Selasa, 17 Februari 2009

Bersahabat sampai akhir..

*Selalu ada pesanan dari sahabatku,
tulis tentang ini dong.....
atau tulis mengenai itulah!.......*


Dan kali ini teman satu ini minta aku menulis tentang Imam, sahabat kami yang telah almarhum beberapa tahun yang lalu. Dan aku cuma menjawab:
“Iya, nanti gw buat….” tapi dalam hati ada kalimat terusannya, yang membuat sampai saat ini aku belum bisa-bisa bikin tulisan itu. Dan seperti biasa, karana bakat tukang kredit yang ada dalam diri kawanku itu, hampir setiap hari aku ditagih
“ Mana dong Yoen?
“ Aduh Ri…. Kalo nulis tentang Imam, knapa gw kehilangan ide ya, butek!”, sambil nyari alasan untuk menjawab pertanyaan lanjutannya. Sebelum dia nanya, aku udah jawab :
“itu buat kenangan sendiri aja deh. (Sendiri maksudnya kelompok : Yoen , Arie dan Lucy)”
Supaya bujukannya berhasil, banyak ide dan cara berlompatan di benaknya yang dia lemparkan ke gw dan salah satu sarannya adalah dia menganjurkan supaya aku menyamarkan Imam dan kami, supaya gak ada yang tau kalo itu tentang gw, tentang Imam dan tentang Lucy juga sang sahabatku.
“Tapi nanti jadi gak kena tujuannya lagi” pikirku, pasti akan jadi seperti cerita yang sekedar lahir dari imajinasi, padahal persahabatan yang mau dilukiskan ini benar2 ada.
Akhirnya keputusan dibuat, tentang Imam jadi catatan (notes).... (Anggap aja ini sebagai salah satu cara mengenang almarhum).

Alkisah, kira-kira beberapa tahun sebelum kami mendapat kabar Imam sakit, gw mimpi tentang Imam yang sudah sejak tahun 81 gak pernah sua. Karena aneh menurut pikiranku (knapa aku tiba2 mimpiin dia), maka aku mulai hunting berita mengenainya, dan alhamdulillah aku berhasil kontak dengan Imam dan gw ceritain kronologisnya sampe gw bisa ngobrol lagi setelah sekian lama.
“iya nih yoen, aku lagi sakit, tapi udah berobat sih.........”
Setelah itu, aku dan dia (ky judul lagu) tetep berkomunikasi sesekali aja, sampe akhirnya komunikasi terputus lagi dan aku kehilangan kontak yang kedua kalinya.
Ada sekitar lebih kurang 6 bulanan lah kami gak telpon2an (*wuiii....sampe detail gitu ingetnya...red*)), tiba-tiba dia menghubungi aku untuk minta bantuan. Sayangnya, (dengan berbagai analisa sebelumnya) aku jadi punya kesimpulan negatif sehingga aku gak kasih bantuan yang dia perlukan saat itu. (secara menurutku gak mungkinlah kata-kata itu keluar dari mulutnya.......)
Dan entah apakah karena itu, Imam menghilang lagi cukup lama, dan akupun gak berusaha untuk coba menghubunginya.
Kabar tentang Imam kemudian datang lagi, tapi isinya berita sedih. Teman SMA (sebut saja Asih) mengirimkan pesan singkat, tentang temanku yang sedang menjalani pengobatan dan radioterapi di Singapura, mengalami musibah ganda. Anak sulungnya yang seusia sulungku meninggal dunia karena sakit, saat merawat papanya di sana.
Inalillahi wa inailaihi rojiun...

(penyesalan pertama muncul.... jangan2 wkt dulu dia minta bantuan, kondisinya memang lagi bener2 kepepet, kenapa aku gak bantu ya?)

Akhirnya.. Imam melanjutkan pengobatan disini, di Jakarta, secara medis, alternatif dan segala upaya yang bisa ia dan keluarganya lakukan.
Informasi mengenai kondisi teman sma yang tengah sakit dan sedang ditimpa berbagai macam cobaan (ibunya juga sakit berat saat itu dan dirawat bersebrangan kamar), kami sebarkan pada semua teman sekelas masa SMA, dan penghiburan dari teman-teman, sedikitnya menambah besar semangat hidupnya (reuni yang seperti ini yg seharusnya kita lakukan, bener gak?).
Kondisi psikisnya mulai membaik, walaupun penyakitnya terus berkembang secara progresif yang membuatnya kemudian harus menjalani perawatan di RS. Dan mulailah persahabatan kami berperan dan secara gak sengaja membuat Imam secara psikologis tergantung pada kami bertiga. Kami harus selalu muncul di kamarnya setiap hari, sekedar mendengarkan dia ngomong (walaupun sering kita potong dengan ucapan ”udah deh istirahat aja”.., atau malah hanya melihat dia tertidur tanpa melakukan apa-apa, datang sendiri-sendiri dan ada jadwal ketiga-tiganya muncul secara bersamaan.

(eh terus terang lho ....keluarganya, teman2 istrinya, kakak2nya sampai bingung, sbenernya siapa sih kami bertiga ini?, tapi kita tetep aja hadir dari waktu ke waktu, menemani dia)

Disaat Imam merasa syak pada ketetapan Allah, kami harus mampu meluruskannya, menenangkan kegelisahannya dan membantunya sedikit demi sedikit ikhlas menghadapi hal itu, membawakan bacaan-bacaan yang dapat mempertebal keimanan dan bersama-sama dalam khidmat membaca doa . Dia menangis kamipun jadi ikut menitikkan air mata (apalagi Arie...huhuhu...suara itu keluar tanpa malu2, aku tak terlalu kentara reaksinya bukan karena lebih tegar, tapi jaim, dan Lucy cuma diam tapi diam-diam melakukan gerakan menghapus air mata disaat kami lengah).
Lucy, aku dan Arie, jadi bisa merawat dia seperti layaknya suster, bahkan beberapa kegiatan yang seharusnya dilakukan oleh perawat disana, seperti pasang infus dan memberi obat bisa beralih ke aku (dan untung aja aku bisa, tentu aja setelah ada izin dari direktur RS yang kebetulan adalah oomnya)
Kadang2 adakalanya seperti tidak berperasaan kegiatan yang kami lakukan, bercanda dan tertawa ditengah kesakitannya, tapi Demi Allah, saat itu kami hanya ingin semata-mata menghiburnya.
Kegiatan rutin berlangsung cukup lama. Bisa aja disaat kami sedang bekerja, ada telpon dari Sam yang bilang begini :
”bu Yoen.... pak Imam kesakitan terus...”, dan biasanya reaksi spontan yang timbul adalah salah satu dari kami meluncur ke RS, bisa Lucy, bisa Arie dan bisa juga aku ( tapi yang paling sering adalah......??)

Masa-masa menyedihkan berlangsung cukup lama namun doa dan kunjungan dari teman2 SMA mengalir terus, rasanya hampir tidak ada kata lelah (bahkan rasa lelah yang sebenarnya) untuk sahabat kami itu.
Hari-hari terakhir kehidupannya, Imam minta pulang ke rumah, ingin berkumpul dengan keluarganya. Tapi di rumah kondisinya semakin menurun, makan susah, bergerak apalagi sehingga kami memutuskan memanggil perawat untuk home care. Gw,Arie dan Lucy sibuk, karena peralatan yang diperlukan untuk perawatan di rumah kan belum tersedia. Ah untungnya perawat temanku itu rumahnya gak terlalu jauh dari rumah Imam, sehingga aku bisa minta tolong dia untuk memonitor kondisi Imam.
Sehari sebelum Imam pergi,aku dan Arie di rumahnya, saat itu entah karena apa, kami berdua, dengan dibantu oleh kakak istrinya, membongkar kamar Imam, menggeser tempat tidur dan merubah posisinya menghadap kiblat, menyiapkan sajadah, dan memanggil Akbar untuk menemani ayahnya. Dan Akbar membisikkan kalimat tauhid serta berulang2 membacakan Al Fatihah utk sang papa.
Imam masih sanggup bicara, kata terakhir yang dia ucapkan adalah :
"Yoen, udah malem...kamu pulang deh" Walaupun heran, kenapa dia tiba-tiba minta kami pulang, akhirnya aku dan Arie memang pulang, dan Lucy yang datang menggantikan. Dari Lucy kami dapat khabar kondisi Imam semakin memburuk.

Semua orang yang terkait dengan Imam secara pribadi ataupun terhubung karena kondisi penyakitnya senantiasa berupaya mencari jalan terbaik untuk dia, keluarga dan teman berdoa, dokter dan perawat telah melakukan upaya sesuai dengan keilmuannya, namun pilihan yang terbaik untuknya adalah yang berasal dari sang Khalik.
Sudah saatnya ia kembali kepada sang Pencipta.
Innalillahi wa inailaihi rojiuun...


Kepergian almarhum kembali pada NYA diantar oleh hampir sebagian teman sekelasnya di SMA.

Sedih karena kehilangan teman.....
lega karena akhirnya dia terlepas dari rasa sakit yang tak tertahankan ....
menjadikan doa dan airmata
bercampur semerbaknya air mawar dan bunga
di tanah merah pemakaman ....
dalam keikhlasan.....



catatan:

  • tulisan ini sudah direvisi, dengan cerita tambahan dari Arie

  • * Rie.... gw udah gak punya utang lagi khan, gw cuma mampu bayar segini!

  • Membantu mengenang Imam Suwardjo,klo gak salah smp 4, sma pasti 1

Tidak ada komentar: