Dan ini adalah pengalamanku itu…..
Sama sekali tidak dimaksudkan bahwa acara jalan-jalan bersama anakku akan diakhiri dengan sebuah pertengkaran, hanya karena berbeda dalam memandang persoalan. Sebenarnya perbedaan tersebut hanya seukuran potongan daging yang akan kami santap, kecil…. tapi menjadi besar karena egoku sebagai orang tua
“Nin, steak Uni jangan dicoel-coel dulu deh, kt berdua aja makannya”
“emangnya knapa Ma?” Anakku bertanya karena dia pasti bingung, karena jumlah porsi yang diantarkan sesuai dengan jumlah pesanan, kenapa harus makan berdua, begitu mungkin pikirnya
“Takut gak abis, kita kan udah kenyang duluan makan kerupuk dan emping, ditambah air jeruk”
Anakku tidak menjawab iya, dan tidak juga bilang tidak, dia hanya diam sambil menggeser piringnya ke arahku. Tapi sok taunya aku, aku seolah paranormal yang yang merasa mampu membaca pikirannya, dan langsung bertanya dengan suara yang sudah mulai meningkat nadanya
“Emangnya uni yakin abis ?”
“ Uni belum tentu abis dan belum tentu gak abis juga Ma!”
Singkat cerita percakapan diatas dilanjutkan dan aku menjadi marah. Dan dari kemarahan keluarlah berkalimat-kalimat kata yang isinya menyakitkan hati anakku, buktinya dalam diam, airmatanya menyampaikan itu. Aku memandangnya sebagai sikap melawan dalam hati, dan karena aku tidak mau kata-kataku berlanjut memojokkan ketidakberdayaannya, maka aku segera pergi menjauh darinya. Aku tinggalkan dia tanpa memikirkan mampukah ia menahan isak di tengah keramaian sedangkan hatinya halus.
(Simak dengan seksama, dimana sebenarnya letak sumber masalah yang bisa bikin aku menusuk hatinya dengan kata-kata yang tidak tanggung-tanggung tajamnya?... BETUL… tidak ada seharusnya!)
Tapi begitulah orang tua (aku)….seringkali menjadi tidak bisa menahan amarah dalam menghadapi anak, dan menghukum juga tidak kira-kira
Pelajaran pertama “FIRST DO NO HARM”
(Mengutip Prinsip Hippocrates, yang sekarang ini sedang menjadi issu global di pelayanan Kesehatan, PATIENT SAFETY)
Menghukum anak atas kesalahan yang dia lakukan adalah bagian dari mempersiapkan dirinya menjadi makhluk dewasa yang bertanggung jawab, prinsipnya jangan merusak, baik hati maupun fisiknya apalagi sampai meninggalkan bekas yang mungkin membuatnya akan kembali merasakan sakit yang sama padahal sumbernya telah lama sirna, meninggalkan dendam.
Perhatikan kata-kata yang kita gunakan, karena ternyata kata-kata mempunyai kemampuan yang luar biasa , dia bisa memompa semangat, dan memotivasi anak menjadi baik, tetap dia juga bisa merusak dan menggalkan kerusakan menetap sebagai cacat psikologis.
Menghadapi perilaku anak yang kadang tidak sesuai dengan apa yang kita tuntut padanya memang seringkali membuat hati menjadi kesal dan berbuntut menjadi marah, sekalipun kita berdalih demi kebaikan, memarahi anak tetap ada aturannya. Ingatlah yang menjadi tujuan adalah mendidiknya, bukan mempermalukannya.
Allah telah memfirmankan mengenai hal ini dalam surat Adh Dhuha :9
”Dan kepada anak kecil, janganlah engkau membentaknya”
Pelajaran Kedua : SABAR
Betapa memang tidak mudah, menyikapi perilaku anak yang adakalanya seperti sengaja sedang menggoda, sejauh mana kita sebagai orang tua mampu bersabar menghadapinya.
Ada kalimat Allah yang tercantum dalam Alqur’an surat At Taghabun : 14, isinya demikian :
” Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”
Dan Nabi Shalallahu Alaihi wa Salam juga pernah bersabda :
” Barang siapa menahan amarahnya, dan ia mampu melakukannya, maka Allah akan menyerunya di hadapan seluruh makhluk pada Hari Kiamat dan memberikan kebebasan memiliki bidadari mana yang ia suka ”
(HR At-Tirmidzi).
Bersabar adalah hal yang tidak aku maksimalkan saat kemarin berbeda pandang dengan anakku, hasilnya dia tersakiti dan saya juga tidak merasa bahagia. Ada beban yang tiba-tiba menghimpit dada dan terasa panas, mengapa saya berlaku seperti itu padanya.
Waktu kemudian mencairkan hati yang semula terbakar, dan Anakku telah pula meminta maaf (walaupun via HP)
”Maafin Uni ya Ma!”
” Ya.... tolong dong, Uni jangan sering-sering bikin Mama marah”
” Mama juga, kalau marah jangan suka pake kata yang nyakitin dong”
Ah.... tetap saja, kami memang selalu berdebat berdua.
Malam ketika akan tidur, kepalanya ada di lenganku, dan aku berkata ;
”Uni tau khan, mama sayaaaaanng banget sama Uni” sambil mencium keningnya yang mungil.
”Maafin mama ya”
”hemmm....” sekali ini kelihatan kalau dia yang gengsi.
Anak2ku memang lebih pintar dariku, dia sumber yang tak habis-habisnya menjadi inspirasiku untuk belajar dan belajar agar menjadi orang tua yang pas buat mereka.
Catatan :
Pengetahuan yang aku tularkan sekarang berasal dari buku-buku yang dihadiahkannya untukku bertahun-tahun yang lalu.
Ada banyak yang dia belikan , dua diantaranya adalah
- 20 Kesalahan Dalam Mendidik Anak.
- Antara Orang Tua dan Anak
Diangkat dari kejadian sebenarnya
Jakarta, 29 Januari 2009
Putri Yoen Aulina
Tidak ada komentar:
Posting Komentar