terpaksa makan cuma bertiga, yang akan didapet pasti cuma kenyang tanpa seru2an, dan Alhamdulillah.

Waktu pulang tiba, udah jam 4, beres2, dan keluar dari ruangan,ehhh...di ruang tunggu sdh menunggu 2 orang tamu, setelah aku tanya ternyata mau ktemu manajer ku yang cantik itu (bathinku berucap “yaaah...si deasy ...mau teng go terpaksa tunggu”), solider sedikit, aku gak langsung turun, tapi tunggu punya tunggu kok percakapannya gak selesai2 , bukan mau ikut campur,aku terpaksa menghampiri deasy dan bilang “katanya mau tenggo!”, ternyata pokok bahasan yang sedang diperbincangkan masalah serius yang aku perlu juga ikut ngomong disitu, dan hasilnya ....waktu menunjukkan jam 5:30. Kriiiinnggg hape berbunyi dari med rep yang tadi janjian ama aku, dia bilang “ Dok, gak jadi Ya?”, aku tau dia punya janji jam 6 sama dokter lain, langsung aja aku bilang; “Ya ....lain kali aja ya” dengan minta maaf, akhirnya batal semua. Belum rejeki pikirku

Kita sepakat pulang, dan aku harus anter deasy sebagai bentuk tanggung jawab (hehehe...kaya’ yang iya aja). Singkat cerita, aku tau deasy akhirnya gak jadi langsung pulang, tapi singgah dulu di hanamasa, makan yang berkuah, seger......Rejeki ....

REZEKI


Al-Baqarah : 212
“ Dan Dia memberi rezeki kepada orang yang dikehendakiNya tanpa batas.”

Banyak dari kita yang menjadi resah,manakala rezeki yang diharapkan tak juga datang, seolah-olah kita telah tau apa yang menjadi bagian kita, dan kapan waktunya rejeki harus menghampiri, sehingga seringkali kita minta disegerakan datangnya. Padahal Rezeki adalah rahasia Illahi, kewenangan mutlak milikNYA, namun setiap kita telah digaransi olehNYa bahwa masing-masing mempunyai rezeki sendiri-sendiri, selayaknya kita tak menjadi risau,kapan dia datang, sebesar apa, dan bagaimana bentuknya.

Secara keseharian kita sering mengartikan bahwa rejeki hanya dikaitkan dengan yang ujung-ujungnya duit, memang tak sepenuhnya salah, karena salah satu bentuk rezki adalah harta.
Lebih luas, yang dimaksud dengan rezeki adalah "segala pemberian yang dapat dimanfaatkan, baik material maupun spiritual" (dikutip dari tulisan M Quraisy Shihab "Menyingkap Tabr Ilahi : Asma ul Husna dalam Perspektif Al-Qur'an)
Sekalipun dinyatakan bahwa setiap kita dijamin rezekinya, bukan berarti kita bisa berleha-leha menunggu jatuhnya rezeki dari langit begitu saja, dapat diraih tanpa perlu upaya,usaha,ikhtiar dan lain lain istilah yang maknanya serupa.

Ada satu contoh yang begitu membekas dan melekat yang mempengaruhi pemahaman saya tentang rejeki ( semoga saya tidak salah menafsirkannya), tentang Rejeki dari Allah datangnya
Ini kejadian nyata di dunia kerja.
Oleh karena salah satu sebab, ada salah seorang yang begitu besar rejekinya dipandangan saya, tiba-tiba berhenti melakukan kerja, sekedar untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah sumber rejeki bagi yang lain. Saya tidak menuduh tindakannya itu sebagai suatu kesombongan, karena memang ada dikatakan bahwa setiap yang mendapat rejeki dapat menjadi rezeki untuk yang lain (ada di buku Menyingkap Tabir Ilahinya M Quraisy Shihab),tapi ke"pede"an dirinya untuk membuktikan hal itu, yang membuat saya terpaksa menggeleng-gelengkan kepala dan bertanya-tanya dalam hati, apakah Allah telah membuka tabir rahasianNYA sehingga orang,(yang begitu besar rejekinya dipandangan saya), itu bisa dengan mudah melihat bahwa yang kami terima adalah karena semata-mata rejekinya yang menghambur-hambur dan bercipratan ke sekitarnya, kemudian dia menunjukkan pada kami , bahwa tanpa dia kami akan bersedih karena akan berkurang pula rejeki kami , seolah-olah tak ada rejeki bagi lebih dari 100 karyawannya yang bekerja dan berupaya mencari rejeki yang telah Allah janjikan itu, disitu. Masya Allah!

Secara matematika, sebagai pengelola usaha (bukan pemilik), saya menghitung-hitung perkiraan pendapatan yang akan masuk, dengan biaya yang tetap akan dikeluarkan dengan tidak ikut bekerjanya orang itu....memang tidak dapat dipungkiri, , pendapatan kami akan menurun.
Tetapi mungkin dia lupa, atau saya juga lupa, hitung-hitungan rejeki bukan ala matematika manusia, Allah membuktikan (bukan survey yang membuktikan), Profit yang dihasilkan lebih besar dari masa-masa beliau aktif. Subhanallah
Berkurang di kantong yang satu, Allah melebihkan di kantong yang lain sehingga secara keseluruhan kami tetap berkecukupan atas izinNYA

Jadi, kalau pernyataan saya mengenai Rejeki dari Allah datangnya, membuatnya tersinggung dan berakibat beliau menghentikan sementara kerjanya, saya harus meminta maaf, bahwa saya tetap pada keyakinan itu.
Rejeki dari Allah datangnya, pada orang-orang yang DIA kehendaki.

Alhamdulillah






Catatan :
Mohon maaf, ini bukan bermaksud menggurui, sekedar membagi pengalaman saja...





Mencuri waktu disaat harus berangkat kerja
dan akhirnya selesai.....
tapi terlambat sedikit ke kantor, mudah2an gak macet
Amin.....

Ini bukan tentang Cinta....ini tentang Ninta

kangen mulai terasa...
pada Uni yang biasa aku panggil Ninta
(dan ini mengingatkanku pada Uci yang biasa aku panggil Ma....)



engkau adalah segalanya
menjadi pelita bagi kelamku
menjadi suara dalam kebisuanku
menjadi semangat tuk keputus asaanku
yang menghadirkan cinta dalam kehampaan rasaku

dan engkau tetap segalanya
yang menjadi warna bagi kesuramanku
yang melahirkan rasa bagi sentuhanku
yang menjadikan pijar bagi keredupanku
dan menyemaikan kasih diseluruh kehidupanku...


Tetaplah terang meski jauh dariku......(Uni)

Tetaplah hidup dalam hatiku..............(Uci)

aku KOLERIS

Masih tetep mau menyodorkan sisi positif ber efbi , aku coba ikut kuis tipe kepribadian, dua kali mencoba, tetep hasilnya KOLERIS…

Dan bukan karena mau pamer, kalau aku kemudian terpaksa menyodorkan bukti ke koleris an aku, ini cuma sekedar kepengen kaya’ penulis2 psikologi popular itu yang memaparkan pengalaman pribadinya ke dalam buku, dan eh….ternyata bukunya menjadi buku terlaris. (siapa tau note ku jadi note terlaris…hehehe)

(Aku baca personality plus nya Florence Littauer)

Katanya: “Orang koleris dilahirkan sebagai Pemimpin”

Aku gak pernah tau apakah aku dilahirkan dengan membawa tanda lahir seorang pemimpin, dan gak sempet juga nanya ke ibuku saat beliau masih ada. Kalaupun masih sempet, aku juga bingung tanda lahir apa yang harus aku tanyakan , tahi lalat?...bercak merah...? jadi rasanya gak perlu diperpanjang.
Yang aku ingat....semasa di sekolah dasar, aku ikut pramuka. Selama di pramuka itu aku selalu menjadi pemimpin, ketua barung saat siaga, terus jadi ketua regu waktu penggalang, bahkan jadi penggalang pratama. Aku bangga pake setrip merah tiga garis di lengan baju, kaya’nya gimanaaaa gitu.
Di SMP dan SMA hampir gak beda dengan di esde, selalu jadi pemimpin, di kelas jadi ketua kelas. Seingatku aku gak pernah mengacungkan jari untuk dipilih sebagai ketua itu, temen2 selalu milih aku jadi ketua mereka, padahal secara fisik, aku dulu cungkring amat, kaya’nya gak panteslah jadi ketua, tapi mungkin tanda lahir itu dapat mereka lihat.
(Eh.....gak tau juga sih apa alasan mereka milih aku, bisa juga karena sebel..., tapi gak pentinglah buat aku...kalau mereka milih karena sebel, kan mereka sendiri yang kena batunya. Hehehe...)

Katanya lagi : orang Koleris kuat sangat memerlukan perubahan. Mereka serba memaksa merubah segala sesuatu yang tidak pada tempatnya dan selalu mengoreksi apa saja yang tidak benar.

Wah kalo yang ini gw banget!
Jika ingin mencari pembuktian pada statement di atas, bisa menghubungi anak buahku, betapa aku dinilai keras, kadang suka tidak peduli pada pendapat mereka ketika aku menginginkan suatu berjalan sesuai dengan yang seharusnya. Kenyamanan yang sudah mereka nikmati sekian lama, (bekerja tidak terstruktur dan melenceng dari sistem), bisa porak poranda dengan kehadiranku. Gak heranlah kalau banyak yang kemudian merasa terganggu dengan aturan-aturan baruku.
Aku selalu bilang kepada mereka ” saya gak peduli apakah kalian suka atau tidak suka pada saya, tetapi selama kita didalam jam kerja, kita harus sanggup bekerjasama, dan bekerjasama secara harmonis...”
Kejam juga ya kedengarannya.....

Tukang koreksi? Hmmm ada benarnya, aku paling suka berlaku seperti ibu pada siapa saja (maksudnya tkg benerin lebih tepatnya), misalnya ada stafku yang pake baju krahnya ngelipet sebelah, aku secara gak sengaja kadang memperbaiki, sehingga orang tersebut jadi bergerak ke kiri salah, ke kanan gak bener. Salah tingkah gak karuan.

Masih katanya juga : Watak koleris unggul dalam keadaan darurat.

Mungkin ini ada benarnya juga.
Pada ulang taun Kemerdekaan kita tahun 1995 (Indonesia 50 tahun) ada perayaan kembang api besar di Monas. Saat itu, aku dan suamiku ikut berbondong-bondong ke sana. Waktu datang, kita memang masih bebas memilih tempat mana yang paling cozy buat kami, gelar tiker, dan duduk berempat anak beranak, si uni 4 tahun, ade’nya 2 tahun. Setelah acara selesai barulah aku dan suami terkaget2, begitu banyaknya orang, keluar secara bersamaan, saling mendorong. Sudah pasti kami gak bisa terus berpegangan tangan karena terdorong kesana sini oleh kekuatan yang begitu dahsyat. Melihat situasi yang demikian, aku langsung keluar sifat pengaturnya deh, mulai membagi tanggung jawab, aku megang si bungsu, suami harus konsentrasi pada yang sulung. Aku katakan saat itu, untuk tidak memikirkan satu sama lain, selamatkan diri masing2 dan janji ketemu di Istiqlal.
Alhamdulillah...selamat berkumpul kembali berempat.

Peristiwa yang teranyar, saat ibuku meninggal dunia. Anakku sampai heran, ”kok mama masih bisa ngatur-ngatur segala sih?” tanyanya. Iya memang, didalam kesedihan yang dalam karena baru saja melepas ibu pergi. (Ibuku menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku), aku bukannya menangis diam di depan jasad almarhumah, justru langsung instruksi ini, urus itu. Suruh pesen dan pasang tenda, suru urus pemakaman, suruh beli bunga dan menganjurkan untuk tidak berbusana warna hitam pada seluruh keluarga, dan sempet-sempetnya memarahi adikku yang menangis keras. (tega ya aku...? buat adikku maaf ya!). Aku sendiri mengaturyang lainnya
Alqur’an bahkan sudah kami siapkan sebelumnya, untuk mereka yang ingin membacakan Ya siin buat ibuku, saat mereka bertakziah
Katanya lagi sih, itu sesuai dengan sifat watak Koleris : ”mengorganisasi dengan baik”

Rasanya tak imbang kalau membahas pribadi hanya dari sebelah sisi, karena sebagai seorang koleris pasti ada juga hal-hal negatif yang melekat di diri.

Katanya pula : Orang koleris punya keyakinan dasar bahwa mereka selalu benar, sehingga tidak menyadari bahwa mereka mungkin salah.

Jujur, memang seperti itulah aku, sok tau! Terkadang karena merasa selalu pendapatku yang benar, maka orang jadi malas beradu argmentasi denganku, buntut-buntutnya aku malah jadi gak dapet masukan dari mereka-mereka itu.
Padahal mana ada manusia yang gak pernah salah, tapi yah begitulah kenyataannya. Salah tapi gak mau mengaku salah, selalu berhasil mencari alasan logis, yang akhirnya orang lain jadi terpengaruh dan sejalan dengan alur pikiranku ” Hmm.... bener juga ya!” bathin mereka, sementara aku juga ngomong dalam hati ”wah..gw salah nih!”

Katanya lagi : orang koleris hanya merasa senang kalau berada dalam posisi memegang kendali.


Ihh serem bener pendapat itu ya, kaya’nya aku egois banget sebagai seorang koleris. Mau bilang gak setuju, tapi kaya’nya aku harus berkaca dulu deh, kalau aku mau mengklaim bahwa aku gak begitu. Bisa jadi begitu itu memang apa adanya aku. Aku selalu menuntut orang lain bekerja ala aku, yang seringkali hanya menghasilkan frustasi bagi mereka yang bekerja dibawah komandoku. Dan terkadang sikapku yang begitu bisa berakibat menyepelekan orang lain. Masya Allah.....emangnya aku siapa?
Kasian juga ya mereka....pasti stress terus menerus.

Katanya : Orang koleris Gak sabaran...

Yang ini juga aku banget....Aku susah sekali mentolerir orang yang lamban, yang bekerja gak efektif dan seringkali membuat aku geregetan.
Kalo udah begini aku cuma bisa bilang ” Ondeh ...mandeeee!!”
Ini yang menjadi hambatan dalam bekerja tim, bagi orang koleris.

Katanya Juga : bahwa sulit sekali menasehati orang koleris kuat karena mereka mengetahui segala-galanya, selalu menimpakan kesalahan pada orang lain dan selalu punya alasan untuk kesalahannya sendiri.

Aku gak tau apakah aku seperti ini? Sepertinya lebih baik kalau ada orang lain yang menilai.....












Catatan
Kalau kemudian saya bisa menjadi tidak koleris sertus persen, dan bisa jadi phlegmatis, sanguinis dan melankolis pada kondisi-kondisi tertentu, itu karena belajar.

Mengenali kekuatan dan kelemahan kita bisa membantu kita untuk memahami orang lain

Anakku tukang "ngarang"....(dalam arti sebenarnya)

smalem aku ngobrol mengenai gimana ngadepin anak yang suka berbohong. Ini cuma pengalaman sih ,tapi klo berbagi pengalaman harus ada ilmunya…yah mungkin ini bisa jadi kategori omong kosong ( tapi bukan bohong)
makanya boleh skip aja…gak usah dilanjutin mbacanya…
hanya saja maaf..... aku mau nerusin nulisnya….

Aku punya anak yang waktu kecil dianggap temen2nya sebagai Putri tukang boong, bahkan ada temennya yang nyeritain kelakuan ”jelek” anakku pada orangtuanya, dan orangtuanya yang temen aku itu langsung komen gini :
” yoen...kasih tau tuh anak lo, dia suka boongin temen-temennya!” (kok ada ya ortu yang kayak gitu)
Anakku saat itu baru kelas satu SD. Tapi soal bohong, aku gak pernah menganggap sebagai suatu tindakan wajar yang boleh dilakukan anak-anak, cuma mungkin cara menanganinya yang berbeda.
Usut punya usut..kutemukan alasan kenapa anakku dianggap termasuk kelompok pembohong.
Jaman itu Trio kwek-kwek lagi ngetop, Putri satu sekolah sama Dhea Ananda yang dia panggil sebagai kak Dhea., ajaib emang, putri yang kelas 1 bisa temenan sama Dhea yang kelas 6, penyanyi top lagi
Kadang-kadang pulang sekolah dia pake cincin baru dan kalo ditanya darimana, dia bilang dikasih kak Dhea, trus pernah dia minta kaos kaki unik (seperti yang dia pake’, yang dibawain tantenya sbg oleh2) untuk kak Dheanya (dan beneran.... itu dikasihkan ke Dhea, karena sempet dipake Dhea ke sekolah, mereka pake kaos kaki sama)
Post card Dhea Ananda ada segepok, suka dia bagi2in ke temen2nya dan ada anak yang gak dikasih karena si uni ku gak suka sama temennya itu. Kemudian orang tua temen yang gak disukai oleh anakku itu minta foto Dhea ke aku, (karna anaknya minta ke putri dijawab udah habis, nah... yang ini emang dia bohong, karena di rumah, postcard Dhea masih seabreg) lha pastinya aku bingung, knapa mintanya ke ibunya putri, knapa bukan ke Novi, mamanya Dhea. Ortu itu bilang ” anak lo bilang, dia sodaraan ama Dhea!”

Bohong yang kedua, sehabis liburan sekolah, ada temennya yang cerita abis jalan2 ke London sama mamanya, bawain oleh-oleh untuk tmen2 deketnya, termasuk untuk putri.
Entah apa yang dibahas antara putri dan temannya itu, orang tua temennya mencari kebenaran berita yang disampaikan anaknya kepada aku (knapa mesti begitu sih...cek n ricek ...pikirku)

Waktu itu, dua informasi itu, aku rasa udah cukup untuk aku mulai berfikir bagaimana aku harus mengatasi masalah ini, mencari alasan kenapa putri jadi dibilang tukang bohong.
Satu jawaban ketemu saat pulang sekolah, aku periksa2 buku pelajarannya, dibuku latihan bahasa Indonesia, aku menemukan tulisan yang judulnya: ”Dhea, kakakku...” disitu diceritakan bagaimana kedekatannya dengan sang Idola, dan bagaimana dia sangat mengagumi "kakak"nya itu, dan dapet nilai 7 saja! (apa gurunya juga mikir anakku bohong ya, bukannya menilai ini satu karya anak kelas 1)
Oooo...rupanya anakku berimajinasi....dan temennya menganggap itu cerita sebenarnya....dan ternyata gak begitu sebenernya....dan akhirnya anakku dibilang tukang bohong...(Kasian juga klo inget)

Saat menyuapi makan, aku suka ngobrol dengan dia yang memang punya kelebihan berkomunikasi (psikotest ketika masuk esde hasilnya menyebutkan kemampuan verbalnya istimewa), aku tanya :”uni bilang ke Abi kalo uni juga ke London ya waktu liburan?”
Dia jawab ” enggak, uni cuma nanya waktu ke London ngeliat Istana Ratu Elizabeth gak, terus uni kasih tau kalo di deket situ kita bisa foto bareng pasukan kerajaan, dan kita bisa liat pasukan kuda tukeran”
”Kok Uni tau?”...”uni baca di ensiklopedi...”
ahaa....ini mungkin penyebabnya, orang belum pernah kesana kok bisa ngasih tau!

Maka mulai dari kejadian itu, aku bilang pada anakku,
” kalau uni mau bercerita tentang apa yang uni pikir tapi gak ada di kejadian sebenernya...
atau mau menceritakan yang uni tau dari hasil baca, denger, nonton atau apapun...
uni harus tulis dulu ya.....
Semua cerita itu boleh uni ceritain lengkap di atas kertas, nanti baru uni suruh baca temen2 uni itu
dan bilang : *ini karangan saya*”

Ah.... aku gak tau apakah anakku paham maksudku, tapi sejak itu emang dia jadi suka nulis dimana aja, di kertas selembar, di buku matematika, di sampul belakang, tulisannya bahkan sering disertai gambar-gambar
Buku matematikanya jadi komik... (masalah baru...), buku bahasa jadi buku cerita bergambar...dan buku gambar jadi buku gambar bercerita...

Umur 12 tahun dia udah bikin cerita tentang vampire, 30 halaman (tp sampai saat ini, itu cerita belum juga sampe endingnya karena gak dilanjutin, dia keburu seneng kuliah...)

setelah lihat neraca....ingat mati....introspeksi.....

(*bener....ini gara2 melihat timbangan... *
dan ini untuk Ahlam, katanya pengen yang serius...)

Ketakutan pada apa yang terjadi setelah mati, bukan main-main rasanya dan beralasan. Gak kebayang, siksa yang menyiksa ataukah kenikmatan surga yang akan kita dapat di alam abadi nanti.
Coba kita hitung menghitung bekal, adakah cukup untuk menghindarkan kita dari derita yang panjang dan tak terbilang, atau berat timbangan kebaikan yang bisa membawa kita ke tempat dimana bidadari kan menemani.
Kegiatan ini sebagai pengingat dan buat introspeksi. Bukan untuk membandingkan dengan kesempurnaan catatan sang Maha Detail (karena tak ada satupun yang luput bagiNYA) , hanya menurut ukuran manusia, apakah kita boleh merasa patut menempati surga milik orang-orang yang pantas

Dan ini hasilku….

Aku mulai dengan daftar dosa yang aku ingat. Masya Allah, begitu lancar tangan tak putus menulis, lembaran kertas berganti dalam waktu singkat dan bila disatukan sudah bisa membentuk satu kitab tebal, aku sebut sebagai buku catatan yang akan menempati timbangan sebelah kiri.
Berdebar..., gemetar... dan menangis hati.... setiap ingat kesalahan pada ibu, ayah, suami dan anak . Menyesal.....ingat perbuatan yang menyakitkan keluarga, kawan dan lingkungan.
Malu .....pada DIA karena tak mampu menjalankan dua hal saja yang IA minta, mengerjakan apa yang diperintahkan dan meninggalkan segala larangan.
Masih ada larangan yang dikerjakan, dan masih ada perintah yang ditinggalkan.
Astaghfirullah....

Kemudian, aku coba menuliskan sesuatu yang baik, yang rasanya pernah aku buat, dimulai dengan Bismillah.
Kertas tetap putih bersih untuk beberapa lama, tangan tak jua menggoreskan pena, pikiran sibuk mencari cari... yang mana ya...? .yang mana ya....? Inikah....?? jadi tak yakin.
Aku seperti kehilangan ide, padahal itu bukan berkaitan dengan imajinasi, tidak perlu menunggu inspirasi lebih dulu, tinggal mencomot yang ini dan yang itu, jika memang pernah dikerjakan.
Kalau ada yang berhasil aku tulis, masih pula menjadi tandatanya, adakah penilaian ku betul bagi NYA dan malaikat di bahu kanan juga mencatatkan di buku perhitungan milikku, karena menilai perbuatan yang dilakukan hanya karena Allah semata dan pantas mendapatkan ganjaran pahala dari NYA.
Masya Allah....jadi tak yakin....

Setelah menyerah karena item kebaikan tak bertambah secepat yang tertulis di buku timbangan sebelah kiri, kegiatan aku selesaikan. aku tak perlu menjejerkan dua buku berdampingan, sudah tau persis kemana kira2 perjalananku kelak
Astaghfirullahaladziim...

Jadi panik.... berpikir...., masihkah waktu yang tersisa mampu digunakan untuk mengumpulkan bekal yang membuatku bisa bergabung dengan orang-orang yang selamat
Segera bertobat.... jangan ditunda

Ya Allah ampunilah...
Dan berikan kesempatan yang bermanfaat....
agar firdausMU pantas kudapat
Amiin...

Selasa, 17 Februari 2009

Tutup mata dan lihatlah

“Matanya buka dong Ma, baru mami bisa ngeliat”. Beliau malah menjawab :”justru kalau tutup mata banyak yang nampak”. How come ??!
Sesekali aku coba juga ikutin apa yang dimaksud, duhhhh rasanya hati ini jadi sediiihh bener setelah tau apa yang beliau maksudkan. Introspeksi!
Ditengah sakitnya beliau lebih sering memejamkan mata, katanya dengan menutup mata, beliau bisa melihat mama, papa, kakak dan adiknya serta orang-orang yang dulu pernah dekat, kemudian ibuku menangis, menangisi kesalahan yang mungkin pernah dibuat dan mohon maaf pada mereka serta minta ampun pada Allah. Subhanallah!!
Hal itu semakin membuat hati ini rasa dikoyak-koyak penyesalan, betapa semasa hidupnya aku gak pernah menangkap apa yang beliau ingin coba tunjukkan, aku malah berkomentar “ah…. Mami ngada2 nih, halusinasi tuh Ma!”(pake kata Ah! Lagi).

Begitu banyak kenangan tentangnya, aku coba mencari satu saja kenangan yang kepingin aku buang karena menyakitkan, tapi Ya Allah........ tak satupun!!
Semuanya bermanfaat, menjadi guru sepanjang hidup. Sikap lakunya, kata-katanya, kalimat-kalimatnya dan bahkan intonasi suaranya penuh pendidikan. Sungguh tidak percaya! Delapan anaknya menjadi ”orang” tanpa perlu ada guru tambahan, yang menakjubkan tulisan kami semua bagus-bagus, karena hal sekecil itu menjadi perhatian.

Kini hampir setengah tahun sudah beliau tak ada, kembali pada NYA. Masih terbayang betapa rapuhnya beliau di tempat tidur pada saat-saat terakhir, didera sakit yang semakin berat, namun dalam ketidak berdayaan, kekuatannya justru semakin terlihat, betapa ia mampu menjaga kami anak-anaknya dalam satu perasaan yang sama, saling ketergantungan secara fisik dan psikis, satu sama lain. Satu persatu bergilir menemani, membacakan kalimat Tauhid dan Yaasin bergantian, kadang secara bersama-sama, berdoa dan meminta maaf (semoga Mami mendengar kami saat itu), bahkan kami masih sempat tertawa walau suasana kesedihan begitu terasa. (beliau juga lucu sih, jadi pada saat itu pasti gak marah).

Sekarang aku mencoba melakukan apa yang pernah beliau lakukan, tutup mata…. dan berdiam sejenak. Sungguh dia tidak mengada-ada.
Banyak hal yang terlihat saat kedua mata terkatup , seperti di bioskop, menonton diruang gelap tapi semuanya jelas dan detail
Dengan mata terpejam aku melihatnya dalam sakit berat, (berat karena mungkin tidak diringankan oleh doa ku, anaknya).
Cuci darah hampir sekitar tujuh tahun, tiga kali seminggu, 4–5 jam saat cuci darah, terbaring dalam posisi yang tidak bebas, miring susah, terlentang terus punggung panas, tulang belakang pegal, lengan lurus kaku karena selang terpasang di sana.
Setiapkali merintih kesakitan, aku selalu berkata "sabar Ma!", padahal beliau adalah orang yang paling sabar yang pernah aku tau, kata-kataku keluar karena aku tak pandai menghibur, hampir tidak pernah aku mengusap-usap bagian tubuhnya yang sakit, yang mungkin bisa mengurangi rasa sakit secara psikologis.

Penyesalan memang datang belakangan, tapi tidak boleh sia-sia, penyesalan harus menjadi pelajaran dan pengalaman.

Masih dengan mata yang tertutup aku melihat betapa sombongnya aku dengan ilmuku, mengatakan bahwa penyakitnya sudah tidak bisa sembuh, dan menganjurkan beliau untuk ikhlas saja. Padahal apalah artinya ilmuku jika dibandingkan kehendakNYA, tidak ada yang aku ketahui kecuali atas izinNYA, kok bisa-bisanya aku bilang gak bisa sembuh, sementara penyakitnya datang dari Tuhan, DIA lah satu-satunya yang berhak memutuskan bisa tidaknya sesuatu berlaku di bumi. Seharusnya saat itu aku berdoa , doaku pasti berguna untuk nya, setidaknya hatinya bisa tenteram.

Aku begitu menyesal karena Doaku untuknya standar aja selama ini, hanya memintakan ia diampunkan dosa, disayang seperti beliau menyayangku. sampai suatu saat aku menyadari kesalahan itu, doaku terlalu singkat dan aku harus minta lebih banyak pada Allah.
Di Raudah, saat pertama kali aku memohon kesembuhan baginya karena aku sungguh sangat ingin beliau sembuh dan terlepas dari rasa sakit yang berkepanjangan, kalaupun harus berpenyakit hilangkan sakitnya.

Tetapi sampai akhir hidupnya beliau tetap dalam kesakitan, namun aku percaya Allah mempunyai rencana yang lebih baik untuk ibuku.

Kini, apapun aku minta padaNYA untuknya, satu doa yang aku pelajari, selalu keluar dari hati, insya Allah takkan berhenti walau air mata menyesakkan duka ke dada.

Ya Allah....
Kasihanilah keterasingannya
Temanilah kesendiriannya
Hiburkanlah kegelisahannya
Tenangkanlah ketakutannya
Dan anugrahkanlah padanya salah satu dari RahmatMU
Yang dengannya dia merasa cukup dari (menuntut) kasih sayang kepada selainMU
Serta gabungkanlah dia bersama dengan orang orang yang dicintainya
Di Firdaus milikMU
Amiin ya Rabbal’alamiin.......


Jakarta
Januari 2009
Putri Yoen Aulina

Memaafkan adalah...

Ini bukan tentang ku dan ini juga bukan cerita rekaan atau fiktif belaka. Benar-benar tejadi dalam lingkaran kehidupanku, tapi Arie, sahabatku itu, memintaku untuk merahasiakan bahwa ini kisahnya, dan aku menyanggupinya untuk tidak menyebut-nyebut namanya dalam kisah yang akan kuceritakan nanti.

Ceritanya dimulai dari :
Disuatu senja, di musim yang lalu, ketika itu hujan rintik... terpukau aku menatap wajahmu, setelah tau apa yang terjadi ......!!

Kenyataan itu mengejutkan dan segera menimbulkan kepanikan dan penyangkalan.
”Gak mungkin...... gak mungkin”. Tiba-tiba saja dia menemukan fakta bahwa kasih sayangnya dikhianati, kepercayaannya dimanipulasi, dan sahabatku merasa dihempaskan kedalam jurang yang isinya hanya kepedihan, tiga orang anaknya terseret pula ke dalamnya.
Dan sejak saat itu, dimulailah cerita sedih sepanjang hari, dari hari ke hari.
Perubahan terjadi begitu drastis, sehingga aku tidak sempat mendeteksi gejala awalnya. Sahabatku tidak lagi mampu keluar rumah, ia merasa jantungnya memompakan darah begitu cepat ke seluruh tubuh sehingga aliran darah terasa panas dalam pembuluhnya, debaran jantungnya membuat ia tidak nyaman, terasa sakit di dada disetiap detakannya.
Setiapkali bercerita, airmata seolah menjadi mata air yang tidak pernah habis-habisnya, sumbernya berasal dari lubang di hatinya yang terluka. (Kehilangan airmata begitu banyak kah yang menyebabkan berat badannya hilang lebih dari 10 kg dalam waktu 3 bulan saja??).
Waktu terus berjalan tanpa peduli apakah temanku mampu bertahan di dalam kesedihan yang dalam. Waktu memang tidak mampu kita hentikan, betapapun besar dan gigih nya kita berupaya. Dia berputar terus, menghadirkan pagi dan malam, merubah terang menjadi gelap, membawa hari, bulan ke arah kepastian.

Kemudian harapan mulai memimpin, dia berupaya membangun segala hal yang sudah terlanjur diruntuhkan, menjadi tegar dalam penyangkalan terhadap kerapuhan. Usahanya seringkali membuat kedua tangannya gemetar. Sahabatku seperti sedang mencoba mendirikan istana kokoh dari pasir putir di pantai, sejenak bangunan berdiri, namun roboh lagi begitu datang ombak, sekalipun kecil. Itu membuatnya frustasi, berulang-ulang. Sakit, nangis, pasrah,marah dan akhirnya mencoba berserah pada Allah dalam keikhlasan menerima cobaan, jatuh bangun dalam segala usaha yang dikerahkan untuk menata kembali kehidupan keluarganya. Anak-anak menjadi alasan kekuatan yang membuat sahabatku mampu bertahan dalam kesakitan. Ia mau rumahnya, menjadi tempat ternyaman bagi anak-anaknya, sehingga kemanapun mereka pergi, kesitu anak-anak akan kembali, dalam dekapan keluarga bahagia yang tanpa dusta dan pura-pura.
Sahabatku tidak pernah tersesat dalam alternatif pilihan, pilihannya cuma satu menjadi pemenang dalam permainan itu, mempertahankan kebahagiaan keluarganya.

Ketentraman rumah tangga yang ia harapkan dapat ia ciptakan kembali dari kemauan memaafkan, seringkali diusik tingkah menyakitkan dari orang yang seharusnya bersama-sama mengatasi beban yang ditimbulkan oleh ulahnya.
Kadang, sebagai sahabat, saya menjadi marah juga melihat orang yang telah menyakiti hati temanku ini, yang dengan ringannya berkesimpulan persoalan sudah selesai dengan kata maaf yang diucapkan.
Kata maaf itu digunakan untuk menuntut sahabatku untuk segera melupakan luka tanpa membantu mengobatinya, melarang mengungkit-ungkit masalah sementara perbuatannya seperti sengaja menjadi alat ”reminder”.
Tidakkah ia tahu memaafkan ternyata lebih sulit lagi dari meminta maaf. Tidakkah ia melihat perjuangan berat sahabatku mempertahankan perkawinannya setelah dihadang perselingkuhan. Tidak mampukah ia merasakan hancurnya hati sahabatku akibat kesalahan yang ia nyatakan sebagai khilaf, padahal 22 tahun sudah kedua hati mereka terpaut menjadi satu (dan ada doaku didalamnya, yang aku panjatkan dulu). Mengapa tidak terlihat upayanya untuk membantu sahabatku memulihkan diri dari penderitaannya. Apapun latar belakang kejadian ini, ia (suami sahabatku) tidak boleh mengabaikan hal ini.

Sudah bertahun kejadian ini berlangsung, sudah bertahun pula aku senantiasa memahami perasaan sahabatku dan sudah saatnyalah kini aku bicara.
Dulu ketika aku berusaha untuk membangkitkan pikiran rasional, menjadi orang di luar permasalahannya yang memberikan nasehat, sahabatku malah menangis, menilai aku tidak berempati, padahal bukan sekedar empati, aku bahkan larut dalam kemarahan yang sama besarnya dengan yang ia rasakan, marah pada orang yang aku hormati (suaminya itu), marah pada ia yang coba tegar dan berupaya memperbaiki diri habis-habisan, seolah-olah itu semua terjadi karena kesalahannya. Ia ingin menjadi orang bijaksana yang hatinya lapang, penderma maaf yang tanpa pamrih,bagi suaminya sementara kata-kata kasar dilontarkan bagi perusak, nggak rasional!! . Aku benci hal itu, saat itu!, aku tidak melihatnya sebagai kebaikan. Keinginanku, sahabatku mampu menjadi orang yang ekspresif, lampiaskan marah pada tempatnya, mengajaknya melihat kenyataan yang ada, tapi ternyata aku melukai perasaannya. Maaf.

Sahabat, sekarang saatnya aku bicara dan dengarkan! (liat, aku tetap tak menyebut Arie, namamu, betapapun aku ingin, spy terdengar akrab)

Memaafkan adalah suatu proses, dan kadang berjalannya lambat , tidak bisa total dalam sekejab, tidak perlu menjadi seperti dewa, bahkan setengahnya pun jangan. Menjadi dewasa dalam problematika hidup, silahkan.
Engkau tidak akan dinilai jahat karena belum mampu memaafkan. Luka psikologis memang sulit untuk totally cured.
Memaafkan, hasil akhir dari upaya mu selama ini, yang bahan bakunya adalah air mata, kepedihan dan kepasrahan, jangan dijadikan sebagai bentuk genjatan senjata dalam peperangan. Jadikan ia bagian dari perdamaian oo perdamaian.

Kalau kenangan buruk muncul dalam ingatan, dan menyebabkan dada sakit, paru-paru sesak dan tangan berkeringat banyak sehingga membuatmu menjadi depressed, jangan segan-segan menghubungi seseorang yang selalu akan menguatkan dan membantu memberikan advis medis, secara Aku khan dokter lho!!


Jakarta, 19 Januari 2009
Yoen utk best friend
In this note: Sri Rukmi Swandari (notes)

Tak ingin menyesal..

--- kali ini tentang papi----

Ya Allah….Jadi bertambah sedih setelah berbagi kesedihan. Dari penyesalan keluar lagi penyesalan. Proses menutup mata untuk melihat, semakin kentara bukan sesuatu yang mengada-ada. Penuh arti yang dalam yang harus sering-sering dilakukan.
Kita semua sudah tau kalau penyesalan selalu datang belakangan, dan sepakat bahwa tidak boleh menjadi hal yang hanya direnungkan tanpa menghasilkan perubahan. Kesalahan tak boleh berulang.

Kemarin dalam perjalanan ke rumah sakit, saat menyetir sendiri yang sebenarnya perlu konsentrasi penuh, pikiran justru pecah terbagi-bagi, dan tiba-tiba saja pandangan memudar karena air mata ringan menjadi selaput bening tipis yang menghalangi pandangan. Ingat kesedihan saat mami pergi. Tetapi yang terbayang justru Ayahku yang selama ini luput dari perhatian, beban hatinya terabaikan, sekalipun beliau kami kenal sebagai orang yang paling keras mengajarkan kebenaran, kehidupan yang penuh adab dan peraturan, dan menanamkan bahwa tak boleh berkata Ah pada orang tua (sehingga kami sering dikategorikan anak pelawan), pasti hatinya seperti kami juga (karena karakter kami semua,ternyata seratus persen dirinya). Bedanya, saat perasaan itu melanda, beliau sendirian di rumah, merenung dan merasakan sepinya kesepian, sedangkan anak-anaknya bisa komentar : ”lagi inget mami nih” dan kemudian ritual penghiburan dijalani, berkumpul di suatu tempat, sambil makan2 kami mengenang kelucuan mami yang senantiasa menghasilkan tawa. Terobati kerinduan pada mami dengan mengenangnya. Tetapi sungguh bukan karena kami tidak cinta beliau, lantas kemudian tak menyertakannya dalam kegiatan itu , dan lalu berbagai alasan dicari-cari sebagai pembenaran untuk meringankan beban perasaan bersalah .
”Papi gak kuat kale’... pergi-pergi gini...!!”
Padahal mestinya ada cara lain....

Tak ingin menyesal …….
Have I Told you lately that I love You

Sampai di rumah sakit, berpikir apa yang bisa aku lakukan, supaya kesedihan beliau dikumpulkan dan kemudian dibagi rata pada anak-anaknya, biar ringan, walaupun tak sekalipun beliau menunjukkan beratnya beban yang dirasakan dan tak satu juga kata yang dikeluarkan.
Ya Tuhan, aku ingin beliau tau bahwa kami menyayangnya, sekalipun belum pernah aku utarakan (entah yang lain). Tetapi apakah dia tahu dan menemukan adanya bukti itu.
Buatku, pernyataan kasih sayang darinya tak perlu dilafalkan, aku sudah dapat merasakan, sekalipun aku heran kok gak pernah mendengarnya tapi tidak membuatku menuntut beliau membuktikan, atau bahkan menyesalkan.
Kenangan membuktikan…

When I was just a little girl, baru tamat SD, aku pernah diajak beliau ke IBM, kantornya dulu, mengenalkan lingkungan keduanya setelah rumah. Dengan bangga aku diajaknya berkeliling, berkenalan dengan teman-teman dan staffnya, disuruhnya aku bersalaman pada semua orang, tentunya harus dengan senyuman, dan wajib mengalirkan kebersahabatan ke dalam genggaman tangan (itu diajarkannya).
“ Hmm ini yang namanya Yoen yang pinter itu ya?!” komentar mereka
(Maaf ini sengaja tidak di edit, karena memang seperti itu kenyataannya, tapi dulu sebenernya aku risih, ngapain sih papi….)
Dan yang membuatku semakin sadar (setelahnya) adalah kebanggannya terhadapku yang nakal (tapi pinter) adalah wujud nyata kasih nya. Piagam penghargaanku sebagai murid teladan terpajang di ruang kerjanya. Menimbulkan kegembiraan sendiri dalam hati
Cukup sudah, beliau sudah Fill my heart with gladness. Tak lagi perlu kata-kata “Papi bangga !”
(kalau sekarang aku sering mengucapkan pada anak-anakku bahwa aku sayang dan bangga pada mereka, itu lebih karena jaman telah berubah, katanya... cinta perlu diutarakan, bukan diselatankan, dan nampaknya perasaan tak terlalu peka lagi mungkin! Jadi memang harus dilafalkan, bukan dihafalkan)

Kenangan lain…. Ease my troubles, that's what you do.

Di saat keluarga tengah dirundung cobaan yang bener2 tidak ringan, ( maaf ya Del, waktu itu gara2 persoalan elo yang gak abis-abisnya), kami diharuskan menyisihkan waktu untuk membuka forum mencari jawaban, atas apa yang sedang terjadi.
Berbagai strategi dikaji detail, setiap masalah punya alternatif solusi, dibahas satu persatu, melelahkan memang, tapi demi kebaikan, cara ini memang pilihan, tidak boleh ada keterpaksaan untuk menyikapi perbedaan.
Perdebatan timbul karena yang satu tidak setuju pada yang lain, tetapi pertemuan selalu harus menghasilkan kesepakatan dan keputusan . Aku menyebutnya manajemen keluarga Casym
Tetapi terus terang, masalah datang dari semua anaknya, termasuk dariku, dan kami mendapat perlakuan yang sama dalam mencari penyelesaian.
Senantiasa ada jalan keluar darinya, beliau selalu menekankan untuk menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah. Persis pegadaian memang, tapi yah itulah.....ayah
Jadi sungguh tidak pantas kalau perhatian yang telah diberikan tak menuai balasan, dari kita tentunya, anak2nya. Bukan hanya sekedar doa, walaupun aku yakin buatnya, ini semua sudah cukup. Dari kita, itu sangat kurang....

Kenangan lain... take away all my sadness

Setahun yang lalu, disaat aku terbaring tak berdaya di rumah sakit karena panas yang tidak turun2 meski dengan berbagai macam antibiotik, aku melihat satu jalan luaaaass dan lengang, seperti seolah terbuka dan harus kutuju untuk mencapai awal dari sebuah akhir perjalanan. Aku menelponnya untuk meminta kekuatan, kulakukan dalam ketidak sadaran nampaknya. Tapi aku ingat persis apa yang aku ucapkan
”Pih.... tolong doa in un ya” dengan kesedihan yang dalam. Sedih untuk segala macam kesalahan dan kekurangan yang pernah kulakukan padanya
Aku sungguh tidak menyadari kehebohan yang ditimbulkan dari kalimat yang menurutku biasa-biasa saja sebagai permintaan anak pada ayahnya, apalagi beliau adalah orang yang taat dan senang beribadah. Aku tidak meminta pada ibuku, karena sakit beliau lebih parah lagi dariku.
Dan pertamakali dalam hidupku yang sudah berlangsung lebih dari 40 tahun, aku merasakan tangannya ada di kepalaku, membacakan salawat yang aku minta dibacakannya, matanya berkaca-kaca, mengiringi salawat dan doa yang keluar dari hatinya. Ya Allah....,begitu terasa dia sungguh sayang padaku
Perlahan.... tapi menakjubkan, panas mereda...
Jadi sekali lagi, aku tak perlu pembuktian....
Ayahku pantas mendapat balasan untuk segala yang telah dilakukan untuk anak-anaknya.

Tak ingin menyesal....
Harus ada yang kami lakukan untuknya

Tadi pagi, adikku mengomentari note yang aku tuliskan, dan aku menangis karenanya

We should give thanks and pray, dengan kata-kata, dengan sikap, dengan laku, dengan bukti fisik , dengan segala yang mungkin dilakukan oleh seluruh anggota tubuh kita.
Mari.....
Temani kesendiriannya dalam bentuk nyata, selagi bisa,
Bahagiakan sisa hidupnya.
Sisihkan waktu untuk mengunjunginya,
Rasakan keluhan dan penuhi keinginan yang tak terucapkan
Lengkapi haknya .
Bersama.....

Have I told you lately that I love you?
Have I told you there's no one else above you?
Fill my heart with gladness, take away all my sadness,
Ease my troubles, that's what you do.

Perjalanan...

**Ditulis untuk teman yang sedang bimbang**

Dunia ini panggung sandiwara......
(termasuk cerita cintanya)

" Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah sendagurau, permainan dan perhiasan" (Q.s. Al-Hadid : 20)



Perjalanan yang tengah engkau lalui itu bukan tanpa arah, rambu yang dapat memandu untuk sampai tujuan bukan tidak pula terpasang, tetapi matamu dengan sengaja mengabaikan semua dan membiarkan langkah membawa diri sesat di dalam jalan yang diketahui akan berakhir pada penyesalan.
Sejak awal, saat kaki dipijakkan pada jalan yang hanya bercabang dua, telah pula diketahui akhir dari perjalanan yang sementara. Tidak ada abu-abu yang akan menjadi pilihan. Begitu jelas digambarkan sehingga tidak seharusnya mata yang belum kehilangan fungsi tidak dapat menangkap, yang tersirat sekalipun. Tetapi tidak seperti yang semestinya yang terjadi. Pilihan memang tidak banyak, risiko yang dihadapi juga jelas, namun keterbatasan manusia dijadikan tempat bersembunyi.
Ketidak berdayaan menghadapi godaan dijadikan satu sifat manusia yang harus dapat ditolerir, tanpa perlu berusaha untuk mengatasinya, dengan do’a misalnya.

Sementara, sesungguhnya diri telah dibekali dengan berbagai macam kemampuan, melihat sesuatu yang tak terlihat dengan mata dengan menggunakan mata bathin yang lebih peka, atau mendengar lamat-lamat meski sumber suara jauh dari telinga, asal tak kita nafikan. Kau biarkan hidupmu dihanyutkan mimpi berbingkai mimpi, jauh dari alam realita, kaki tak menapak bumi, rasa tak lagi menyentuh indera. Semua engkau biarkan berjalan seolah seperti itulah ritme yang semestinya bergulir mengikuti keinginan egoisme yang melenakan.
Melangkah di angkasa memang terasa lebih ringan, tak perlu daya untuk menghasilkan gerak, sementara kenyataan tetap mengisyaratkan bahwa gravitasi akan menyebabkan sesuatu yang bermasa jatuh karena hukumnya, namun hati tetap besikukuh mendustakan.

Engkau senantiasa mengatakan bahwa dunia cinta yang sedang engkau layari adalah yang terindah dan tak bercela. Padahal cinta yang sebenarnya tidak akan menyengsarakan manusia. Ia menyuguhkan sesuatu yang dapat dirasa, dicerna dan diterima, tidak hanya oleh mereka yang tengah diberkahi nikmatnya, tetapi juga bagi mereka yang masih memiliki hati yang bernurani.
Masihkah dapat disebut cinta yang membahagiakan kalau itu menimbulkan luka dan airmata, memang tidak untukmu tapi bagi mereka yang sangat menyayangmu, yang berharap cinta yang akan membawamu bahagia adalah cinta yang berasal dari cinta yang diridhoiNYA.
Adakah masih dirasa bahagia, bila terlihat jauh dimatamu tak ada binar dan ketentraman yang melegakan. Lantas dimanakah letaknya makna bahagianya hidup yang engkau gaungkan terus,bila hanya ada dalam mimpi yang akan segera menghilang bila mata kembali terbuka. Dan dimana letaknya nikmat melayang di awang kalau kemudian menimbulkan sakit dan memar saat kembali ke dunia nyata, saat kaki berpijak di tanah dan langit berada di atas kepala.

Sampai kapankah diri akan membiarkan segalanya berjalan hanya mengikuti hasrat, sementara waktu bukanlah milik kita.

Tidakkah disadari ada akhir yang harus menjadi pilihan awal?? Sungguh, ini adalah permohonan : “Jangan abaikan apa yang terasa di lubuk hati, karena ia adalah kebenaran yang hakiki, yang akarnya sudah jauh lama ditanamkan”

Jalan yang engkau lalui bersamanya ini, bukanlah jalan segaris lurus yang akan berakhir di satu titik pasti yang sama, dia adalah Y line. Engkau harus memutuskan pilihan karena langkah telah membawamu pada titik dimana pilihan harus ditetapkan. Engkau tidak akan mampu terus bergandengan untuk selalu bersisian tanpa adanya pengorbanan, tidak bisa ia di kiri sementara engkau akan bertahan di kanan, karena space akan semakin melebar mengikuti jauhnya kaki diayunkan, dan hidup tak mungkin diam sebelum sampai waktu yang dijanjikan.
Disinilah cintamu pada NYA diuji.

Perjalanan ini bukan tanpa tujuan....
Engkau harus yakin, bahwa saat genggamannya engkau lepaskan, sama sekali tidak ada cinta yang hilang, CINTA telah engkau pertahankan, tidak ada rasa sayang yang engkau buang karena begitu banyak sayang yang Maha Penyayang limpahkan.
Jadi tersenyumlah....



Sesuai pesanan.
Jakarta, 29 Januari 2008

Anakku guruku...

Sebuah pengalaman sekalipun memalukan untuk ditulis dan diceritakan, tetap mempunyai makna pengetahuan yang layak disampaikan dan mungkin akan bermanfaat bagi mereka yang membaca kisahnya atau yang mendengarkan ceritanya, khususnya terutama untuk aku, sang penutur.

Dan ini adalah pengalamanku itu…..

Sama sekali tidak dimaksudkan bahwa acara jalan-jalan bersama anakku akan diakhiri dengan sebuah pertengkaran, hanya karena berbeda dalam memandang persoalan. Sebenarnya perbedaan tersebut hanya seukuran potongan daging yang akan kami santap, kecil…. tapi menjadi besar karena egoku sebagai orang tua

“Nin, steak Uni jangan dicoel-coel dulu deh, kt berdua aja makannya”
“emangnya knapa Ma?” Anakku bertanya karena dia pasti bingung, karena jumlah porsi yang diantarkan sesuai dengan jumlah pesanan, kenapa harus makan berdua, begitu mungkin pikirnya
“Takut gak abis, kita kan udah kenyang duluan makan kerupuk dan emping, ditambah air jeruk”
Anakku tidak menjawab iya, dan tidak juga bilang tidak, dia hanya diam sambil menggeser piringnya ke arahku. Tapi sok taunya aku, aku seolah paranormal yang yang merasa mampu membaca pikirannya, dan langsung bertanya dengan suara yang sudah mulai meningkat nadanya
“Emangnya uni yakin abis ?”
“ Uni belum tentu abis dan belum tentu gak abis juga Ma!”

Singkat cerita percakapan diatas dilanjutkan dan aku menjadi marah. Dan dari kemarahan keluarlah berkalimat-kalimat kata yang isinya menyakitkan hati anakku, buktinya dalam diam, airmatanya menyampaikan itu. Aku memandangnya sebagai sikap melawan dalam hati, dan karena aku tidak mau kata-kataku berlanjut memojokkan ketidakberdayaannya, maka aku segera pergi menjauh darinya. Aku tinggalkan dia tanpa memikirkan mampukah ia menahan isak di tengah keramaian sedangkan hatinya halus.

(Simak dengan seksama, dimana sebenarnya letak sumber masalah yang bisa bikin aku menusuk hatinya dengan kata-kata yang tidak tanggung-tanggung tajamnya?... BETUL… tidak ada seharusnya!)
Tapi begitulah orang tua (aku)….seringkali menjadi tidak bisa menahan amarah dalam menghadapi anak, dan menghukum juga tidak kira-kira

Pelajaran pertama “FIRST DO NO HARM”
(Mengutip Prinsip Hippocrates, yang sekarang ini sedang menjadi issu global di pelayanan Kesehatan, PATIENT SAFETY)


Menghukum anak atas kesalahan yang dia lakukan adalah bagian dari mempersiapkan dirinya menjadi makhluk dewasa yang bertanggung jawab, prinsipnya jangan merusak, baik hati maupun fisiknya apalagi sampai meninggalkan bekas yang mungkin membuatnya akan kembali merasakan sakit yang sama padahal sumbernya telah lama sirna, meninggalkan dendam.
Perhatikan kata-kata yang kita gunakan, karena ternyata kata-kata mempunyai kemampuan yang luar biasa , dia bisa memompa semangat, dan memotivasi anak menjadi baik, tetap dia juga bisa merusak dan menggalkan kerusakan menetap sebagai cacat psikologis.


Menghadapi perilaku anak yang kadang tidak sesuai dengan apa yang kita tuntut padanya memang seringkali membuat hati menjadi kesal dan berbuntut menjadi marah, sekalipun kita berdalih demi kebaikan, memarahi anak tetap ada aturannya. Ingatlah yang menjadi tujuan adalah mendidiknya, bukan mempermalukannya.

Allah telah memfirmankan mengenai hal ini dalam surat Adh Dhuha :9
”Dan kepada anak kecil, janganlah engkau membentaknya”


Pelajaran Kedua : SABAR

Betapa memang tidak mudah, menyikapi perilaku anak yang adakalanya seperti sengaja sedang menggoda, sejauh mana kita sebagai orang tua mampu bersabar menghadapinya.

Ada kalimat Allah yang tercantum dalam Alqur’an surat At Taghabun : 14, isinya demikian :

” Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”


Dan Nabi Shalallahu Alaihi wa Salam juga pernah bersabda :

” Barang siapa menahan amarahnya, dan ia mampu melakukannya, maka Allah akan menyerunya di hadapan seluruh makhluk pada Hari Kiamat dan memberikan kebebasan memiliki bidadari mana yang ia suka ”

(HR At-Tirmidzi).

Bersabar adalah hal yang tidak aku maksimalkan saat kemarin berbeda pandang dengan anakku, hasilnya dia tersakiti dan saya juga tidak merasa bahagia. Ada beban yang tiba-tiba menghimpit dada dan terasa panas, mengapa saya berlaku seperti itu padanya.
Waktu kemudian mencairkan hati yang semula terbakar, dan Anakku telah pula meminta maaf (walaupun via HP)
”Maafin Uni ya Ma!”
” Ya.... tolong dong, Uni jangan sering-sering bikin Mama marah”
” Mama juga, kalau marah jangan suka pake kata yang nyakitin dong”
Ah.... tetap saja, kami memang selalu berdebat berdua.

Malam ketika akan tidur, kepalanya ada di lenganku, dan aku berkata ;
”Uni tau khan, mama sayaaaaanng banget sama Uni” sambil mencium keningnya yang mungil.
”Maafin mama ya”
”hemmm....” sekali ini kelihatan kalau dia yang gengsi.

Anak2ku memang lebih pintar dariku, dia sumber yang tak habis-habisnya menjadi inspirasiku untuk belajar dan belajar agar menjadi orang tua yang pas buat mereka.

Catatan :
Pengetahuan yang aku tularkan sekarang berasal dari buku-buku yang dihadiahkannya untukku bertahun-tahun yang lalu.
Ada banyak yang dia belikan , dua diantaranya adalah

  1. 20 Kesalahan Dalam Mendidik Anak.

  2. Antara Orang Tua dan Anak




Diangkat dari kejadian sebenarnya
Jakarta, 29 Januari 2009
Putri Yoen Aulina

Perempuan

Katanya, kalau masalah menjadi urusan perempuan, maka sgalanya akan berkembang menjadi rumit. Karena menurut mereka yang beranggapan demikian, perempuan kalo mikir pake’ perasaan.
Apa iya? Kok kaya’nya ada kesan negatif yang tersirat dibalik kalimat itu.

Aku malah mikir sebaliknya. Justru kalo mikir pake ”perasaan” (hati maksudnya. *walaupun aku tahu yang sebetulnyanya melakukan tugas ini adalah otak*) hasilnya justru akan lebih hati-hati, lebih empati dan lebih menenggang. Sebab pasalnya adalah tidak mau mencetuskan sesuatu yang kita sendiri tidak mau kalau harus mengalami. Mikir pake hati lebih aman hasilnya, otak (rasio) memproses segalanya menjadi bulat dan hati menyempurnakan.

Kita mungkin akan kemudian menjadi sangat berbeda pendapat mengenai hal ini, tapi baiknya sebelum memulai perdebatan samakan persepsi pada apa yang dimaksud dengan hati atau perasaan.
Hati yang kita maksudkan, bukan organ yang terdapat di rongga perut sebelah kanan atas dibawah tulang rusuk, tetapi sesuatu (organ atau bukan ya?) yang letaknya di rongga dada, tapi kita sering menyebutnya hati. (buktinya : kalau ada orang yang tersakiti perasaannya, maka biasanya ia akan mengatakan ini : ”sakiiiiitt banget hati gue” sambil menepuk2 bagian tengah dadanya.)
Dan karena pernah merasakan aku kasih tau bahwa rasa yang ditimbulkannya memang persis di bagian itu, seperti disayat?, diiris? ditusuk? Gak ngerti, tapi memang disitu sensasi yang menyakitkan terasa)

Kembali ke topik
Mengambil contoh kasus sahabat

Disaat dia menceritakan masalah yang tengah dihadapi, yang dia bilang hampir gak sanggup ditanggungnya (perselingkuhan suami tercinta), dia bertanya via hape ” Apa dong yoen yang harus gw buat?” tanya dia tanpa air mata
Lantas saat itu aku memberikan segudang jawaban yang dihasilkan dari proses berpikir yang melibatkan logika-logika rasional.
Bahwa perselingkuhan tidak mungkin disebabkan oleh satu pelaku...
bahwa perempuan yang menjadi obyek perselingkuhan suaminya adalah juga korban yang sama seperti temanku itu...
bahwa ini…. bahwa itu….bahwa blablabla…. yang didalamnya ada pembenaranku pada kelakuan perempuan yang berkelakukan tidak benar menurutnya (dan menurutku juga,sejujurnya).
Jadi gak seharusnya menyalahkan orang itu seratus persen. (*sok tau* red)

Dan terciptalah airmata temanku dan mengalir lewat salurannya secara deras, tak terbendung lagi... HU...HU...HU....HU ada lebih 10 menit terdengar karna dia gak sanggup mematikan hape, setelah dia mendengar jawabanku.
(dan aku terdiam? Lantas secara gak sengaja mikir pake perasaan, ada empati berperan disitu)

Begini pikiranku waktu itu :

Coba aku di posisi sahabatku itu, tiba2 sadar ada kenyataan perselingkuhan yang nyata di depan mata dan bukan sekedar prasangka. Kira-kira aku akan merasa apa ya?
Reaksi yang timbul dari berandai-andai ternyata sama persis dengan kejadian sebenarnya yang sedang dialami sahabatku.
Kalo aku mengeluarkan pendapat seperti yang aku lontarkan pada dia waktu minta sedikit advis dari ku, apa yang akan aku lakukan ya?
(TUTUP TELPON, sebell dan bilang Sia***Bip*!, dan kapok gak bakal nanya2 dia lagi, sumpah!!. *lebih ekstrim khan?*)

Jadi seharusnya, jangan sekedar rasional, cari pembenaran baik tidaknya di dalam rongga dada yang terdalam.

Ah jadi bingung.....karena aku ngomong sekedar bedasarkan asumsi, tapi sedang mencari referensi (wujud tanggung jawab atas apa yang aku ucapkan), Apa benar, apa salah?

Apa iya kalo perempuan selalu bikin rumit masalah, karena mikir pake ”perasaan?


Aku SERATUS PERSEN kagak setuju!

Catatan:
Rie.... Maaf ya, dulu gw sok tau!!



5 Februari 2009
Menyelinap sebentar dari ruang training
karena tiba2 pengen nulis

Bersahabat sampai akhir..

*Selalu ada pesanan dari sahabatku,
tulis tentang ini dong.....
atau tulis mengenai itulah!.......*


Dan kali ini teman satu ini minta aku menulis tentang Imam, sahabat kami yang telah almarhum beberapa tahun yang lalu. Dan aku cuma menjawab:
“Iya, nanti gw buat….” tapi dalam hati ada kalimat terusannya, yang membuat sampai saat ini aku belum bisa-bisa bikin tulisan itu. Dan seperti biasa, karana bakat tukang kredit yang ada dalam diri kawanku itu, hampir setiap hari aku ditagih
“ Mana dong Yoen?
“ Aduh Ri…. Kalo nulis tentang Imam, knapa gw kehilangan ide ya, butek!”, sambil nyari alasan untuk menjawab pertanyaan lanjutannya. Sebelum dia nanya, aku udah jawab :
“itu buat kenangan sendiri aja deh. (Sendiri maksudnya kelompok : Yoen , Arie dan Lucy)”
Supaya bujukannya berhasil, banyak ide dan cara berlompatan di benaknya yang dia lemparkan ke gw dan salah satu sarannya adalah dia menganjurkan supaya aku menyamarkan Imam dan kami, supaya gak ada yang tau kalo itu tentang gw, tentang Imam dan tentang Lucy juga sang sahabatku.
“Tapi nanti jadi gak kena tujuannya lagi” pikirku, pasti akan jadi seperti cerita yang sekedar lahir dari imajinasi, padahal persahabatan yang mau dilukiskan ini benar2 ada.
Akhirnya keputusan dibuat, tentang Imam jadi catatan (notes).... (Anggap aja ini sebagai salah satu cara mengenang almarhum).

Alkisah, kira-kira beberapa tahun sebelum kami mendapat kabar Imam sakit, gw mimpi tentang Imam yang sudah sejak tahun 81 gak pernah sua. Karena aneh menurut pikiranku (knapa aku tiba2 mimpiin dia), maka aku mulai hunting berita mengenainya, dan alhamdulillah aku berhasil kontak dengan Imam dan gw ceritain kronologisnya sampe gw bisa ngobrol lagi setelah sekian lama.
“iya nih yoen, aku lagi sakit, tapi udah berobat sih.........”
Setelah itu, aku dan dia (ky judul lagu) tetep berkomunikasi sesekali aja, sampe akhirnya komunikasi terputus lagi dan aku kehilangan kontak yang kedua kalinya.
Ada sekitar lebih kurang 6 bulanan lah kami gak telpon2an (*wuiii....sampe detail gitu ingetnya...red*)), tiba-tiba dia menghubungi aku untuk minta bantuan. Sayangnya, (dengan berbagai analisa sebelumnya) aku jadi punya kesimpulan negatif sehingga aku gak kasih bantuan yang dia perlukan saat itu. (secara menurutku gak mungkinlah kata-kata itu keluar dari mulutnya.......)
Dan entah apakah karena itu, Imam menghilang lagi cukup lama, dan akupun gak berusaha untuk coba menghubunginya.
Kabar tentang Imam kemudian datang lagi, tapi isinya berita sedih. Teman SMA (sebut saja Asih) mengirimkan pesan singkat, tentang temanku yang sedang menjalani pengobatan dan radioterapi di Singapura, mengalami musibah ganda. Anak sulungnya yang seusia sulungku meninggal dunia karena sakit, saat merawat papanya di sana.
Inalillahi wa inailaihi rojiun...

(penyesalan pertama muncul.... jangan2 wkt dulu dia minta bantuan, kondisinya memang lagi bener2 kepepet, kenapa aku gak bantu ya?)

Akhirnya.. Imam melanjutkan pengobatan disini, di Jakarta, secara medis, alternatif dan segala upaya yang bisa ia dan keluarganya lakukan.
Informasi mengenai kondisi teman sma yang tengah sakit dan sedang ditimpa berbagai macam cobaan (ibunya juga sakit berat saat itu dan dirawat bersebrangan kamar), kami sebarkan pada semua teman sekelas masa SMA, dan penghiburan dari teman-teman, sedikitnya menambah besar semangat hidupnya (reuni yang seperti ini yg seharusnya kita lakukan, bener gak?).
Kondisi psikisnya mulai membaik, walaupun penyakitnya terus berkembang secara progresif yang membuatnya kemudian harus menjalani perawatan di RS. Dan mulailah persahabatan kami berperan dan secara gak sengaja membuat Imam secara psikologis tergantung pada kami bertiga. Kami harus selalu muncul di kamarnya setiap hari, sekedar mendengarkan dia ngomong (walaupun sering kita potong dengan ucapan ”udah deh istirahat aja”.., atau malah hanya melihat dia tertidur tanpa melakukan apa-apa, datang sendiri-sendiri dan ada jadwal ketiga-tiganya muncul secara bersamaan.

(eh terus terang lho ....keluarganya, teman2 istrinya, kakak2nya sampai bingung, sbenernya siapa sih kami bertiga ini?, tapi kita tetep aja hadir dari waktu ke waktu, menemani dia)

Disaat Imam merasa syak pada ketetapan Allah, kami harus mampu meluruskannya, menenangkan kegelisahannya dan membantunya sedikit demi sedikit ikhlas menghadapi hal itu, membawakan bacaan-bacaan yang dapat mempertebal keimanan dan bersama-sama dalam khidmat membaca doa . Dia menangis kamipun jadi ikut menitikkan air mata (apalagi Arie...huhuhu...suara itu keluar tanpa malu2, aku tak terlalu kentara reaksinya bukan karena lebih tegar, tapi jaim, dan Lucy cuma diam tapi diam-diam melakukan gerakan menghapus air mata disaat kami lengah).
Lucy, aku dan Arie, jadi bisa merawat dia seperti layaknya suster, bahkan beberapa kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh perawat disana, seperti pasang infus dan memberi obat bisa beralih ke aku (dan untung aja aku bisa, tentu aja setelah ada izin dari direktur RS yang kebetulan adalah oomnya)
Kadang2 adakalanya seperti tidak berperasaan kegiatan yang kami lakukan, bercanda dan tertawa ditengah kesakitannya, tapi Demi Allah, saat itu kami hanya ingin semata-mata menghiburnya.
Kegiatan rutin berlangsung cukup lama. Bisa aja disaat kami sedang bekerja, ada telpon dari Sam yang bilang begini :
”bu Yoen.... pak Imam kesakitan terus...”, dan biasanya reaksi spontan yang timbul adalah salah satu dari kami meluncur ke RS, bisa Lucy, bisa Arie dan bisa juga aku ( tapi yang paling sering adalah......??)

Masa-masa menyedihkan berlangsung cukup lama namun doa dan kunjungan dari teman2 SMA mengalir terus, rasanya hampir tidak ada kata lelah (bahkan rasa lelah yang sebenarnya) untuk sahabat kami itu.
Hari-hari terakhir kehidupannya, Imam minta pulang ke rumah, ingin berkumpul dengan keluarganya. Tapi di rumah kondisinya semakin menurun, makan susah, bergerak apalagi sehingga kami memutuskan memanggil perawat untuk home care. Gw,Arie dan Lucy sibuk, karena peralatan yang diperlukan untuk perawatan di rumah kan belum tersedia. Ah untungnya perawat temanku itu rumahnya gak terlalu jauh dari rumah Imam, sehingga aku bisa minta tolong dia untuk memonitor kondisi Imam.
Sehari sebelum Imam pergi,aku dan Arie di rumahnya, saat itu entah karena apa, kami berdua, dengan dibantu oleh kakak istrinya, membongkar kamar Imam, menggeser tempat tidur dan merubah posisinya menghadap kiblat, menyiapkan sajadah, dan memanggil Akbar untuk menemani ayahnya. Dan Akbar membisikkan kalimat tauhid serta berulang2 membacakan Al Fatihah utk sang papa.
Imam masih sanggup bicara, kata terakhir yang dia ucapkan adalah :
"Yoen, udah malem...kamu pulang deh" Walaupun heran, kenapa dia tiba-tiba minta kami pulang, akhirnya aku dan Arie memang pulang, dan Lucy yang datang menggantikan. Dari Lucy kami dapat khabar kondisi Imam semakin memburuk.

Semua orang yang terkait dengan Imam secara pribadi ataupun terhubung karena kondisi penyakitnya senantiasa berupaya mencari jalan terbaik untuk dia, keluarga dan teman berdoa, dokter dan perawat telah melakukan upaya sesuai dengan keilmuannya, namun pilihan yang terbaik untuknya adalah yang berasal dari sang Khalik.
Sudah saatnya ia kembali kepada sang Pencipta.
Innalillahi wa inailaihi rojiuun...


Kepergian almarhum kembali pada NYA diantar oleh hampir sebagian teman sekelasnya di SMA.

Sedih karena kehilangan teman.....
lega karena akhirnya dia terlepas dari rasa sakit yang tak tertahankan ....
menjadikan doa dan airmata
bercampur semerbaknya air mawar dan bunga
di tanah merah pemakaman ....
dalam keikhlasan.....



catatan:

  • tulisan ini sudah direvisi, dengan cerita tambahan dari Arie

  • * Rie.... gw udah gak punya utang lagi khan, gw cuma mampu bayar segini!

  • Membantu mengenang Imam Suwardjo,klo gak salah smp 4, sma pasti 1

Minggu, 15 Februari 2009

Mama adalah Ibu Tergalak di Dunia

Kalau ada kontes pemilihan Ibu Tergalak di Dunia, seperti pemilihan Miss Universe, pasti kedua anakku akan dengan semangat mengisi formulir yang kemudian dilengkapi dengan foto terbaruku, untuk disertakan dalam pemilihan tersebut. Dan mereka sangat yakin, kalau aku, ibunya, akan menyabet predikat itu dengan mudah, bahkan sekaligus menjadi pilihan favorit pembaca.
Mereka berdua tidak akan kesulitan menuliskan karya tulis mengenai prestasi galakku yang tidak mungkin tertandingi oleh ibu lain (menurut mereka). Mereka, anak-anakku itu akan sangat kompak dalam hal ini, saling mengisi, memberi informasi untuk menyelesaikan karangannya, padahalk untuk urusan lain, mereka harus saling bertengkar terlebih dulu untuk mencapai kesepakatan.
Dan hebatnya (mungkin diluar dugaan orang lain), aku dengan bangga akan membubuhkan tandatangan pada formulir dan hasil tulisan mereka sebagai tanda tidak keberatan diikut sertakan dalam kontes itu, dan kemudian mengirimkannya ke panitia (biaya kirim aku yang tanggung)

Aku, seorang ibu menjelang usia 40 tahun, punya sepasang anak baik yang menjadi kebanggaan.
Anak pertamaku, gadis kecil yang mulai beranjak memasuki usia ABG, yang suka baju bate’ dan gak mau punya gebetan sebelum selesai kuliah. Postur tubuhnya tinggi besar seukuran rata2 anak SMA, padahal ia baru kelas 1 SMP, dua belas tahun belum cukup umurnya. Aku selalu mengagumi seluruh komposisi fisik yang demikian serasi (yang Tuhan berikan untuknya), dengan diam-diam dan bahkan secara terus terang
”Kamu cantik” sering aku katakan begitu dan itu menurutku bukan suatu dusta. Alis matanya hitam lebat berbaris tegas diatas kelopak mata yang cekung indah. Sinar yang memancar dari kedua bulan hitam didalamnya persis seperti kejora atau bintang malam, terang berbinar, klop sekali dengan hidung, mulut serta lesung pipit samar yang ia miliki. Kerlip cahaya yang keluar dari matanya akan semakin jelas manakala ia membelalakkan mata ke arahku, menatap mantap ke arah dua bulatan kecil yang juga ada di mataku, saat kami ada dalam suatu pertengkaran mengenai sesuatu yang menurutku harus ia kerjakan dan ternyata ia lalaikan, bukan karena lupa.

Aku memang selalu marah mengenai disiplin belajar dan dalam hal menyiapkan dirinya selalu dalam posisi siaga, sehingga senantiasa siap sekalipun ulangan dilakukan tiba-tiba dan ia tidak perlu stress yang bisa membuatnya bolak-balik ke WC karena perut mules, atau uang sakunya habis buat beli tissue untuk menghapus keringat berlebihan dari telapak tangannya
Ia selalu mendebatku dalam hal ini.
Aku tau ia anak yang cerdas. Kecerdasannya sudah ia buktikan lewat kemampuannya menyelesaikan masa belajar SD dalam waktu 5 tahun dan sekarangpun ia ada dalam kelompok siswa yang diberi kesempatan menyelesaikan SMP 1 tahun lebih cepat dari siswa lainnya. Dia punya dasar untuk mendebatku, sementara aku memandangnya dengan menggunakan kacamata seorang ibu; Bahwa kesempatan harus bisa ia sikapi dengan tanggung jawab, usaha yang lebih besar, belajar lebih rajin, berlatih lebih sering dan membaca berulang kali. Tetapi menurutnya tidak perlu begitu! Walaupun belum 12 tahun dia bisa menjawabku (tapi bukan kurang ajar, bagiku) begini:
”Mama tau gak sih, kalau mama terus maksain anaknya belajar terus, anak bisa stress lagi, cape’ tau’ Ma, sekolah jam 7 sampe jam 4 sore”
Alasan itu betul adanya tapi argumentasinya tidak menjawab keinginanku. Kata-kataku adalah instruksi yang harus ia patuhi (untuk sementara ini, membangun disiplin diri).
Berbagai alasan melatarbelakangi hal itu, bukan karena aku ingin menjadi ibu yang bangga dan disalami oleh orang tua teman-temannya sambil menerima ucapan :”selamat ya Yoen, Putri juara” (bukan untuk Putri, hah!! Ini kan salah alamat)

Aku juga bukan ibu yang tidak takut pada apa yang ia takutkan, aku tetap menginginkan ia punya kesempatan berkembang seperti anak2 seusianya, yang sesekali jalan ke Mall dengan teman2nya walaupun dengan beban lebih besar yang ia terima (Ia menerima itu karena dinilai mampu). Dan menurutku, caranya adalah disiplin dan mampu beradaptasi dengan tugas-tugas yang harus ia kerjakan. Beban yang ia terima harus bisa diubahnya menjadi sesuatu yang ia butuhkan yang pas dengan kapasitas yang ia miliki, sehingga anugrah tidak menjadi sia-sia, ia bertanggung jawab padaNYA, itulah yang ingin aku tanamkan dan ia pahami, ia tidak berbeda dari yang lain, sebagai pelajar punya kewajiban belajar, jadwal rutin dengan jumlah menit yang sama. (kalau ia mendapatkan lebih banyak, itu namanya karunia)
Aku janji, dia tidak akan kehilangan masa ceria di dunia ABG, kehidupannya tidak akan berjalan tidak normal, dengan kemampuannya ia tidak akan stress, kan aku tetap disampingnya.
Karena bertengkar, maka kata-kataku keluar dengan suara yang meninggi, ia tidak bisa merasakan getar sayang didalmnya (padahal, itu sungguh ada!) dan dia akan berlalu juga ke meja belajar sambil bersungut-sungut, kaki dihentakkan seperti seorang kapiten, gerutuannya ” ugh.... jadi ibu galak banget sih!!” sengaja tidak mau ku dengar.
Suatu saat ia pasti akan meniru habis caraku dalam mendidik anaknya kelak (seperti aku sekarang,meniru ibuku)

Yang nomor dua, laki-laki, tinggi, kurus (karena sulit makan, ini sumber kegalakkanku juga), tapi jalannya tegap, gagah. Tidak heran karena sejak kelas 1 ia sudah ikut silat dan pernah menjadi pendekar terbaik untuk kategori seusianya. Seperti kakaknya, matanya juga tegas menggambarkan keteguhan, tapi sinarnya lebih lembut dan banyak kasih yang keluar dari pancarannya. Sekalipun sering bertengkar, ia sangat menyayang kakak perempuannya dan bercita-cita menjadi pelindungnya.
Ia juga akan sepakat (dan pasti mereka akan ber high five di belakangku) mengatakan aku galak dan pantas dinobatkan sebagai ”the best”, apalagi jika bersinggungan dengan hobby nonton dan main play station yang tak kenal waktu.

Di pagi hari libur, begitu mata terbuka, kaki langsung melangkah menuju TV dan kemudian menjadi serius di depan kotak bergambar itu, tidak terusik oleh kewajiban yang harus ia kerjakan lebih dulu, shalat subuh dan mandi pagi.
Tentu saja, aku sebagai ibunya, melengkapi hari liburnya tersebut dengan nyanyian irama keras, mengomentari kebiasaan yang aku pandang jelek dan merugikan.
Keasikannya, sendiri di depan tv (yang dibelikan khusus oleh papanya untuk main PS. Oiya papanya akan diikut sertakan dalam kontes Ayah Terbaik) akan membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang sulit bersosialisasi. Tidak perlu tunggu nanti untuk membuktikannya, sekarang pun ia sudah bisa menjawab dengan tak acuh :”Nggak ah, iki di rumah aja” kalau aku mengajaknya pergi. Ditakut-takuti akan ditinggal sendirianpun ia tak gentar, tidak membuatnya menolehkan kepala, apalagi membuatnya bergegas minta ikut. Ia terus saja asyik tanpa menyadari kesulitan apa yang akan ia temui kalau ditinggal sendirian di rumah, ia kan baru anak sembilan tahun.

Aku tidak mau ia menghabiskan waktu luangnya dengan menjadi anak yang asyik sendiri dalam dunia yang ia bangun lewat PS, tidak peduli sekitar dan secara tidak sadar membiarkan diri menjadi pribadi egois, karena merasa fungsi kontrol ada dalam genggamnya (di kedua ibu jarinya).
Kalau aku tidak mencegah dan membatasi hal itu, sama saja dengan mendukungnya mutlak, apalagi dengan fasilitas yang orangtuanya sediakan.
Aku tidak seratus persen melarangnya bermain mainan yang semakin menjamur dan berjangkit di seluruh negeri, sehingga kemudian ia menjadi kuper lantas dikucilkan teman-temannya karena gak gaul. (jangan-jangan kalau ditanya apa itu PS, jawabannya Plasa senayan lagi! Waduh!)
Yang aku harap adalah ia mampu membuat skala prioritas menurut versi anak 9 tahun (bagi waktu). Hari libur boleh saja menjadi saat-saat bebas dari urusan sekolah selagi seluruh tugas telah dirampungkan, tetapi bukan berarti ia boleh menghabiskan waktu berjam jam di depan tv. Itu bukan kewajibannya, dan tidak dosa jika ditinggalkan.
”khan refreshing Ma...., masa gak boleh sih?” (hebat ya, dia bisa menggunakan istilah itu) jawabnya setiap aku larang.

Betul sih apa yang dia ucapkan, walaupun sembilan tahun dia perlu juga refreshing, sayang sekali ibunya adalah aku, yang punya sederetan kegiatan yang bisa ia lakukan sebagai cara refreshing, mulai dari membereskan kamar sendiri (yang tidak pernah ia lakukan kalau ia sekolah), menyusun jajaran buku di meja belajar, merapikan koleksi mainan dan membersihkannya, membaca buku cerita, yang kesemuanya itu menurutku juga bisa menimbulkan keasyikan tesendiri dan tentunya jauh lebih bermanfaat sebagai bekal menjadi pribadi mandiri, atau bercengkrama dengan ku guna memanfaatkan waktu bersama yang tidak banyak kita miliki.
Dan sudah pasti usulan-usulanku tidak disepakati olehnya, bahkan kakaknya. Kalau sudah begitu suaraku akan naik satu oktav lebih tinggi, melengking memekakkan telinga, berlomba keras dengan suara suara sanggahan dan ketidaksetujuannya terhadap gagasanku, kemudian suara kerasnya akan berkurang intensitasnya (bukan karena berubah setuju), digantikan dengan tangisan kecil tapi banyak air mata (beda dengan kakaknya yang suka menangis sambil berkata-kata).
Persis seperti kakaknya, ia pun akan menggerutu dan gerutuannya sebenarnya sangat menusuk hati :”Ugh... gak enak kalo ada Mama”

Hatiku sejujurnya sedih mendengar ungkapan itu, tapi aku harus mengerti ia belum mampu menangkap makna kasih sayang dan perlindungan dalam setiap laranganku, sungguh itu tidak apa-apa. Waktu akan membuktikan bahwa kalimat gerutuannya salah dan kurang satu kata.
Nanti ia akan berkata ” Ugh.... gak enak kalo Gak ada Mama” Aku yakin itu.

Oiya mengenai kontes itu, kapan ya akan diselenggarakannya? Kalau aku terpilih nanti, karena anak-anakku menunjukkan bukti-bukti kegalakkan yang membuat juri geleng-geleng kepala (karena aku memang galak dalam semua hal), dan akhirnya menobatkanku sebagai pemenangnya, aku tidak akan pernah malu dan marah pada mereka.
Kalau diberikan kesempatan pidato (pasti itu) aku akan memberikan ucapan yang disertai dengan linangan airmata bahagia. Aku berterimakasih pada Tuhan yang telah memberikanku kesempatan menjadi ibu mereka dan mereka telah bersedia memberikanku kesempatan untuk menjadi ibu tergalak.

Dengan galak versi mereka saat ini, aku menyiapkan mereka untuk menjadi pribadi yang matang, bertanggung jawab, mengerti kewajiban dunia dan kewajiban agama.
Lewat galak yang mereka rasakan, aku memenuhi tanggung jawabku pada NYA, yang memberikan amanat (mereka, anak-anakku itu)
Diakhir pidato kemenangan, akan aku tutup dengan kalimat yang menyatakan pada mereka bahwa aku bangga mempunyai mereka sebagai anak-anakku dan bangga aku menjadi ibunya.
Pesanku cuma singkat : ”Pahamilah, bahwa galak mama adalah tanggung jawab yang penuh cinta untuk kalian”

Catatan :

  • Mengenai komentar suamiku mengenai aku yang galak tidak perlu aku uraikan, karena dia bukan anakku. Dia hanyalah seorang yang berdiri tepat disebelahku saat anak-anak marah dan kesal, menjadikan kami satu kesatuan yang kuat.

  • sekarang anakku yang besar mau 18 tahun, tingkat dua FK Unibraw dan yang kecil kelas 1 SMA 68, jkt.


Jakarta, 6 tahun yang lalu (2003)
Yoen

Malem Mingguan....

Rencana malem mingguan di PIM, trus nonton bersama anakku gagal.....
inilah sebabnya:


Sabtu kemaren, gw janjian untuk pergi ama anak perempuan gw yang hobby belanja. Dia udah duluan ke PIM bareng Maminya, dan gw berjanji untuk nyusul, tapi karena bokap gw nanti malem mo pergi, gw cuma akan di drop sopir aja.
Kami saling diskusi gimana teknisnya untuk ktemuan nanti. Dalam perjlanan dari kantor, dy nelp:
" Ma...telp ya!" kebiasaan yang gak pernah hilang,takut pulsanya habis, dan gw mah ikut aja lagi, nelpon balik
" Knpa Nin?"
" Mama nanti mo kmana?"
" Makan aja deh, di BK ya"
" Abis itu?, soalnya gini ya ma, uni sekarang khan lagi potong rambut nih, dan td sebelumnya kt liat Andre Valentino, Elle lagi discount, ada sepatu yang Uni mau,item. Mma beliin ya untuk ultah Uni" coscoscos.....dia nyerocooooosss teerus
" Udah deh ntar kt diskusiin disana aja" kepala gw langsung pening, bukan karena denger cerocosannya tapi karna permintaannya, scr kemaren dy baru aja berhasil membuat gw mengeluarkan uang untuk beliin dia Adidas and everlast (tp bukan buat bertinju ya)
"Ini sepatu hiheel pertama uni ma, hehe..." dia kegirangan sambil puter-puter bak putri (tp dia emang Putri sih, mau 18 tahu bulan Maret ini,udah smester 4 di FK Unibraw, tapi liat tuh gaya'nya. Temennya yang dulu kanak2 aja sekarang udah dewasa, kok dia belum ya?)

Jawaban gw tentu tak menyenangkan dia lah, tapi gw juga gak mau mengalami hal gak menyenangkan klo kesana, gw mudah terbujuk rayuannya sih, rengekannya, tatapanmata jernihnya, suka menggelitik hati...
"Ya udah, ntar mama ksana, tp mama pake sendal ya dan gak bawa dompet Nin!" (dalam hati gw udah hihihi duluan). Dia tutup telp, gak kedengeran suaranya.
Baru dua menit, dia telp lagi, kali ini gak minta telp balik, dia langsung ngomong
" Ma...kalo mama mau BK, ntar Uni bawain aja deh.... ngapain juga klo cuma sekedar mau makan, gpp khan, mama gak ngambek khan?"
hahaha....gw sepakat dan gak ngambek lah, malah Alhamdulillah SELAMAT.....
Akhirnya kesepakatan tercapai, gw langsung pulang, dia makan2 sama maminya dan ntar pulang ngoleh2in BK buat gw tanpa gw mengeluarkan duit seribu pun (kesannya gw pelit ya, tapi kenyataannya gak salah juga sih)

Manusia boleh berencana, ketentuan yg akan berlaku tetep dari Allah datangnya, baru sampe di rumah, dapet berita ada kerabat yang meninggal, jadi gw harus ke pisangan, rumah gadang, melayat. Putri dan maminya langsung juga membelokkan arah tujuan ketempat yang sama, tanpa perlu diskusi dulu, sudah sepakat sejak awal saat menerima berita ini.
Sampe di pisangan, bokap udah pergi, my sisters smua ngumpul kecuali satu orang (Mei).
Bokap lagi ada pertemuan dengan teman2 ex IBM yang sudah direncanakan dari 2 minggu lalu, dan ada beberapa orang yang akan pergi bareng beliau. Jadi setelah ke rumah duka, beliau pergi dulu memenuhi janji.

" Angku kemana Ma?"
" lagi pergi, janjian ama temennya?"
" Ngapain ..?" tanya dia, kok kaya'nya anakku heran ya?
" Lagi malem mingguan" jawabku asal aja, tapi emang beneran sih
" ih ... (*Bipp...disensor*)",
" emang knapa Nin, gak boleh apa angku malem mingguan ?"
" Udah tua lagi Ma, NGAPAIN JUGA SIH ANGKU??" (gw dapet menangkap kegelisahan gadis cilikku ini....mungkin dia berpikir, Uci kan baru 7 bulan meninggal, dan angkunya udah lebih 70an, khan aneh kalo masih malem mingguan)
" yah ..... kasian dong angku klo gak boleh malem mingguan Nin" dia langsung menatap aku dengan pandangan yang gimanaaaaa gituu, maminya (adikku) juga sempet menoleh.Wah, aku terpaksa harus menjelaskan secara rasional nih pada anakku, klo maminya pastilah dia juga mengerti, karna paling tidak ada persamaan dalam diri kami yang mengalir lewat darah.
" Kasian angku nin,masa abis malem sabtu harus malam senenan....!"
Adikku juga langsung nimpalin
" Iya lagi Ni, masa angku gak boleh hari sabtu...., abis jum'at langsung minggu"

Hegghh.... anakku serasa ditinju pas di uluhatinya.....

Memimpin RS bukan Hal Yang Sulit.....

Tidak pernah terbayangkan bahwa memimpin sebuah rumah sakit adalah pekerjaan yang tidak mudah, semula saya beranggapan asalkan punya bakat dan bekal ilmu manajemen perumahsakitan maka segalanya akan berjalan dengan lancar, tinggal mengaplikasikan setiap teori yang pernah diterima. Ternyata bayangan tersebut jauh dari kenyataan.
Memimpin suatu organisasi yang sumber daya manusianya sangat beragam, adalah suatu tantangan besar yang mengharuskan seorang pimpinan belajar terus menerus untuk menemukan jurus mana yang bisa diterapkan pada orang atau kelompok yang satu dan cara mana yang sesuai untuk kelompok lainnya. Diperlukan pendekatan yang berbeda-beda terhadap masing-masing unit kerja.

Sumber daya manusia di rumah sakit sangat bervariasi dengan jenjang pendidikan yang juga beragam, namun semuanya terlibat dalam kegiatan menghasilkan produk yang berkualitas secara keseluruhan di mata pelanggan. Setiap orang yang melakukan kontak dengan pelanggan menjadi faktor yang ikut mempengaruhi kesimpulan pelanggan terhadap mutu pelayanan rumah sakit, sekalipun hanya seorang cleaning service ataupun petugas parkir. Hal tersebut sesuai dengan keunikan karakteristik layanan jasa, dimana orang yang menyampaikan produk jasa adalah juga produk itu sendiri (yang akan dinilai oleh consumer). Oleh karena itu pengelolaan terhadap sumber daya yang satu ini menjadi hal yang sangat krusial. Seorang pimpinan rumah sakit harus mampu menanamkan tujuan organisasi pada seluruh bawahan (follower) dan menjadikan tujuan ini sejalan dengan tujuan pribadinya sebagai anggota organisasi, sehingga secara sadar dan sukarela, bawahan akan berupaya untuk mencapai tujuan tersebut.
Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah kepemimpinan yang seperti apa yang efektif bagi suksesnya suatu rumah sakit ?

Banyak studi ataupun riset yang telah dilakukan untuk mempelajari tentang kepemimpinan. Penelitian-penelitian tersebut melahirkan berbagai macam teori mengenai kepemimpinan, antara lain : Kepemimpinan menurut Teori sifat (Trait Theory).
Teori ini menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah sifat atau bakat yang dibawa sejak lahir. Teori ini mengasumsikan seseorang dilahirkan sebagai pemimpin atau tidak sebagai pemimpin. Jika kita dapat mengidentifikasi karakter bawaan ini, maka kita dapat menemukan seorang pemimpin.
Judith R Gordon merumuskan karakter yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah sebagai berikut :

  • Kemampuan dalam melakukan pengawasan (Supervisory ability)
  • kemampuan ini meliputi kemampuan dalam hal merencanakan (planning), mengorganisir (organizing), mempengaruhi (influencing) dan melakukan pengawasan (controlling) pada pekerjaan orang lain
  • Need for occupational achievement

  • Intelligence
  • kreatif dan memiliki kemampuan verbal termasuk dalam membuat keputusan, berargumentasi, penalaran
  • Tegas (Decisiveness)
  • kemampuan untuk membuat keputusan dan memiliki kecakapan/keterampilan dalam menyelesaikan masalah
  • Self-assurance

  • Initiative
  • kemampuan dalam menemukan cara baru (inovatif) dalam melakukan sesuatu

Didalam buku The Leadership Challenge diidentifikasi 20 karakter yang secara umum berkaitan dengan pemimpin yang baik, dan 5 diantaranya adalah :

  1. Honest (Jujur)

  2. Inspiring

  3. Forward-Looking /Melihat kedepan (visioner)

  4. Competent

  5. Intelligent

Ternyata sekalipun seseorang memiliki ciri-ciri karakter diatas, hal tersebut belum bisa meramakan efektifitas kepemimpinan, karenanya kemudian dikembangkan suatu studi yang khusus mengamati perilaku pemimpin dalam menghasilkan kepemimpinan yang efektif.
Teori ini dikenal sebagai Teori Perilaku (Behaviorist theories).
Teori kepemimpinan perilaku dicetuskan antara lain oleh Lewin, White & Lippit pada tahun 1930 an, mereka menjelaskan ada tiga (3) tipe perilaku pemimpin, yaitu :Authoritarian, Democratic & Laissez Faire

Teori-teori yang saya pelajari tersebut, kemudian menjadi referensi saya dalam menentukan diri saya termasuk tipe pemimpin dan mempunyai gaya kepemimpinan seperti apa, dan sebagai hasilnya saya lantas kemudian merasa punya bekal dan kemampuan menjadi seorang pemimpin, tetapi ternyata (eh ternyata.....) , di KEHIDUPAN NYATA(dalam memimpin rumah sakit), pemahaman terhadap teori-teori diatas ternyata tidak terlalu banyak menolong ketika saya harus berhadapan langsung dengan sekian banyak manusia dalam perusahaan yang memiliki latar belakang pendidikan, kematangan pribadi dan motivasi kerja yang berbeda-beda.
Dengan karakteristik yang demikian variatif, apalagi dalam sebuah perusahaan yang budaya organisasinya belum mengakar kuat dalam setiap insan, maka kesulitan-kesulitan satu demi satu menjadi tantangan yang tidak pernah putus-putusnya harus di hadapi.
Berdasarkan insting (dan kemudian mencari pembenaran secara ilmiah), hal pertama yang saya lakukan adalah mencoba mengenali siapa bawahan saya, bagaimana karakter dan apa jenis pekerjaannya. Secara alami, seorang bawahan selalu mengharapkan pimpinannya adalah seseorang yang memiliki kemampuan lebih baik dari mereka dalam arti sebenarnya, menjadi tempat bertanya dan tempat mereka mencari dan mendapatkan solusi dari permasalahan yang dihadapi.
Bagaimana mungkin seorang pimpinan dapat memberikan jawaban dan solusi yang diharapkan, jika pekerjaan yang digeluti bawahannya tidak dimengerti secara detail. Oleh karena itu, diawal kerja, saya jarang sekali berada dalam ruangan, saya lebih senang berkeliling dan bertanya-tanya, mengamati dan mempelajari mengenai detail pekerjaan bawahan, apalagi untuk bidang yang sama sekali asing bagi saya.
Semua jenisdan teknis pekerjaan harus saya pelajari dari masing-masing “pakarnya”, setiap staf atau bagian pelaksana menjadi guru buat saya dalam bidang pekerjaannya.
Terus Belajar menjadi kewajiban utama seorang pimpinan. Dengan mempelajari jenis pekerjaan yang mereka laksanakan setiap hari, saya kemudian menjadi mengerti “bahasa” yang mereka gunakan, dengan menggunakan bahasa merekalah saya berkomunikasi dan dengan demikian mereka kemudian dapat mengkomunikasikan kendala-kendala yang dihadapi, tanpa menyimpan pertanyaan “ si bos ngerti nggak ya apa yang saya maksud?”

(Ternyata,dorongan naluri untuk belajar merupakan salah satu prinsip, yang oleh Stephen R Covey disebutkan sebagai salah satu ciri dari Kepemimpinan yang berprinsip. Ini adalah pembenaran ilmiah yang saya temukan melalui membaca. Membaca adalah juga bagian dari proses belajar).

Terus belajar kemudian menjadi kebutuhan dasar bagi saya untuk selalu mengembangkan diri. Sekalipun ada pakar di bidang leadership mengatakan bahwa kepemimpinan adalah seni, namun saya juga percaya bahwa kepemimpinan adalah ilmu yang bisa dipelajari oleh setiap orang, kepemimpinan juga adalah keterampilan. karenanya, saya merasa perlu untuk terus mempelajari dan mengasah keterampilan sebagai seorang pemimpin. Karena pada dasarnya kepemimpinan berkaitan dengan keterampilan seseorang untuk menggerakkan orang lain melalui pengaruh yang dimiliki.
Pendekatan yang dilakukan untuk mengarahkan bawahannya tidak seragam untuk setiap orang. Misalnya, pendekatan yang dilakukan terhadap staf medik yang minimalnya adalah seorang dokter tentu akan lebih memudahkan bagi saya yang juga seorang dokter, karena paling tidak kami mempunyai cara dan pola berpikir yang hampir sama, sementara berbicara dengan petugas kebersihan kadang kala serasa "gak nyambung", bukan saja oleh sebab perbedaan tingkat pendidikan, tapi lebih utama karena “bahasa” yang digunakan saat berkomunikasi berbeda. Karenanya dengan mengenali karakter bawahan, penerapan metode kepemimpinan pada bawahan dapat disesuaikan dengan kebutuhannya.
Seorang pemimpin tidak harus mengadop/menerapkan satu jenis gaya kepemimpinan saja ketika berhadapan dengan bawahan yang bervariasi tadi, ia harus mampu mengenali metode pendekatan yang cocok bagi bawahannya, hal ini sesuai dengan Model Kepemimpinan Situasional (Situational Theory) dicetuskan oleh Paul Harsey dan Kenneth Blanchard.
Mereka menyatakan bahwa pembawaan yang harus dimiliki seorang pemimpin dapat berbeda-beda tergantung dari situasi yang dihadapinya.
Dr Djokosantoso Moeljono dalam bukunya More about Beyond Leadership menyebutkan bahwa ”Kemampuan seorang pemimpin untuk mengerti dan mendalami kemampuan dan kedewasaan bawahannya sangat berpengaruh pada gaya yang dipilihnya”.
Model kepemimpinan situasional memberikan pemahaman pada kita bahwa pemimpin yang mampu memodifikasi gaya kepemimpinannya berdasarkan berbagai jenis situasi yang mereka hadapi akan mencapai kriteria pemimpin yang efektif.

Harsey & Blanchard mengembangkan model kepemimpinan situasional efektif dengan memadukan tingkat kematangan anak buah dengan pola perilaku yang dimiliki pimpinannya.
Ada 4 tingkat kematangan bawahan (maturity of folowers), yaitu:

  • M 1

  • bawahan tidak mampu dan tidak mau atau tidak ada keyakinan
  • M 2

  • bawahan tidak mampu tetapi memiliki kemauan dan keyakinan bahwa ia bisa
  • M 3

  • bawahan mampu tetapi tidak mempunyai kemauan dan tidak yakin
  • M 4

  • bawahan mampu dan memiliki kemauan dan keyakinan untuk menyelesaikan tugas.

Ada empat (4) Gaya kepemimpinan situasional yang dikemukakan oleh Harsey-Blanchard, yang efektif untuk diterapkan,tergantung tipe dari bawahan yaitu :Telling, Selling, Participating dan delegating.
Telling:
Gaya kepemimpinan ini cocok diterapkan pada tipe bawahan yang termasuk kategori M1 atau jika anggota organisasi adalah orang baru , mereka yang belum berpengalaman dan membutuhkan bantuan, arahan dan dorongan untuk melakukan tugasnya (orang yang kurang memiliki motivasi). Pemimpin memberi instruksi teknis secara detail dan mengawasi pelaksanaan tugas dan kinerja anak buahnya, kadangkala menghadapi bawahan seperti ini, pimpinan harus berlaku sebagai polisi pengawas
Selling :
Gaya ini berguna ketika bawahan yang dipimpin mau melaksanakan tugasnya namun tidak memiliki keterampilan yang diharapkan ( belum dapat melakukan tugasnya sesuai dengan standar yang berlaku), memiliki motivasi untuk bekerja dengan baik.Gaya ini cocok untuk diterapkan pada bawahan yang termasuk dalam kelompok M2, dimana pemimpin menjelaskan keputusannya dan membuka kesempatan untuk bertanya bila kurang jelas.
Participating :
Gaya ini diterapkan pada tipe bawahan M3, dimana mereka sebenarnya mampu melakukan tugas yang diberikan tetapi tidak mau memulai atau menyelesaikan tugasnya. Dalam menghadapi tipe bawahan M3, pemimpin memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyampaikan ide-ide, membangun komunikasi dua arah yang aktiv , memberi semangat dengan begitu diharapkan bawahan termotivasi karena ide dan gagasannya didengar dan menjadi dasar pertimbangan bagi pengambilan keputusan.
Delegating :
Pemimpin melimpahkan keputusan dan pelaksanaan tugas kepada bawahannya. Gaya ini bisa diterapkan apabila bawahannya termasuk memiliki tingkat kematangan yang tinggi (M4), dimana mereka mau dan mampu melaksanakan tanggung jawabnya. Menghadapi bawahan tipe ini, pemimpin dapat berkipas-kipas atau menselonjorkan kakinya sejenak karena bawahan mengerti dan paham apa yang diinginkan atasannya dan mengerti bagaimana merealisasikan keinginan tersebut. Pimpinan tidak perlu memberikan petunjuk maupun arahan yang terperinci, cukup dengan menegaskan tujuan yang hendak dicapai, bawahan akan segera menterjemahkannya.

(Dari berbagai sumber, msh bersambung ya....!!)