Tanpa Mu...
Bianglala mencakup seluruh pesona warna
Tergambar di wajah kelabu langit yang seharusnya biru
Gelap yang terbatas Tak gelisahkan pelangi
Karna dalam mendung warna warninya menjadi tersanjung
Pukau tepat berada di pusat pikat indahnya
Tapi tak bisa kunikmati...
Purnama merangkum segala cerah di lingkaran sempurnanya
Ajak pula bintang bersisian hiasi malam
Kelambu kabut terajut dari pekatnya awan
Membuat samar terang menjadi binar benderang
Takjub ada dalam kontras yang terbentang seluas alam
Tapi tak pula bisa kunikmati...
Sungguh...
Ku tak mau tanpa MU
Karena mata hatiku jadi tak peka
Jumat, 31 Juli 2009
Senin, 27 Juli 2009
Cukup lah hanya MU, bagiku....
Berkata tanpa suara lantunkan panggilan ke dalam jiwa, sedalamnya Kau mampu capai,
Sampai pada bagian yang takkan terusik dan sulit terurai
di tempat paling tersembunyi di rahasia hati
Bahwa Kau sungguh menginginkan aku kembali dalam puas yang Kau redhai.
Ada syarat yang Kau tetapkan,tapi tak Kau sulit-sulitkan,
selalu Kau beri kemudahan agar kita boleh berhadapan
Lalu Kau berikan apa saja yang aku inginkan
Tak Kau halangi ku ntuk kembali sekalipun aku pernah berlari hindari,
tak pula ku Kau benci padahal kataku pernah mencaci.
Selalu maaf Kau siapkan, jika aku sungguh menginginkan.
"Datang pada KU, dan mintalah yang kau mau" begitu selalu Kau ucapkan
Beribu yang ku pinta, tak berhingga yang Kau punya
Kala rinduku hanya ingin dekat,
Kau malah datang mendekap, berikan berbagai macam nikmat
saat ku berjalan dekati, Kau bahkan berlari menghampiri
memberikan janji pasti
Bila tlah seperti ini, mengapa lagi harus yang lain ku cari
cukup lah hanya MU, bagiku....
Sampai pada bagian yang takkan terusik dan sulit terurai
di tempat paling tersembunyi di rahasia hati
Bahwa Kau sungguh menginginkan aku kembali dalam puas yang Kau redhai.
Ada syarat yang Kau tetapkan,tapi tak Kau sulit-sulitkan,
selalu Kau beri kemudahan agar kita boleh berhadapan
Lalu Kau berikan apa saja yang aku inginkan
Tak Kau halangi ku ntuk kembali sekalipun aku pernah berlari hindari,
tak pula ku Kau benci padahal kataku pernah mencaci.
Selalu maaf Kau siapkan, jika aku sungguh menginginkan.
"Datang pada KU, dan mintalah yang kau mau" begitu selalu Kau ucapkan
Beribu yang ku pinta, tak berhingga yang Kau punya
Kala rinduku hanya ingin dekat,
Kau malah datang mendekap, berikan berbagai macam nikmat
saat ku berjalan dekati, Kau bahkan berlari menghampiri
memberikan janji pasti
Bila tlah seperti ini, mengapa lagi harus yang lain ku cari
cukup lah hanya MU, bagiku....
Senin, 20 Juli 2009
saat malam berkhianat 2
Biar kuulangi sebuah kisah tentang malan yang pernah khianat
Ketika dititipkan padanya sebuah rahasia
Yang tak lagi mampu disimpan
di bagian tersembunyi dalam dada seorang wanita
Karena jendela yang mulai terkuak
Dan rasa rahsia itu menggeliat menyeruak
Sebabkan mata tak pula mampu halangi
Bentuk rindu yang semakin berbumbu
Dalam khianatnya
Gemetar malam kala biarkan bulan berpendar
Yang selama satu masa ditahannya agar tak bersinar
Meskipun purnama tetap saja pasi
Supaya apa yang dipercayakan padanya
Aman dalam gelap
Parau suara malam sampaikan risau
Karena gemintang dibiarkannya berkilau
Yang pada waktu tertentu sinarnya terus dia halau
Meski seluruhnya kejora sinarnya padam
Agar apa yang jadi amanat,Tentram dalam pekat
Begitulah ia dengan beban
Ditanggungnya berbulan-bulan
Sampai lelah tak terelakkan
Hingga diserahkan nya hari pada pagi
Tanpa satupun yang tersembunyi
Bicara malam pada embun di daun
Tak rasa bersalah dilantunkannya suara surga
"Hai wanita, petiklah bahagia itu
Ini mengenai rasa yang tak perlu kau ragu"
Kemudian ia pun pamit
Titip salam pada matahari...
Matahari bersuka
Karena panasnya boleh hangatkan cinta
Ketika dititipkan padanya sebuah rahasia
Yang tak lagi mampu disimpan
di bagian tersembunyi dalam dada seorang wanita
Karena jendela yang mulai terkuak
Dan rasa rahsia itu menggeliat menyeruak
Sebabkan mata tak pula mampu halangi
Bentuk rindu yang semakin berbumbu
Dalam khianatnya
Gemetar malam kala biarkan bulan berpendar
Yang selama satu masa ditahannya agar tak bersinar
Meskipun purnama tetap saja pasi
Supaya apa yang dipercayakan padanya
Aman dalam gelap
Parau suara malam sampaikan risau
Karena gemintang dibiarkannya berkilau
Yang pada waktu tertentu sinarnya terus dia halau
Meski seluruhnya kejora sinarnya padam
Agar apa yang jadi amanat,Tentram dalam pekat
Begitulah ia dengan beban
Ditanggungnya berbulan-bulan
Sampai lelah tak terelakkan
Hingga diserahkan nya hari pada pagi
Tanpa satupun yang tersembunyi
Bicara malam pada embun di daun
Tak rasa bersalah dilantunkannya suara surga
"Hai wanita, petiklah bahagia itu
Ini mengenai rasa yang tak perlu kau ragu"
Kemudian ia pun pamit
Titip salam pada matahari...
Matahari bersuka
Karena panasnya boleh hangatkan cinta
Selasa, 14 Juli 2009
Tiga malam dalam kehidupan...
Malam pertama...
hari berjalan, berputar katanya, mengitari waktu
ditinggalkan embun yang menjuntai diujung daun, menyambut berkas cahaya di ujung pagi
meninggalkan hening malam dan kabut yang dingin, menerima hadirnya terang yang hangat
terus bergeser hingga cerah mulai meredup menggapai jingga di batas gelap
maka datanglah malam yang lengkap, gelapnya kadang kelam,
tapi adakalanya hitam pekatnya dihiasi kerlap-kerlip dan kemilau yang samar, ditemani kesunyian
keheningan yang tercipta membawa perenungan masuk ke dalam pikiran
tenggelam diperaduan
berpikir keras tentang NYA, yang memberikan malam kehidupan dunia
adakah terlengkapi bekal yang kan dibawa
tuk tinggal di tempat penantian
pada malam kedua...
dan malam ketiga...
hari berjalan, berputar katanya, mengitari waktu
ditinggalkan embun yang menjuntai diujung daun, menyambut berkas cahaya di ujung pagi
meninggalkan hening malam dan kabut yang dingin, menerima hadirnya terang yang hangat
terus bergeser hingga cerah mulai meredup menggapai jingga di batas gelap
maka datanglah malam yang lengkap, gelapnya kadang kelam,
tapi adakalanya hitam pekatnya dihiasi kerlap-kerlip dan kemilau yang samar, ditemani kesunyian
keheningan yang tercipta membawa perenungan masuk ke dalam pikiran
tenggelam diperaduan
berpikir keras tentang NYA, yang memberikan malam kehidupan dunia
adakah terlengkapi bekal yang kan dibawa
tuk tinggal di tempat penantian
pada malam kedua...
dan malam ketiga...
Tentang kemarin...saat malam berkhianat...
Telah kusembunyikan gelora yang kurasakan didalam kegelapan, kutitipkan dibalik jubah sang dewa malam yang dijaganya selama pagi dan petang, agar tak nampak oleh mata dan hati ia yang ternyata begitu dalam ada di dada
karena aku...
Tak ingin matahari menyampaikan sinar yang didalamnya ada hasratku yang menghangatkan
Tak ingin pula angin membawa hembusannya yang kelembutannya mengandung sentuhanku yang mampu menyapu sirna keraguan akan kesungguhan
Tak ingin juga hujan menjatuhkan airnya yang merupakan airmata penantian, mendungnya berisi kesedihan, dan pelangi sesudahnya adalah warna warna rindu punyaku
telah kusembunyikan hasrat, rapat-rapat dalam gelap yang pekat
dan malam terus menjaganya atas permintaan yang penuh harap
Dan kemarin siang...sang dewa khianati amanat
dibiarkannya cahya yang sengaja aku redupkan menyala-nyala didalam gelap dan terang
" Mengapa ?" tanya kecewaku
" Untuk kebahagiaan yang sejatinya boleh kau rasa...dan yang kau matikan..
...Sang surya menyampaikan padaku disaat pergantian petang ke malam...kau pucat tanpa warna
...Angin mengabarkan kau dingin dan nyaris membeku
...Hujan berujar airmatamu tak lagi mampu ia bendung
...Mendungpun malas menutupi harapmu yang kian menebal
...Jadi apalagi yang harus kupertahankan..menyimpannya terus untukmu dan biarkan kau membiru?"
Malam menjawabku tanpa perasaan bersalah karena tak setia dan ia mempersilahkan ku merenungi
" pahami aku..." katanya lagi
" setiap malam, bulan dan juga bintang mempermasalahkan kesetiaan butaku..
...mereka kecewa, karena sinar dan binarnya jadi tak indah.."
***
Sungguh, aku jadi tak pandai berkata-kata...karena hasratku jadi tersingkap
ketika ...
gairahmu melayari tubuhku...dan kubiarkan menyusup sampai pori-pori terkecil yang tersembunyi
sentuhanmu menggetarkanku dan kubiarkan seluruh sel menikmati rasa yang kau persembahkan
kecupan mu singgahi setiap bagian yang membuat mataku selalu saja terpejam
nafas tertahan, degup jantung berlarian dan dua raga menyatu dalam satu perasaan
saat kau ada didalamku..aku di dalam cintamu
hempaskan semua yang semula terpendam..lepaskan semua yang tertahan
hanya dengan satu desahan panjang...
terbanglah semua penghalang bersama malu dan ragu yang tadinya tebal
sisakan kenikmatan...untuk aku dan kamu
matahari, angin, hujan, mendung, malam, bulan, bintang berlalu beri kesempatan
tinggal aku dan kamu bersama pelangi...
Ahh...inilah yang sesungguhnya yang awalnya aku takutkan
pasrahkan seluruhnya untukmu...
dan sekarang...haruskah tetap kusimpan
sendirian...
terimakasih untuk malam dan siang darimu...
karena aku...
Tak ingin matahari menyampaikan sinar yang didalamnya ada hasratku yang menghangatkan
Tak ingin pula angin membawa hembusannya yang kelembutannya mengandung sentuhanku yang mampu menyapu sirna keraguan akan kesungguhan
Tak ingin juga hujan menjatuhkan airnya yang merupakan airmata penantian, mendungnya berisi kesedihan, dan pelangi sesudahnya adalah warna warna rindu punyaku
telah kusembunyikan hasrat, rapat-rapat dalam gelap yang pekat
dan malam terus menjaganya atas permintaan yang penuh harap
Dan kemarin siang...sang dewa khianati amanat
dibiarkannya cahya yang sengaja aku redupkan menyala-nyala didalam gelap dan terang
" Mengapa ?" tanya kecewaku
" Untuk kebahagiaan yang sejatinya boleh kau rasa...dan yang kau matikan..
...Sang surya menyampaikan padaku disaat pergantian petang ke malam...kau pucat tanpa warna
...Angin mengabarkan kau dingin dan nyaris membeku
...Hujan berujar airmatamu tak lagi mampu ia bendung
...Mendungpun malas menutupi harapmu yang kian menebal
...Jadi apalagi yang harus kupertahankan..menyimpannya terus untukmu dan biarkan kau membiru?"
Malam menjawabku tanpa perasaan bersalah karena tak setia dan ia mempersilahkan ku merenungi
" pahami aku..." katanya lagi
" setiap malam, bulan dan juga bintang mempermasalahkan kesetiaan butaku..
...mereka kecewa, karena sinar dan binarnya jadi tak indah.."
***
Sungguh, aku jadi tak pandai berkata-kata...karena hasratku jadi tersingkap
ketika ...
gairahmu melayari tubuhku...dan kubiarkan menyusup sampai pori-pori terkecil yang tersembunyi
sentuhanmu menggetarkanku dan kubiarkan seluruh sel menikmati rasa yang kau persembahkan
kecupan mu singgahi setiap bagian yang membuat mataku selalu saja terpejam
nafas tertahan, degup jantung berlarian dan dua raga menyatu dalam satu perasaan
saat kau ada didalamku..aku di dalam cintamu
hempaskan semua yang semula terpendam..lepaskan semua yang tertahan
hanya dengan satu desahan panjang...
terbanglah semua penghalang bersama malu dan ragu yang tadinya tebal
sisakan kenikmatan...untuk aku dan kamu
matahari, angin, hujan, mendung, malam, bulan, bintang berlalu beri kesempatan
tinggal aku dan kamu bersama pelangi...
Ahh...inilah yang sesungguhnya yang awalnya aku takutkan
pasrahkan seluruhnya untukmu...
dan sekarang...haruskah tetap kusimpan
sendirian...
terimakasih untuk malam dan siang darimu...
Langganan:
Postingan (Atom)