Baru kali ini kunjungan ke kota Malang bisa digunakan buat mengunjungi beberapa obyek wisata yang ada disana, maklum sebelumnya sebagai “warga baru” dan menjadi orang yang ikutan “mudik “ (karena anak) di kala lebaran selalu direpotin dengan urusan beres-beres dan yang diselengin jalan-jalan cuma berputar seputar tengah kota dan nyambangin tempat-tempat makan, mulai dari Bakso President ,mbok Jayus yang nyuguhin ke khasan sambal ulek yang bisa dipesen jumlah cabe yang mau digerus, sampai nongkrong di Restaurant Melati @ Hotel Tugu yang punya galeri barang antik dan foto lukisan wanita berambut panjang yang agak-agak hmmm...horor (?)
Obyek pertama yang dikunjungi adalah pantai Balekambang yang katanya punya pesona yang indah mirip-mirip pantai Kuta Bali (ada yang bilang kaya’ tanah Lot), yang jadi salah satu ikon wisata pantai, yang lokasinya ada di Malang selatan.
Berbekal peta yang dibawa dari Jakarta, perjalanan berduaan dengan Abang dimulai. Padahal tanpa peta, banyak rambu yang memandu kesana, jadi gak perlu takut nyasar.
Berdasarkan informasi, pantai ini lokasinya kira-kira berjarak 69 km dari Pusat kota Malang, makanya sewaktu mau berangkat sudah menghitung-hitung berapa waktu yang diperlukan untuk sampai kesana, tapi ngitungnya salah pula, berpikir ada di jalan tol, pake kecepatan minimal aja deh 70 km/jam, maka satu jam kedepan udah akan bertelanjang kaki jalan-jalan santai ,berduaan di pantai, tapi ternyata salah besar.
Jalan menuju ke pantai sebenarnya bagus, beraspal licin, ada sebagian jalan yang memang rusak, tapi itu tidak mengganggu keasyikan menikmati perjalanan, cuma saja karena lebar jalan hanya cukup untuk dua mobil berpapasan dan harus pelan-pelan, alhasil waktu yang diperlukan jadi lebih lama, hampir 2 jam.
Jalan menuju pantai menyusuri hutan jati yang tumbuh berjejer seperti berbaris rapi dan pada beberapa daerah banyak terlihat perkebunan tebu (mulanya aku pikir pohon jagung,hehehe...), jalannya menurun dan mendaki (tadinya sempet mikir, kok mau ke pantai malah naik-naik ke bukit sih, jangan-jangan nyasar nih? Jadi gak pede juga). Tapi sebenernya gak harus heran lah secara Kabupaten Malang memang merupakan daerah pegunungan.
Waktu tempuh yang lama gak terasa sebentar (emang iya..!!), tapi mata nyaman bener melihat hamparan hijau di kiri kanan, di sisi kiri pepohonan jati (jati Emas) bersusun membentuk hutan yang asri , di kanan ada lembah , dan begitu udah melihat banyak pohon kelapa, daunnya berwarna hijau ada yang diselingi daun kering berwarna coklat dan diantara sela-sela daun itu terlihat warna birunya langit, paduan warna yang aku suka (eh..kebetulan aku pake baju warna senada alam), hati merasa lega, bau-bau pantai sudah terendus.
Panorama yang menawan membuat perjalanan yang lama ini jauh dari rasa yang membosankan, karena keindahan alamnya dan karena berduaannya....
Setelah melewati jalan yang berliku-liku, akhirnya sampai juga di Pintu gerbang lokasi wisata yang dituju, Pantai Balekambang
Keindahan langsung terekam di pandangan pertama, pasir putih keemasan terhampar luas di tepian pantai yang merupakan pesisir laut selatan, ombak menggulung menghasilkan tampilan warna putih, kontras dengan air di depan dan belakangnya yang berwarna hijau kebiruan, deburannya menghasilkan suara yang enak pula di dengar, sayangnya keindahan alaminya rusak oleh hamparan sampah yang mungkin belum sempat dibersihkan karena padatnya pengunjung yang menghabiskan waktu liburan lebaran di tempat ini, beberapa hari sebelumnya (dan pada saat gw datangpun pantai masih banyak dikunjungi mereka yang sengaja menikmati keindahan dari tepian, mandi-mandi dan menimbun diri dengan pasir, semuanya ceria)
Obyek wisata pantai yang terletak di desa Srigonco, kecamatan Bantur Malang ini dikelola oleh PD Jasa Yasa, memang sungguh menarik, di satu sisi terlihat ombak tak pernah putus dan berlapis, belum habis ombak mencapai kaki pantai yang berpasir, sudah menyusul ombak besar di belakangnya, tapi satu sisi lainnya, pantainya kok terlihat tenang.
Sebenarnya di pantai ini ada larangan berenang mengingat sifat ombak yang ganas, dan bendera bendera merah pun terlihat jelas walaupun dari jarak yang jauh, tetapi tetap saja ada orang yang “gagah berani (baca nekat)” menerjang ombak, mungkin karena darah warisan nenek moyang kita yang pelaut mengalir kental di pembuluh darah orang itu.
Selain pasir putih dan air laut yang bening sehingga kita bisa melihat ke dasarnya, pesona lain yang menarik mata dan akhirnya membawa kaki terus menapaki bibir pantai adalah pulau karang yang jaraknya gak jauh dari pantai dan bisa dicapai melalui jembatan beton yang panjangnya rasanya gak lebih dari 100 meter deh. (scara, aku kuat jalan sejarak itu tanpa terengah-engah, walaupun sebelumnya harus melewati jembatan miring, karena kaki jembatan patah, yang mendaki)
Ada 3 pulau yang berjejer sejajar ke arah Barat, dua diantaranya bisa dicapai para wisatawan dengan adanya jembatan yang menghubungkan tepi pantai dengan pulau tersebut. Pulau-pulau tersebut adalah Pulau Ismoyo, dan Pulau Wisanggeni. Sementara pulau Anoman tidak bisa disinggahi karena letaknya jauh dari bibir pantai.
Di Pulau Ismoyo, dibangun sebuah Pura yang diresmikan pada tanggal 17 Oktober 1985, dan diberi nama Pura Luhur Amerta Jati.
Pada pulau ini, dipasang spanduk peringatan tentang ganasnya ombak (tapi tetap pula tak diindahkan!)
Disekitar pulau terhampar Karang laut yang senantiasa dihempas ombak besar, karang menjadi tempat bersembunyinya biota laut.
Pemandangan alam,ombak besar putih yang menggulung , air laut bening hijau dan biru, butir-butir pasir bak permadani dibentang, pepohonan yang tumbuh antik dan unik, segalanya nampak sangat indah...hmmm...membuat suasana romantis tercipta begitu saja (hehe...dan kami pun bergandeng tangan menyusurinya).
Keindahan lukisan Alam Nya yang tidak bisa diuraikan secara persis dan pas disini karena begitu sempurnanya, cuma membuahkan komentar Subhanallah.
(jangan gak percaya indahnya, karena ini benar adanya...kalo gak percaya silahkan kunjungi aja!!)
280909
Tidak ada komentar:
Posting Komentar