Dunia ini panggung sandiwara......
(termasuk cerita cintanya)
" Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah sendagurau, permainan dan perhiasan" (Q.s. Al-Hadid : 20)
Perjalanan yang tengah engkau lalui itu bukan tanpa arah, rambu yang dapat memandu untuk sampai tujuan bukan tidak pula terpasang, tetapi matamu dengan sengaja mengabaikan semua dan membiarkan langkah membawa diri sesat di dalam jalan yang diketahui akan berakhir pada penyesalan.
Sejak awal, saat kaki dipijakkan pada jalan yang hanya bercabang dua, telah pula diketahui akhir dari perjalanan yang sementara. Tidak ada abu-abu yang akan menjadi pilihan. Begitu jelas digambarkan sehingga tidak seharusnya mata yang belum kehilangan fungsi tidak dapat menangkap, yang tersirat sekalipun. Tetapi tidak seperti yang semestinya yang terjadi. Pilihan memang tidak banyak, risiko yang dihadapi juga jelas, namun keterbatasan manusia dijadikan tempat bersembunyi.
Ketidak berdayaan menghadapi godaan dijadikan satu sifat manusia yang harus dapat ditolerir, tanpa perlu berusaha untuk mengatasinya, dengan do’a misalnya.
Sementara, sesungguhnya diri telah dibekali dengan berbagai macam kemampuan, melihat sesuatu yang tak terlihat dengan mata dengan menggunakan mata bathin yang lebih peka, atau mendengar lamat-lamat meski sumber suara jauh dari telinga, asal tak kita nafikan. Kau biarkan hidupmu dihanyutkan mimpi berbingkai mimpi, jauh dari alam realita, kaki tak menapak bumi, rasa tak lagi menyentuh indera. Semua engkau biarkan berjalan seolah seperti itulah ritme yang semestinya bergulir mengikuti keinginan egoisme yang melenakan.
Melangkah di angkasa memang terasa lebih ringan, tak perlu daya untuk menghasilkan gerak, sementara kenyataan tetap mengisyaratkan bahwa gravitasi akan menyebabkan sesuatu yang bermasa jatuh karena hukumnya, namun hati tetap besikukuh mendustakan.
Engkau senantiasa mengatakan bahwa dunia cinta yang sedang engkau layari adalah yang terindah dan tak bercela. Padahal cinta yang sebenarnya tidak akan menyengsarakan manusia. Ia menyuguhkan sesuatu yang dapat dirasa, dicerna dan diterima, tidak hanya oleh mereka yang tengah diberkahi nikmatnya, tetapi juga bagi mereka yang masih memiliki hati yang bernurani.
Masihkah dapat disebut cinta yang membahagiakan kalau itu menimbulkan luka dan airmata, memang tidak untukmu tapi bagi mereka yang sangat menyayangmu, yang berharap cinta yang akan membawamu bahagia adalah cinta yang berasal dari cinta yang diridhoiNYA.
Adakah masih dirasa bahagia, bila terlihat jauh dimatamu tak ada binar dan ketentraman yang melegakan. Lantas dimanakah letaknya makna bahagianya hidup yang engkau gaungkan terus,bila hanya ada dalam mimpi yang akan segera menghilang bila mata kembali terbuka. Dan dimana letaknya nikmat melayang di awang kalau kemudian menimbulkan sakit dan memar saat kembali ke dunia nyata, saat kaki berpijak di tanah dan langit berada di atas kepala.
Sampai kapankah diri akan membiarkan segalanya berjalan hanya mengikuti hasrat, sementara waktu bukanlah milik kita.
Tidakkah disadari ada akhir yang harus menjadi pilihan awal?? Sungguh, ini adalah permohonan : “Jangan abaikan apa yang terasa di lubuk hati, karena ia adalah kebenaran yang hakiki, yang akarnya sudah jauh lama ditanamkan”
Jalan yang engkau lalui bersamanya ini, bukanlah jalan segaris lurus yang akan berakhir di satu titik pasti yang sama, dia adalah Y line. Engkau harus memutuskan pilihan karena langkah telah membawamu pada titik dimana pilihan harus ditetapkan. Engkau tidak akan mampu terus bergandengan untuk selalu bersisian tanpa adanya pengorbanan, tidak bisa ia di kiri sementara engkau akan bertahan di kanan, karena space akan semakin melebar mengikuti jauhnya kaki diayunkan, dan hidup tak mungkin diam sebelum sampai waktu yang dijanjikan.
Disinilah cintamu pada NYA diuji.
Perjalanan ini bukan tanpa tujuan....
Engkau harus yakin, bahwa saat genggamannya engkau lepaskan, sama sekali tidak ada cinta yang hilang, CINTA telah engkau pertahankan, tidak ada rasa sayang yang engkau buang karena begitu banyak sayang yang Maha Penyayang limpahkan.
Jadi tersenyumlah....
Sesuai pesanan.
Jakarta, 29 Januari 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar