Ya Allah….Jadi bertambah sedih setelah berbagi kesedihan. Dari penyesalan keluar lagi penyesalan. Proses menutup mata untuk melihat, semakin kentara bukan sesuatu yang mengada-ada. Penuh arti yang dalam yang harus sering-sering dilakukan.
Kita semua sudah tau kalau penyesalan selalu datang belakangan, dan sepakat bahwa tidak boleh menjadi hal yang hanya direnungkan tanpa menghasilkan perubahan. Kesalahan tak boleh berulang.
Kemarin dalam perjalanan ke rumah sakit, saat menyetir sendiri yang sebenarnya perlu konsentrasi penuh, pikiran justru pecah terbagi-bagi, dan tiba-tiba saja pandangan memudar karena air mata ringan menjadi selaput bening tipis yang menghalangi pandangan. Ingat kesedihan saat mami pergi. Tetapi yang terbayang justru Ayahku yang selama ini luput dari perhatian, beban hatinya terabaikan, sekalipun beliau kami kenal sebagai orang yang paling keras mengajarkan kebenaran, kehidupan yang penuh adab dan peraturan, dan menanamkan bahwa tak boleh berkata Ah pada orang tua (sehingga kami sering dikategorikan anak pelawan), pasti hatinya seperti kami juga (karena karakter kami semua,ternyata seratus persen dirinya). Bedanya, saat perasaan itu melanda, beliau sendirian di rumah, merenung dan merasakan sepinya kesepian, sedangkan anak-anaknya bisa komentar : ”lagi inget mami nih” dan kemudian ritual penghiburan dijalani, berkumpul di suatu tempat, sambil makan2 kami mengenang kelucuan mami yang senantiasa menghasilkan tawa. Terobati kerinduan pada mami dengan mengenangnya. Tetapi sungguh bukan karena kami tidak cinta beliau, lantas kemudian tak menyertakannya dalam kegiatan itu , dan lalu berbagai alasan dicari-cari sebagai pembenaran untuk meringankan beban perasaan bersalah .
”Papi gak kuat kale’... pergi-pergi gini...!!”
Padahal mestinya ada cara lain....
Tak ingin menyesal …….
Have I Told you lately that I love You
Sampai di rumah sakit, berpikir apa yang bisa aku lakukan, supaya kesedihan beliau dikumpulkan dan kemudian dibagi rata pada anak-anaknya, biar ringan, walaupun tak sekalipun beliau menunjukkan beratnya beban yang dirasakan dan tak satu juga kata yang dikeluarkan.
Ya Tuhan, aku ingin beliau tau bahwa kami menyayangnya, sekalipun belum pernah aku utarakan (entah yang lain). Tetapi apakah dia tahu dan menemukan adanya bukti itu.
Buatku, pernyataan kasih sayang darinya tak perlu dilafalkan, aku sudah dapat merasakan, sekalipun aku heran kok gak pernah mendengarnya tapi tidak membuatku menuntut beliau membuktikan, atau bahkan menyesalkan.
Kenangan membuktikan…
When I was just a little girl, baru tamat SD, aku pernah diajak beliau ke IBM, kantornya dulu, mengenalkan lingkungan keduanya setelah rumah. Dengan bangga aku diajaknya berkeliling, berkenalan dengan teman-teman dan staffnya, disuruhnya aku bersalaman pada semua orang, tentunya harus dengan senyuman, dan wajib mengalirkan kebersahabatan ke dalam genggaman tangan (itu diajarkannya).
“ Hmm ini yang namanya Yoen yang pinter itu ya?!” komentar mereka
(Maaf ini sengaja tidak di edit, karena memang seperti itu kenyataannya, tapi dulu sebenernya aku risih, ngapain sih papi….)
Dan yang membuatku semakin sadar (setelahnya) adalah kebanggannya terhadapku yang nakal (tapi pinter) adalah wujud nyata kasih nya. Piagam penghargaanku sebagai murid teladan terpajang di ruang kerjanya. Menimbulkan kegembiraan sendiri dalam hati
Cukup sudah, beliau sudah Fill my heart with gladness. Tak lagi perlu kata-kata “Papi bangga !”
(kalau sekarang aku sering mengucapkan pada anak-anakku bahwa aku sayang dan bangga pada mereka, itu lebih karena jaman telah berubah, katanya... cinta perlu diutarakan, bukan diselatankan, dan nampaknya perasaan tak terlalu peka lagi mungkin! Jadi memang harus dilafalkan, bukan dihafalkan)
Kenangan lain…. Ease my troubles, that's what you do.
Di saat keluarga tengah dirundung cobaan yang bener2 tidak ringan, ( maaf ya Del, waktu itu gara2 persoalan elo yang gak abis-abisnya), kami diharuskan menyisihkan waktu untuk membuka forum mencari jawaban, atas apa yang sedang terjadi.
Berbagai strategi dikaji detail, setiap masalah punya alternatif solusi, dibahas satu persatu, melelahkan memang, tapi demi kebaikan, cara ini memang pilihan, tidak boleh ada keterpaksaan untuk menyikapi perbedaan.
Perdebatan timbul karena yang satu tidak setuju pada yang lain, tetapi pertemuan selalu harus menghasilkan kesepakatan dan keputusan . Aku menyebutnya manajemen keluarga Casym
Tetapi terus terang, masalah datang dari semua anaknya, termasuk dariku, dan kami mendapat perlakuan yang sama dalam mencari penyelesaian.
Senantiasa ada jalan keluar darinya, beliau selalu menekankan untuk menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah. Persis pegadaian memang, tapi yah itulah.....ayah
Jadi sungguh tidak pantas kalau perhatian yang telah diberikan tak menuai balasan, dari kita tentunya, anak2nya. Bukan hanya sekedar doa, walaupun aku yakin buatnya, ini semua sudah cukup. Dari kita, itu sangat kurang....
Kenangan lain... take away all my sadness
Setahun yang lalu, disaat aku terbaring tak berdaya di rumah sakit karena panas yang tidak turun2 meski dengan berbagai macam antibiotik, aku melihat satu jalan luaaaass dan lengang, seperti seolah terbuka dan harus kutuju untuk mencapai awal dari sebuah akhir perjalanan. Aku menelponnya untuk meminta kekuatan, kulakukan dalam ketidak sadaran nampaknya. Tapi aku ingat persis apa yang aku ucapkan
”Pih.... tolong doa in un ya” dengan kesedihan yang dalam. Sedih untuk segala macam kesalahan dan kekurangan yang pernah kulakukan padanya
Aku sungguh tidak menyadari kehebohan yang ditimbulkan dari kalimat yang menurutku biasa-biasa saja sebagai permintaan anak pada ayahnya, apalagi beliau adalah orang yang taat dan senang beribadah. Aku tidak meminta pada ibuku, karena sakit beliau lebih parah lagi dariku.
Dan pertamakali dalam hidupku yang sudah berlangsung lebih dari 40 tahun, aku merasakan tangannya ada di kepalaku, membacakan salawat yang aku minta dibacakannya, matanya berkaca-kaca, mengiringi salawat dan doa yang keluar dari hatinya. Ya Allah....,begitu terasa dia sungguh sayang padaku
Perlahan.... tapi menakjubkan, panas mereda...
Jadi sekali lagi, aku tak perlu pembuktian....
Ayahku pantas mendapat balasan untuk segala yang telah dilakukan untuk anak-anaknya.
Tak ingin menyesal....
Harus ada yang kami lakukan untuknya
Tadi pagi, adikku mengomentari note yang aku tuliskan, dan aku menangis karenanya
We should give thanks and pray, dengan kata-kata, dengan sikap, dengan laku, dengan bukti fisik , dengan segala yang mungkin dilakukan oleh seluruh anggota tubuh kita.
Mari.....
Temani kesendiriannya dalam bentuk nyata, selagi bisa,
Bahagiakan sisa hidupnya.
Sisihkan waktu untuk mengunjunginya,
Rasakan keluhan dan penuhi keinginan yang tak terucapkan
Lengkapi haknya .
Bersama.....
Have I told you lately that I love you?
Have I told you there's no one else above you?
Fill my heart with gladness, take away all my sadness,
Ease my troubles, that's what you do.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar