Prolog:
Sebagai orang Minang yang lahir dan besar di tanah Jawa, sebelumnya aku sama sekali hampir tidak mengenal apalagi memiliki keterikatan emosional yang begitu kuat dengan tanah asal usul kedua orangtuaku, meski bukan sama sekali tidak tahu karena di rumah tempat aku bersama seluruh anak-anak lainnya tumbuh, nuansa dan warna Minang tetap ditanamkan.
Kami mengenal istilah, adat istiadat, tradisi dan budaya Minang meski hanya sepintas dan tak banyak. Silsilah keluarga sampai beberapa generasi diatas juga dijelaskan, jadi telinga tak asing pada kata ninik mamak, mamak kapalo waris, bakampuangan yang tak jarang kami dengar pada pertemuan pertemuan keluarga.
Tetapi, tiba-tiba saja, tali yang menghubungkan hati dengan tanah leluhur tak lagi kasat mata, dan simpulnya mulai menguat bahkan mulai menarik-narik rasa INGIN PULANG, sambil berupaya mempelajari setiap hal yang berkaitan dengan Minangkabau, yang dalam riwayatnya nan lalu merupakan salah sebuah kerajaan yang pernah berjaya di Nusantara.
Rindu yang kuat mengisi hati, melahirkan puisi
Aku ingin Pulang
Aku tiba-tiba jadi termangu
Ketika duka gempa lahirkan rindu
Pada tanah yang jarang kali kusentuh
Kecuali terpaksa karena ada duka
Atau lantaran harus urus pusaka
Selebihnya, jangan harap...
Aku tak berani terperangkap di antara awan untuk sampai padamu
Ranah yang merindu
Aku bukan perantau yang sesak dada bila tak pulang
Dan tak merasa sedang berada di negeri orang
Sungguh, tak pernah ku dengar suara kampuang nan maimbau
Aku tiba-tiba jadi perih merintih
Tanah yang tak terpilih untuk kudiami
Menatapku dengan nanar sedih tepat pada titik di mata hati
Dia merasa sangat kasihan
Padahal aku yang justru melihatnya tercobakan
Biarpun luka parah tubuh koyaknya yang renta
Tetap dibentang kedua lengannya yang gemetar
merengkuh setiap luka duka hatiku
lantas dibawa ke dada bunda kandung
“Kemarilah, nak ...” katanya
“Biar kuobati sedihmu”
Aduh....
Aku jadi ternganga dan berkaca-kaca
Aku ingin pulang...
Sejarah Minangkabau
Sekalipun tidak banyak catatan tertulis mengenai asal usul Minangkabau , namun sejarah dan Kebudayaan tetap meninggalkan jejaknya yang dapat ditelusuri melalui situs-situs purbakala yang masih bisa kita temukan di beberapa tempat, misalnya batu menhir yang dapat ditemukan di Kabupaten limapuluh kota yang merupakan bukti tentang keberadaan Minangkabau di masa pra sejarah.
Dalam tambo diriwayatkan bahwa leluhur suku bangsa Minangkabau semula bermukim di lereng gunung Merapi dan dengan semakin meluasnya wilayah pemukiman dibentuklah kerajaan Koto Baru dengan rajanya Sultan Sri Maharajo Dirajo untuk mengatur kehidupan bermasyarakat disana. Kerajaan ini disebut-sebut sebagai kerajaan pertama di ranah Minang. (h:4, MinangKabau, Myrta Soeroto)
Di dalam kisah asal usul Kerajaan Minangkabau, diceritakan bahwa asal usul Minangkabau ini tidak lepas dari kisah historis dua orang kakak beradik berlainan ayah. Mereka adalah Datuk Peratapati si Batang (dt Perpatih Nan sabatang) sebagai Jatang Sultan Balun dan Kei Tamanggungan (datuk Ketemanggungan) sebagai St Paduko Baso.
Mengenai keterkaitan dua orang tersebut bisa dilihat di situs Batu bertikam (Batu Batikam) yang terdapat di Dusun Tuo Lima Kaum, Batusangkar.
Secara geografis, Kerajaan Minangkabau terletak dibawah garis khatulistiwa dan secara de facto berbatasan dengan Sungai Palembang dan Sungai Siak di sebelah timur dan di sebelah barat berbatasan dengan Sungai Manjuta dan Sungai Singkil, daratan luasnya diselingkari oleh bukit-bukit.
Menurut sejarah, pada masa peralihan zaman pra sejarah ke zaman sejarah, garis penyebaran agama Hindu yang banyak meninggalkan catatan melalui kebudayaan baca tulis yang dikuatkan dengan ditemukannya berbagai macam prasasti ini tidak melalui wilayah Minangkabau, hal tersebut yang mungkin menjadi penyebab pada zaman sebelum Adityawarman suku suku Minangkabau hampir tidak mengenal kebudayaan baca tulis, sejarah dan cerita disampaikan melalui sastra lisan dengan cara bertutur.
Kerajaan Minangkabau
Kerajaan ini berkaitan dengan sejarah perjalanan Kerajaan-Kerajaan Melayu. Sejarah menyebutkan bahwa pada tahun 1347 Adityawarman memindahkan pusat kerajaan dibawah pemerintahannya ke Pedalaman Minang, yaitu ke Suruaso atau Pagaruyung setelah ia memproklamirkan dirinya sebagai maharaja yang menyandang gelar Srimat SriUdayadityawarman Pratapaparakrama Rajendra Mauli Warmadewa dan memberikan nama kerajaannya Sebagai Kerajaan Malayapura.
Awal mula dikenalnya nama Pagaruyung sebagai Kerajaan Melayu di Minangkabau tidak pula diketahui secara pasti sejak kapan, bahkan apakah Adityawarman pendirinya juga tidak ditemukan catatan yang jelas mengenainya, meski di Batusangkar terdapat prasasti-prasasti yang menjelaskan keberadaan Adityawarman.
Prasasti Suruaso yang oleh masyarakat dikenal sebagai “Batu bapahek” merupakan saluran air di sebuah bukit batu yang dibangun pada zaman hindu. Pada prasasti ini terdapat tulisan dengan dua bahasa yang menggunakan aksara Melayu dan aksara Nagari (Tamil) yang menjelaskan bahwa pada zaman itu Adityawarman merampungkan pembangunan selokan yang telah dimulai lebih dulu oleh Arakendrawarman, pamannya yang menjadi raja sebelumnya.
Selain itu terdapat pula prasasti Adityawarman di desa Kuburajo Nagari Lima Kaum, 4 km dari Barusangkar. Prasasti ini dikenal sebagai Batu basurek, dan pada tahun 1917 Prof Kern menterjemahkan tulisan yang terdapat di prasasti tersebut yang berbunyi :” Adityawarman maju perkasa, ia penguasa kanaka Medinindra atau suwarnadwipa (Sumatera atau Tanah Emas), ayahnya Adwadyawarman. Dia keluarga Indra”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar