Perempuan Kemarin Sore
Rabu, 08 Juni 2011
Pantai Balekambang, Malang, Jawa Timur
Baru kali ini kunjungan ke kota Malang bisa digunakan buat mengunjungi beberapa obyek wisata yang ada disana, maklum sebelumnya sebagai “warga baru” dan menjadi orang yang ikutan “mudik “ (karena anak) di kala lebaran selalu direpotin dengan urusan beres-beres dan yang diselengin jalan-jalan cuma berputar seputar tengah kota dan nyambangin tempat-tempat makan, mulai dari Bakso President ,mbok Jayus yang nyuguhin ke khasan sambal ulek yang bisa dipesen jumlah cabe yang mau digerus, sampai nongkrong di Restaurant Melati @ Hotel Tugu yang punya galeri barang antik dan foto lukisan wanita berambut panjang yang agak-agak hmmm...horor (?)
Obyek pertama yang dikunjungi adalah pantai Balekambang yang katanya punya pesona yang indah mirip-mirip pantai Kuta Bali (ada yang bilang kaya’ tanah Lot), yang jadi salah satu ikon wisata pantai, yang lokasinya ada di Malang selatan.
Berbekal peta yang dibawa dari Jakarta, perjalanan berduaan dengan Abang dimulai. Padahal tanpa peta, banyak rambu yang memandu kesana, jadi gak perlu takut nyasar.
Berdasarkan informasi, pantai ini lokasinya kira-kira berjarak 69 km dari Pusat kota Malang, makanya sewaktu mau berangkat sudah menghitung-hitung berapa waktu yang diperlukan untuk sampai kesana, tapi ngitungnya salah pula, berpikir ada di jalan tol, pake kecepatan minimal aja deh 70 km/jam, maka satu jam kedepan udah akan bertelanjang kaki jalan-jalan santai ,berduaan di pantai, tapi ternyata salah besar.
Jalan menuju ke pantai sebenarnya bagus, beraspal licin, ada sebagian jalan yang memang rusak, tapi itu tidak mengganggu keasyikan menikmati perjalanan, cuma saja karena lebar jalan hanya cukup untuk dua mobil berpapasan dan harus pelan-pelan, alhasil waktu yang diperlukan jadi lebih lama, hampir 2 jam.
Jalan menuju pantai menyusuri hutan jati yang tumbuh berjejer seperti berbaris rapi dan pada beberapa daerah banyak terlihat perkebunan tebu (mulanya aku pikir pohon jagung,hehehe...), jalannya menurun dan mendaki (tadinya sempet mikir, kok mau ke pantai malah naik-naik ke bukit sih, jangan-jangan nyasar nih? Jadi gak pede juga). Tapi sebenernya gak harus heran lah secara Kabupaten Malang memang merupakan daerah pegunungan.
Waktu tempuh yang lama gak terasa sebentar (emang iya..!!), tapi mata nyaman bener melihat hamparan hijau di kiri kanan, di sisi kiri pepohonan jati (jati Emas) bersusun membentuk hutan yang asri , di kanan ada lembah , dan begitu udah melihat banyak pohon kelapa, daunnya berwarna hijau ada yang diselingi daun kering berwarna coklat dan diantara sela-sela daun itu terlihat warna birunya langit, paduan warna yang aku suka (eh..kebetulan aku pake baju warna senada alam), hati merasa lega, bau-bau pantai sudah terendus.
Panorama yang menawan membuat perjalanan yang lama ini jauh dari rasa yang membosankan, karena keindahan alamnya dan karena berduaannya....
Setelah melewati jalan yang berliku-liku, akhirnya sampai juga di Pintu gerbang lokasi wisata yang dituju, Pantai Balekambang
Keindahan langsung terekam di pandangan pertama, pasir putih keemasan terhampar luas di tepian pantai yang merupakan pesisir laut selatan, ombak menggulung menghasilkan tampilan warna putih, kontras dengan air di depan dan belakangnya yang berwarna hijau kebiruan, deburannya menghasilkan suara yang enak pula di dengar, sayangnya keindahan alaminya rusak oleh hamparan sampah yang mungkin belum sempat dibersihkan karena padatnya pengunjung yang menghabiskan waktu liburan lebaran di tempat ini, beberapa hari sebelumnya (dan pada saat gw datangpun pantai masih banyak dikunjungi mereka yang sengaja menikmati keindahan dari tepian, mandi-mandi dan menimbun diri dengan pasir, semuanya ceria)
Obyek wisata pantai yang terletak di desa Srigonco, kecamatan Bantur Malang ini dikelola oleh PD Jasa Yasa, memang sungguh menarik, di satu sisi terlihat ombak tak pernah putus dan berlapis, belum habis ombak mencapai kaki pantai yang berpasir, sudah menyusul ombak besar di belakangnya, tapi satu sisi lainnya, pantainya kok terlihat tenang.
Sebenarnya di pantai ini ada larangan berenang mengingat sifat ombak yang ganas, dan bendera bendera merah pun terlihat jelas walaupun dari jarak yang jauh, tetapi tetap saja ada orang yang “gagah berani (baca nekat)” menerjang ombak, mungkin karena darah warisan nenek moyang kita yang pelaut mengalir kental di pembuluh darah orang itu.
Selain pasir putih dan air laut yang bening sehingga kita bisa melihat ke dasarnya, pesona lain yang menarik mata dan akhirnya membawa kaki terus menapaki bibir pantai adalah pulau karang yang jaraknya gak jauh dari pantai dan bisa dicapai melalui jembatan beton yang panjangnya rasanya gak lebih dari 100 meter deh. (scara, aku kuat jalan sejarak itu tanpa terengah-engah, walaupun sebelumnya harus melewati jembatan miring, karena kaki jembatan patah, yang mendaki)
Ada 3 pulau yang berjejer sejajar ke arah Barat, dua diantaranya bisa dicapai para wisatawan dengan adanya jembatan yang menghubungkan tepi pantai dengan pulau tersebut. Pulau-pulau tersebut adalah Pulau Ismoyo, dan Pulau Wisanggeni. Sementara pulau Anoman tidak bisa disinggahi karena letaknya jauh dari bibir pantai.
Di Pulau Ismoyo, dibangun sebuah Pura yang diresmikan pada tanggal 17 Oktober 1985, dan diberi nama Pura Luhur Amerta Jati.
Pada pulau ini, dipasang spanduk peringatan tentang ganasnya ombak (tapi tetap pula tak diindahkan!)
Disekitar pulau terhampar Karang laut yang senantiasa dihempas ombak besar, karang menjadi tempat bersembunyinya biota laut.
Pemandangan alam,ombak besar putih yang menggulung , air laut bening hijau dan biru, butir-butir pasir bak permadani dibentang, pepohonan yang tumbuh antik dan unik, segalanya nampak sangat indah...hmmm...membuat suasana romantis tercipta begitu saja (hehe...dan kami pun bergandeng tangan menyusurinya).
Keindahan lukisan Alam Nya yang tidak bisa diuraikan secara persis dan pas disini karena begitu sempurnanya, cuma membuahkan komentar Subhanallah.
(jangan gak percaya indahnya, karena ini benar adanya...kalo gak percaya silahkan kunjungi aja!!)
280909
Minangkabau
Prolog:
Sebagai orang Minang yang lahir dan besar di tanah Jawa, sebelumnya aku sama sekali hampir tidak mengenal apalagi memiliki keterikatan emosional yang begitu kuat dengan tanah asal usul kedua orangtuaku, meski bukan sama sekali tidak tahu karena di rumah tempat aku bersama seluruh anak-anak lainnya tumbuh, nuansa dan warna Minang tetap ditanamkan.
Kami mengenal istilah, adat istiadat, tradisi dan budaya Minang meski hanya sepintas dan tak banyak. Silsilah keluarga sampai beberapa generasi diatas juga dijelaskan, jadi telinga tak asing pada kata ninik mamak, mamak kapalo waris, bakampuangan yang tak jarang kami dengar pada pertemuan pertemuan keluarga.
Tetapi, tiba-tiba saja, tali yang menghubungkan hati dengan tanah leluhur tak lagi kasat mata, dan simpulnya mulai menguat bahkan mulai menarik-narik rasa INGIN PULANG, sambil berupaya mempelajari setiap hal yang berkaitan dengan Minangkabau, yang dalam riwayatnya nan lalu merupakan salah sebuah kerajaan yang pernah berjaya di Nusantara.
Rindu yang kuat mengisi hati, melahirkan puisi
Aku ingin Pulang
Aku tiba-tiba jadi termangu
Ketika duka gempa lahirkan rindu
Pada tanah yang jarang kali kusentuh
Kecuali terpaksa karena ada duka
Atau lantaran harus urus pusaka
Selebihnya, jangan harap...
Aku tak berani terperangkap di antara awan untuk sampai padamu
Ranah yang merindu
Aku bukan perantau yang sesak dada bila tak pulang
Dan tak merasa sedang berada di negeri orang
Sungguh, tak pernah ku dengar suara kampuang nan maimbau
Aku tiba-tiba jadi perih merintih
Tanah yang tak terpilih untuk kudiami
Menatapku dengan nanar sedih tepat pada titik di mata hati
Dia merasa sangat kasihan
Padahal aku yang justru melihatnya tercobakan
Biarpun luka parah tubuh koyaknya yang renta
Tetap dibentang kedua lengannya yang gemetar
merengkuh setiap luka duka hatiku
lantas dibawa ke dada bunda kandung
“Kemarilah, nak ...” katanya
“Biar kuobati sedihmu”
Aduh....
Aku jadi ternganga dan berkaca-kaca
Aku ingin pulang...
Sejarah Minangkabau
Sekalipun tidak banyak catatan tertulis mengenai asal usul Minangkabau , namun sejarah dan Kebudayaan tetap meninggalkan jejaknya yang dapat ditelusuri melalui situs-situs purbakala yang masih bisa kita temukan di beberapa tempat, misalnya batu menhir yang dapat ditemukan di Kabupaten limapuluh kota yang merupakan bukti tentang keberadaan Minangkabau di masa pra sejarah.
Dalam tambo diriwayatkan bahwa leluhur suku bangsa Minangkabau semula bermukim di lereng gunung Merapi dan dengan semakin meluasnya wilayah pemukiman dibentuklah kerajaan Koto Baru dengan rajanya Sultan Sri Maharajo Dirajo untuk mengatur kehidupan bermasyarakat disana. Kerajaan ini disebut-sebut sebagai kerajaan pertama di ranah Minang. (h:4, MinangKabau, Myrta Soeroto)
Di dalam kisah asal usul Kerajaan Minangkabau, diceritakan bahwa asal usul Minangkabau ini tidak lepas dari kisah historis dua orang kakak beradik berlainan ayah. Mereka adalah Datuk Peratapati si Batang (dt Perpatih Nan sabatang) sebagai Jatang Sultan Balun dan Kei Tamanggungan (datuk Ketemanggungan) sebagai St Paduko Baso.
Mengenai keterkaitan dua orang tersebut bisa dilihat di situs Batu bertikam (Batu Batikam) yang terdapat di Dusun Tuo Lima Kaum, Batusangkar.
Secara geografis, Kerajaan Minangkabau terletak dibawah garis khatulistiwa dan secara de facto berbatasan dengan Sungai Palembang dan Sungai Siak di sebelah timur dan di sebelah barat berbatasan dengan Sungai Manjuta dan Sungai Singkil, daratan luasnya diselingkari oleh bukit-bukit.
Menurut sejarah, pada masa peralihan zaman pra sejarah ke zaman sejarah, garis penyebaran agama Hindu yang banyak meninggalkan catatan melalui kebudayaan baca tulis yang dikuatkan dengan ditemukannya berbagai macam prasasti ini tidak melalui wilayah Minangkabau, hal tersebut yang mungkin menjadi penyebab pada zaman sebelum Adityawarman suku suku Minangkabau hampir tidak mengenal kebudayaan baca tulis, sejarah dan cerita disampaikan melalui sastra lisan dengan cara bertutur.
Kerajaan Minangkabau
Kerajaan ini berkaitan dengan sejarah perjalanan Kerajaan-Kerajaan Melayu. Sejarah menyebutkan bahwa pada tahun 1347 Adityawarman memindahkan pusat kerajaan dibawah pemerintahannya ke Pedalaman Minang, yaitu ke Suruaso atau Pagaruyung setelah ia memproklamirkan dirinya sebagai maharaja yang menyandang gelar Srimat SriUdayadityawarman Pratapaparakrama Rajendra Mauli Warmadewa dan memberikan nama kerajaannya Sebagai Kerajaan Malayapura.
Awal mula dikenalnya nama Pagaruyung sebagai Kerajaan Melayu di Minangkabau tidak pula diketahui secara pasti sejak kapan, bahkan apakah Adityawarman pendirinya juga tidak ditemukan catatan yang jelas mengenainya, meski di Batusangkar terdapat prasasti-prasasti yang menjelaskan keberadaan Adityawarman.
Prasasti Suruaso yang oleh masyarakat dikenal sebagai “Batu bapahek” merupakan saluran air di sebuah bukit batu yang dibangun pada zaman hindu. Pada prasasti ini terdapat tulisan dengan dua bahasa yang menggunakan aksara Melayu dan aksara Nagari (Tamil) yang menjelaskan bahwa pada zaman itu Adityawarman merampungkan pembangunan selokan yang telah dimulai lebih dulu oleh Arakendrawarman, pamannya yang menjadi raja sebelumnya.
Selain itu terdapat pula prasasti Adityawarman di desa Kuburajo Nagari Lima Kaum, 4 km dari Barusangkar. Prasasti ini dikenal sebagai Batu basurek, dan pada tahun 1917 Prof Kern menterjemahkan tulisan yang terdapat di prasasti tersebut yang berbunyi :” Adityawarman maju perkasa, ia penguasa kanaka Medinindra atau suwarnadwipa (Sumatera atau Tanah Emas), ayahnya Adwadyawarman. Dia keluarga Indra”.
Sabtu, 08 Mei 2010
Tak mau tanpa Mu....
Hidup tanpa kasih Mu...
Macam pagi kehilangan mentari
Tak ada pekat mendung namun gelap seluas cakrawala
Tanpa gumpal awan hitam tebal, hujan turun sederasnya
Prahara pun dibawanya serta
Bak malam tanpa gemintang
Bulan tak gerhana pun, gulita sekeliling angkasa
Tanpa kabut, dingin jadi selimut
Apa pun yang tersentuh,jadi membeku kaku
Seperti melayari samudera
Nakhoda diberi, kemudi tak terkendali
Layar dikembangkan,Angin membawa bahtera kemana dia suka
Sauh dibenam, kapal terbawa karam
Tujuan yang ditempuh, arahnya semaki menjauh
Duh,ketika lelah dipelayaran
Kemanakah biduk tu hendak ditambatkan??
Pulau tempat berlabuhpun tepiannya rapuh
Hidup tanpa cahaya Mu
Jadi buta walau bermata
*****
"Karena sesungguhnya bukan mata itu yang buta
Tapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada"
(Al Hajj:46)
Macam pagi kehilangan mentari
Tak ada pekat mendung namun gelap seluas cakrawala
Tanpa gumpal awan hitam tebal, hujan turun sederasnya
Prahara pun dibawanya serta
Bak malam tanpa gemintang
Bulan tak gerhana pun, gulita sekeliling angkasa
Tanpa kabut, dingin jadi selimut
Apa pun yang tersentuh,jadi membeku kaku
Seperti melayari samudera
Nakhoda diberi, kemudi tak terkendali
Layar dikembangkan,Angin membawa bahtera kemana dia suka
Sauh dibenam, kapal terbawa karam
Tujuan yang ditempuh, arahnya semaki menjauh
Duh,ketika lelah dipelayaran
Kemanakah biduk tu hendak ditambatkan??
Pulau tempat berlabuhpun tepiannya rapuh
Hidup tanpa cahaya Mu
Jadi buta walau bermata
*****
"Karena sesungguhnya bukan mata itu yang buta
Tapi yang buta adalah hati yang ada di dalam dada"
(Al Hajj:46)
Jumat, 31 Juli 2009
tak mau tanpa MU
Tanpa Mu...
Bianglala mencakup seluruh pesona warna
Tergambar di wajah kelabu langit yang seharusnya biru
Gelap yang terbatas Tak gelisahkan pelangi
Karna dalam mendung warna warninya menjadi tersanjung
Pukau tepat berada di pusat pikat indahnya
Tapi tak bisa kunikmati...
Purnama merangkum segala cerah di lingkaran sempurnanya
Ajak pula bintang bersisian hiasi malam
Kelambu kabut terajut dari pekatnya awan
Membuat samar terang menjadi binar benderang
Takjub ada dalam kontras yang terbentang seluas alam
Tapi tak pula bisa kunikmati...
Sungguh...
Ku tak mau tanpa MU
Karena mata hatiku jadi tak peka
Bianglala mencakup seluruh pesona warna
Tergambar di wajah kelabu langit yang seharusnya biru
Gelap yang terbatas Tak gelisahkan pelangi
Karna dalam mendung warna warninya menjadi tersanjung
Pukau tepat berada di pusat pikat indahnya
Tapi tak bisa kunikmati...
Purnama merangkum segala cerah di lingkaran sempurnanya
Ajak pula bintang bersisian hiasi malam
Kelambu kabut terajut dari pekatnya awan
Membuat samar terang menjadi binar benderang
Takjub ada dalam kontras yang terbentang seluas alam
Tapi tak pula bisa kunikmati...
Sungguh...
Ku tak mau tanpa MU
Karena mata hatiku jadi tak peka
Langganan:
Postingan (Atom)



