Selasa, 17 Februari 2009

Perempuan

Katanya, kalau masalah menjadi urusan perempuan, maka sgalanya akan berkembang menjadi rumit. Karena menurut mereka yang beranggapan demikian, perempuan kalo mikir pake’ perasaan.
Apa iya? Kok kaya’nya ada kesan negatif yang tersirat dibalik kalimat itu.

Aku malah mikir sebaliknya. Justru kalo mikir pake ”perasaan” (hati maksudnya. *walaupun aku tahu yang sebetulnyanya melakukan tugas ini adalah otak*) hasilnya justru akan lebih hati-hati, lebih empati dan lebih menenggang. Sebab pasalnya adalah tidak mau mencetuskan sesuatu yang kita sendiri tidak mau kalau harus mengalami. Mikir pake hati lebih aman hasilnya, otak (rasio) memproses segalanya menjadi bulat dan hati menyempurnakan.

Kita mungkin akan kemudian menjadi sangat berbeda pendapat mengenai hal ini, tapi baiknya sebelum memulai perdebatan samakan persepsi pada apa yang dimaksud dengan hati atau perasaan.
Hati yang kita maksudkan, bukan organ yang terdapat di rongga perut sebelah kanan atas dibawah tulang rusuk, tetapi sesuatu (organ atau bukan ya?) yang letaknya di rongga dada, tapi kita sering menyebutnya hati. (buktinya : kalau ada orang yang tersakiti perasaannya, maka biasanya ia akan mengatakan ini : ”sakiiiiitt banget hati gue” sambil menepuk2 bagian tengah dadanya.)
Dan karena pernah merasakan aku kasih tau bahwa rasa yang ditimbulkannya memang persis di bagian itu, seperti disayat?, diiris? ditusuk? Gak ngerti, tapi memang disitu sensasi yang menyakitkan terasa)

Kembali ke topik
Mengambil contoh kasus sahabat

Disaat dia menceritakan masalah yang tengah dihadapi, yang dia bilang hampir gak sanggup ditanggungnya (perselingkuhan suami tercinta), dia bertanya via hape ” Apa dong yoen yang harus gw buat?” tanya dia tanpa air mata
Lantas saat itu aku memberikan segudang jawaban yang dihasilkan dari proses berpikir yang melibatkan logika-logika rasional.
Bahwa perselingkuhan tidak mungkin disebabkan oleh satu pelaku...
bahwa perempuan yang menjadi obyek perselingkuhan suaminya adalah juga korban yang sama seperti temanku itu...
bahwa ini…. bahwa itu….bahwa blablabla…. yang didalamnya ada pembenaranku pada kelakuan perempuan yang berkelakukan tidak benar menurutnya (dan menurutku juga,sejujurnya).
Jadi gak seharusnya menyalahkan orang itu seratus persen. (*sok tau* red)

Dan terciptalah airmata temanku dan mengalir lewat salurannya secara deras, tak terbendung lagi... HU...HU...HU....HU ada lebih 10 menit terdengar karna dia gak sanggup mematikan hape, setelah dia mendengar jawabanku.
(dan aku terdiam? Lantas secara gak sengaja mikir pake perasaan, ada empati berperan disitu)

Begini pikiranku waktu itu :

Coba aku di posisi sahabatku itu, tiba2 sadar ada kenyataan perselingkuhan yang nyata di depan mata dan bukan sekedar prasangka. Kira-kira aku akan merasa apa ya?
Reaksi yang timbul dari berandai-andai ternyata sama persis dengan kejadian sebenarnya yang sedang dialami sahabatku.
Kalo aku mengeluarkan pendapat seperti yang aku lontarkan pada dia waktu minta sedikit advis dari ku, apa yang akan aku lakukan ya?
(TUTUP TELPON, sebell dan bilang Sia***Bip*!, dan kapok gak bakal nanya2 dia lagi, sumpah!!. *lebih ekstrim khan?*)

Jadi seharusnya, jangan sekedar rasional, cari pembenaran baik tidaknya di dalam rongga dada yang terdalam.

Ah jadi bingung.....karena aku ngomong sekedar bedasarkan asumsi, tapi sedang mencari referensi (wujud tanggung jawab atas apa yang aku ucapkan), Apa benar, apa salah?

Apa iya kalo perempuan selalu bikin rumit masalah, karena mikir pake ”perasaan?


Aku SERATUS PERSEN kagak setuju!

Catatan:
Rie.... Maaf ya, dulu gw sok tau!!



5 Februari 2009
Menyelinap sebentar dari ruang training
karena tiba2 pengen nulis

Tidak ada komentar: