Memimpin suatu organisasi yang sumber daya manusianya sangat beragam, adalah suatu tantangan besar yang mengharuskan seorang pimpinan belajar terus menerus untuk menemukan jurus mana yang bisa diterapkan pada orang atau kelompok yang satu dan cara mana yang sesuai untuk kelompok lainnya. Diperlukan pendekatan yang berbeda-beda terhadap masing-masing unit kerja.
Sumber daya manusia di rumah sakit sangat bervariasi dengan jenjang pendidikan yang juga beragam, namun semuanya terlibat dalam kegiatan menghasilkan produk yang berkualitas secara keseluruhan di mata pelanggan. Setiap orang yang melakukan kontak dengan pelanggan menjadi faktor yang ikut mempengaruhi kesimpulan pelanggan terhadap mutu pelayanan rumah sakit, sekalipun hanya seorang cleaning service ataupun petugas parkir. Hal tersebut sesuai dengan keunikan karakteristik layanan jasa, dimana orang yang menyampaikan produk jasa adalah juga produk itu sendiri (yang akan dinilai oleh consumer). Oleh karena itu pengelolaan terhadap sumber daya yang satu ini menjadi hal yang sangat krusial. Seorang pimpinan rumah sakit harus mampu menanamkan tujuan organisasi pada seluruh bawahan (follower) dan menjadikan tujuan ini sejalan dengan tujuan pribadinya sebagai anggota organisasi, sehingga secara sadar dan sukarela, bawahan akan berupaya untuk mencapai tujuan tersebut.
Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah kepemimpinan yang seperti apa yang efektif bagi suksesnya suatu rumah sakit ?
Banyak studi ataupun riset yang telah dilakukan untuk mempelajari tentang kepemimpinan. Penelitian-penelitian tersebut melahirkan berbagai macam teori mengenai kepemimpinan, antara lain : Kepemimpinan menurut Teori sifat (Trait Theory).
Teori ini menjelaskan bahwa kepemimpinan adalah sifat atau bakat yang dibawa sejak lahir. Teori ini mengasumsikan seseorang dilahirkan sebagai pemimpin atau tidak sebagai pemimpin. Jika kita dapat mengidentifikasi karakter bawaan ini, maka kita dapat menemukan seorang pemimpin.
Judith R Gordon merumuskan karakter yang harus dimiliki seorang pemimpin adalah sebagai berikut :
- Kemampuan dalam melakukan pengawasan (Supervisory ability) kemampuan ini meliputi kemampuan dalam hal merencanakan (planning), mengorganisir (organizing), mempengaruhi (influencing) dan melakukan pengawasan (controlling) pada pekerjaan orang lain
- Need for occupational achievement
- Intelligence kreatif dan memiliki kemampuan verbal termasuk dalam membuat keputusan, berargumentasi, penalaran
- Tegas (Decisiveness) kemampuan untuk membuat keputusan dan memiliki kecakapan/keterampilan dalam menyelesaikan masalah
- Self-assurance
- Initiative kemampuan dalam menemukan cara baru (inovatif) dalam melakukan sesuatu
Didalam buku The Leadership Challenge diidentifikasi 20 karakter yang secara umum berkaitan dengan pemimpin yang baik, dan 5 diantaranya adalah :
- Honest (Jujur)
- Inspiring
- Forward-Looking /Melihat kedepan (visioner)
- Competent
- Intelligent
Ternyata sekalipun seseorang memiliki ciri-ciri karakter diatas, hal tersebut belum bisa meramakan efektifitas kepemimpinan, karenanya kemudian dikembangkan suatu studi yang khusus mengamati perilaku pemimpin dalam menghasilkan kepemimpinan yang efektif.
Teori ini dikenal sebagai Teori Perilaku (Behaviorist theories).
Teori kepemimpinan perilaku dicetuskan antara lain oleh Lewin, White & Lippit pada tahun 1930 an, mereka menjelaskan ada tiga (3) tipe perilaku pemimpin, yaitu :Authoritarian, Democratic & Laissez Faire
Teori-teori yang saya pelajari tersebut, kemudian menjadi referensi saya dalam menentukan diri saya termasuk tipe pemimpin dan mempunyai gaya kepemimpinan seperti apa, dan sebagai hasilnya saya lantas kemudian merasa punya bekal dan kemampuan menjadi seorang pemimpin, tetapi ternyata (eh ternyata.....) , di KEHIDUPAN NYATA(dalam memimpin rumah sakit), pemahaman terhadap teori-teori diatas ternyata tidak terlalu banyak menolong ketika saya harus berhadapan langsung dengan sekian banyak manusia dalam perusahaan yang memiliki latar belakang pendidikan, kematangan pribadi dan motivasi kerja yang berbeda-beda.
Dengan karakteristik yang demikian variatif, apalagi dalam sebuah perusahaan yang budaya organisasinya belum mengakar kuat dalam setiap insan, maka kesulitan-kesulitan satu demi satu menjadi tantangan yang tidak pernah putus-putusnya harus di hadapi.
Berdasarkan insting (dan kemudian mencari pembenaran secara ilmiah), hal pertama yang saya lakukan adalah mencoba mengenali siapa bawahan saya, bagaimana karakter dan apa jenis pekerjaannya. Secara alami, seorang bawahan selalu mengharapkan pimpinannya adalah seseorang yang memiliki kemampuan lebih baik dari mereka dalam arti sebenarnya, menjadi tempat bertanya dan tempat mereka mencari dan mendapatkan solusi dari permasalahan yang dihadapi.
Bagaimana mungkin seorang pimpinan dapat memberikan jawaban dan solusi yang diharapkan, jika pekerjaan yang digeluti bawahannya tidak dimengerti secara detail. Oleh karena itu, diawal kerja, saya jarang sekali berada dalam ruangan, saya lebih senang berkeliling dan bertanya-tanya, mengamati dan mempelajari mengenai detail pekerjaan bawahan, apalagi untuk bidang yang sama sekali asing bagi saya.
Semua jenisdan teknis pekerjaan harus saya pelajari dari masing-masing “pakarnya”, setiap staf atau bagian pelaksana menjadi guru buat saya dalam bidang pekerjaannya.
Terus Belajar menjadi kewajiban utama seorang pimpinan. Dengan mempelajari jenis pekerjaan yang mereka laksanakan setiap hari, saya kemudian menjadi mengerti “bahasa” yang mereka gunakan, dengan menggunakan bahasa merekalah saya berkomunikasi dan dengan demikian mereka kemudian dapat mengkomunikasikan kendala-kendala yang dihadapi, tanpa menyimpan pertanyaan “ si bos ngerti nggak ya apa yang saya maksud?”
(Ternyata,dorongan naluri untuk belajar merupakan salah satu prinsip, yang oleh Stephen R Covey disebutkan sebagai salah satu ciri dari Kepemimpinan yang berprinsip. Ini adalah pembenaran ilmiah yang saya temukan melalui membaca. Membaca adalah juga bagian dari proses belajar).
Terus belajar kemudian menjadi kebutuhan dasar bagi saya untuk selalu mengembangkan diri. Sekalipun ada pakar di bidang leadership mengatakan bahwa kepemimpinan adalah seni, namun saya juga percaya bahwa kepemimpinan adalah ilmu yang bisa dipelajari oleh setiap orang, kepemimpinan juga adalah keterampilan. karenanya, saya merasa perlu untuk terus mempelajari dan mengasah keterampilan sebagai seorang pemimpin. Karena pada dasarnya kepemimpinan berkaitan dengan keterampilan seseorang untuk menggerakkan orang lain melalui pengaruh yang dimiliki.
Pendekatan yang dilakukan untuk mengarahkan bawahannya tidak seragam untuk setiap orang. Misalnya, pendekatan yang dilakukan terhadap staf medik yang minimalnya adalah seorang dokter tentu akan lebih memudahkan bagi saya yang juga seorang dokter, karena paling tidak kami mempunyai cara dan pola berpikir yang hampir sama, sementara berbicara dengan petugas kebersihan kadang kala serasa "gak nyambung", bukan saja oleh sebab perbedaan tingkat pendidikan, tapi lebih utama karena “bahasa” yang digunakan saat berkomunikasi berbeda. Karenanya dengan mengenali karakter bawahan, penerapan metode kepemimpinan pada bawahan dapat disesuaikan dengan kebutuhannya.
Seorang pemimpin tidak harus mengadop/menerapkan satu jenis gaya kepemimpinan saja ketika berhadapan dengan bawahan yang bervariasi tadi, ia harus mampu mengenali metode pendekatan yang cocok bagi bawahannya, hal ini sesuai dengan Model Kepemimpinan Situasional (Situational Theory) dicetuskan oleh Paul Harsey dan Kenneth Blanchard.
Mereka menyatakan bahwa pembawaan yang harus dimiliki seorang pemimpin dapat berbeda-beda tergantung dari situasi yang dihadapinya.
Dr Djokosantoso Moeljono dalam bukunya More about Beyond Leadership menyebutkan bahwa ”Kemampuan seorang pemimpin untuk mengerti dan mendalami kemampuan dan kedewasaan bawahannya sangat berpengaruh pada gaya yang dipilihnya”.
Model kepemimpinan situasional memberikan pemahaman pada kita bahwa pemimpin yang mampu memodifikasi gaya kepemimpinannya berdasarkan berbagai jenis situasi yang mereka hadapi akan mencapai kriteria pemimpin yang efektif.
Harsey & Blanchard mengembangkan model kepemimpinan situasional efektif dengan memadukan tingkat kematangan anak buah dengan pola perilaku yang dimiliki pimpinannya.
Ada 4 tingkat kematangan bawahan (maturity of folowers), yaitu:
- M 1
- M 2
- M 3
- M 4
bawahan tidak mampu dan tidak mau atau tidak ada keyakinan
bawahan tidak mampu tetapi memiliki kemauan dan keyakinan bahwa ia bisa
bawahan mampu tetapi tidak mempunyai kemauan dan tidak yakin
bawahan mampu dan memiliki kemauan dan keyakinan untuk menyelesaikan tugas.
Ada empat (4) Gaya kepemimpinan situasional yang dikemukakan oleh Harsey-Blanchard, yang efektif untuk diterapkan,tergantung tipe dari bawahan yaitu :Telling, Selling, Participating dan delegating.
Telling:
Gaya kepemimpinan ini cocok diterapkan pada tipe bawahan yang termasuk kategori M1 atau jika anggota organisasi adalah orang baru , mereka yang belum berpengalaman dan membutuhkan bantuan, arahan dan dorongan untuk melakukan tugasnya (orang yang kurang memiliki motivasi). Pemimpin memberi instruksi teknis secara detail dan mengawasi pelaksanaan tugas dan kinerja anak buahnya, kadangkala menghadapi bawahan seperti ini, pimpinan harus berlaku sebagai polisi pengawas
Selling :
Gaya ini berguna ketika bawahan yang dipimpin mau melaksanakan tugasnya namun tidak memiliki keterampilan yang diharapkan ( belum dapat melakukan tugasnya sesuai dengan standar yang berlaku), memiliki motivasi untuk bekerja dengan baik.Gaya ini cocok untuk diterapkan pada bawahan yang termasuk dalam kelompok M2, dimana pemimpin menjelaskan keputusannya dan membuka kesempatan untuk bertanya bila kurang jelas.
Participating :
Gaya ini diterapkan pada tipe bawahan M3, dimana mereka sebenarnya mampu melakukan tugas yang diberikan tetapi tidak mau memulai atau menyelesaikan tugasnya. Dalam menghadapi tipe bawahan M3, pemimpin memberikan kesempatan kepada mereka untuk menyampaikan ide-ide, membangun komunikasi dua arah yang aktiv , memberi semangat dengan begitu diharapkan bawahan termotivasi karena ide dan gagasannya didengar dan menjadi dasar pertimbangan bagi pengambilan keputusan.
Delegating :
Pemimpin melimpahkan keputusan dan pelaksanaan tugas kepada bawahannya. Gaya ini bisa diterapkan apabila bawahannya termasuk memiliki tingkat kematangan yang tinggi (M4), dimana mereka mau dan mampu melaksanakan tanggung jawabnya. Menghadapi bawahan tipe ini, pemimpin dapat berkipas-kipas atau menselonjorkan kakinya sejenak karena bawahan mengerti dan paham apa yang diinginkan atasannya dan mengerti bagaimana merealisasikan keinginan tersebut. Pimpinan tidak perlu memberikan petunjuk maupun arahan yang terperinci, cukup dengan menegaskan tujuan yang hendak dicapai, bawahan akan segera menterjemahkannya.
(Dari berbagai sumber, msh bersambung ya....!!)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar