Makan gratis bukan rejeki gw hari ini, walaupun lima menit menjelang pulang med rep masuk ruang kerja dan menawarkan makan di luar, bincang-bincang sebentar, rancang sana rincing sini, akhirnya diputuskan untuk makan di Margo city, lokasi paling deket dengan area kerjanya. Rencana dimatangkan bersama, orang yang akan diajak terlibat diundang dan 5 orang langsung dihubungi. Deasy adalah orang yang pertama aku telpon, basa-basilah aku dulu, menanyakan apakah dia di jemput suami?, suami lagi dimana? Dan ujung2nya “ikut makan yuk!” Suatu ajakan keluar juga, danbukan rejekinya kaya’nya, deasy bilang dia mau pulang on time hari ini. Ya sudah....Deasy gugur! Dua orang lain yang sudah okepun akhirnya batal...., yo wis terpaksa makan cuma bertiga, yang akan didapet pasti cuma kenyang tanpa seru2an, dan Alhamdulillah.
Waktu pulang tiba, udah jam 4, beres2, dan keluar dari ruangan,ehhh...di ruang tunggu sdh menunggu 2 orang tamu, setelah aku tanya ternyata mau ktemu manajer ku yang cantik itu (bathinku berucap “yaaah...si deasy ...mau teng go terpaksa tunggu”), solider sedikit, aku gak langsung turun, tapi tunggu punya tunggu kok percakapannya gak selesai2 , bukan mau ikut campur,aku terpaksa menghampiri deasy dan bilang “katanya mau tenggo!”, ternyata pokok bahasan yang sedang diperbincangkan masalah serius yang aku perlu juga ikut ngomong disitu, dan hasilnya ....waktu menunjukkan jam 5:30. Kriiiinnggg hape berbunyi dari med rep yang tadi janjian ama aku, dia bilang “ Dok, gak jadi Ya?”, aku tau dia punya janji jam 6 sama dokter lain, langsung aja aku bilang; “Ya ....lain kali aja ya” dengan minta maaf, akhirnya batal semua. Belum rejeki pikirku
Kita sepakat pulang, dan aku harus anter deasy sebagai bentuk tanggung jawab (hehehe...kaya’ yang iya aja). Singkat cerita, aku tau deasy akhirnya gak jadi langsung pulang, tapi singgah dulu di hanamasa, makan yang berkuah, seger......Rejeki ....
REZEKI
Al-Baqarah : 212
“ Dan Dia memberi rezeki kepada orang yang dikehendakiNya tanpa batas.”
Banyak dari kita yang menjadi resah,manakala rezeki yang diharapkan tak juga datang, seolah-olah kita telah tau apa yang menjadi bagian kita, dan kapan waktunya rejeki harus menghampiri, sehingga seringkali kita minta disegerakan datangnya. Padahal Rezeki adalah rahasia Illahi, kewenangan mutlak milikNYA, namun setiap kita telah digaransi olehNYa bahwa masing-masing mempunyai rezeki sendiri-sendiri, selayaknya kita tak menjadi risau,kapan dia datang, sebesar apa, dan bagaimana bentuknya.
Secara keseharian kita sering mengartikan bahwa rejeki hanya dikaitkan dengan yang ujung-ujungnya duit, memang tak sepenuhnya salah, karena salah satu bentuk rezki adalah harta.
Lebih luas, yang dimaksud dengan rezeki adalah "segala pemberian yang dapat dimanfaatkan, baik material maupun spiritual" (dikutip dari tulisan M Quraisy Shihab "Menyingkap Tabr Ilahi : Asma ul Husna dalam Perspektif Al-Qur'an)
Sekalipun dinyatakan bahwa setiap kita dijamin rezekinya, bukan berarti kita bisa berleha-leha menunggu jatuhnya rezeki dari langit begitu saja, dapat diraih tanpa perlu upaya,usaha,ikhtiar dan lain lain istilah yang maknanya serupa.
Ada satu contoh yang begitu membekas dan melekat yang mempengaruhi pemahaman saya tentang rejeki ( semoga saya tidak salah menafsirkannya), tentang Rejeki dari Allah datangnya
Ini kejadian nyata di dunia kerja.
Oleh karena salah satu sebab, ada salah seorang yang begitu besar rejekinya dipandangan saya, tiba-tiba berhenti melakukan kerja, sekedar untuk menunjukkan bahwa dirinya adalah sumber rejeki bagi yang lain. Saya tidak menuduh tindakannya itu sebagai suatu kesombongan, karena memang ada dikatakan bahwa setiap yang mendapat rejeki dapat menjadi rezeki untuk yang lain (ada di buku Menyingkap Tabir Ilahinya M Quraisy Shihab),tapi ke"pede"an dirinya untuk membuktikan hal itu, yang membuat saya terpaksa menggeleng-gelengkan kepala dan bertanya-tanya dalam hati, apakah Allah telah membuka tabir rahasianNYA sehingga orang,(yang begitu besar rejekinya dipandangan saya), itu bisa dengan mudah melihat bahwa yang kami terima adalah karena semata-mata rejekinya yang menghambur-hambur dan bercipratan ke sekitarnya, kemudian dia menunjukkan pada kami , bahwa tanpa dia kami akan bersedih karena akan berkurang pula rejeki kami , seolah-olah tak ada rejeki bagi lebih dari 100 karyawannya yang bekerja dan berupaya mencari rejeki yang telah Allah janjikan itu, disitu. Masya Allah!
Secara matematika, sebagai pengelola usaha (bukan pemilik), saya menghitung-hitung perkiraan pendapatan yang akan masuk, dengan biaya yang tetap akan dikeluarkan dengan tidak ikut bekerjanya orang itu....memang tidak dapat dipungkiri, , pendapatan kami akan menurun.
Tetapi mungkin dia lupa, atau saya juga lupa, hitung-hitungan rejeki bukan ala matematika manusia, Allah membuktikan (bukan survey yang membuktikan), Profit yang dihasilkan lebih besar dari masa-masa beliau aktif. Subhanallah
Berkurang di kantong yang satu, Allah melebihkan di kantong yang lain sehingga secara keseluruhan kami tetap berkecukupan atas izinNYA
Jadi, kalau pernyataan saya mengenai Rejeki dari Allah datangnya, membuatnya tersinggung dan berakibat beliau menghentikan sementara kerjanya, saya harus meminta maaf, bahwa saya tetap pada keyakinan itu.
Rejeki dari Allah datangnya, pada orang-orang yang DIA kehendaki.
Alhamdulillah
Catatan :
Mohon maaf, ini bukan bermaksud menggurui, sekedar membagi pengalaman saja...
Mencuri waktu disaat harus berangkat kerja
dan akhirnya selesai.....
tapi terlambat sedikit ke kantor, mudah2an gak macet
Amin.....