Ini bukan tentang ku dan ini juga bukan cerita rekaan atau fiktif belaka. Benar-benar tejadi dalam lingkaran kehidupanku, tapi Arie, sahabatku itu, memintaku untuk merahasiakan bahwa ini kisahnya, dan aku menyanggupinya untuk tidak menyebut-nyebut namanya dalam kisah yang akan kuceritakan nanti.
Ceritanya dimulai dari :
Disuatu senja, di musim yang lalu, ketika itu hujan rintik... terpukau aku menatap wajahmu, setelah tau apa yang terjadi ......!!
Kenyataan itu mengejutkan dan segera menimbulkan kepanikan dan penyangkalan.
”Gak mungkin...... gak mungkin”. Tiba-tiba saja dia menemukan fakta bahwa kasih sayangnya dikhianati, kepercayaannya dimanipulasi, dan sahabatku merasa dihempaskan kedalam jurang yang isinya hanya kepedihan, tiga orang anaknya terseret pula ke dalamnya.
Dan sejak saat itu, dimulailah cerita sedih sepanjang hari, dari hari ke hari.
Perubahan terjadi begitu drastis, sehingga aku tidak sempat mendeteksi gejala awalnya. Sahabatku tidak lagi mampu keluar rumah, ia merasa jantungnya memompakan darah begitu cepat ke seluruh tubuh sehingga aliran darah terasa panas dalam pembuluhnya, debaran jantungnya membuat ia tidak nyaman, terasa sakit di dada disetiap detakannya.
Setiapkali bercerita, airmata seolah menjadi mata air yang tidak pernah habis-habisnya, sumbernya berasal dari lubang di hatinya yang terluka. (Kehilangan airmata begitu banyak kah yang menyebabkan berat badannya hilang lebih dari 10 kg dalam waktu 3 bulan saja??).
Waktu terus berjalan tanpa peduli apakah temanku mampu bertahan di dalam kesedihan yang dalam. Waktu memang tidak mampu kita hentikan, betapapun besar dan gigih nya kita berupaya. Dia berputar terus, menghadirkan pagi dan malam, merubah terang menjadi gelap, membawa hari, bulan ke arah kepastian.
Kemudian harapan mulai memimpin, dia berupaya membangun segala hal yang sudah terlanjur diruntuhkan, menjadi tegar dalam penyangkalan terhadap kerapuhan. Usahanya seringkali membuat kedua tangannya gemetar. Sahabatku seperti sedang mencoba mendirikan istana kokoh dari pasir putir di pantai, sejenak bangunan berdiri, namun roboh lagi begitu datang ombak, sekalipun kecil. Itu membuatnya frustasi, berulang-ulang. Sakit, nangis, pasrah,marah dan akhirnya mencoba berserah pada Allah dalam keikhlasan menerima cobaan, jatuh bangun dalam segala usaha yang dikerahkan untuk menata kembali kehidupan keluarganya. Anak-anak menjadi alasan kekuatan yang membuat sahabatku mampu bertahan dalam kesakitan. Ia mau rumahnya, menjadi tempat ternyaman bagi anak-anaknya, sehingga kemanapun mereka pergi, kesitu anak-anak akan kembali, dalam dekapan keluarga bahagia yang tanpa dusta dan pura-pura.
Sahabatku tidak pernah tersesat dalam alternatif pilihan, pilihannya cuma satu menjadi pemenang dalam permainan itu, mempertahankan kebahagiaan keluarganya.
Ketentraman rumah tangga yang ia harapkan dapat ia ciptakan kembali dari kemauan memaafkan, seringkali diusik tingkah menyakitkan dari orang yang seharusnya bersama-sama mengatasi beban yang ditimbulkan oleh ulahnya.
Kadang, sebagai sahabat, saya menjadi marah juga melihat orang yang telah menyakiti hati temanku ini, yang dengan ringannya berkesimpulan persoalan sudah selesai dengan kata maaf yang diucapkan.
Kata maaf itu digunakan untuk menuntut sahabatku untuk segera melupakan luka tanpa membantu mengobatinya, melarang mengungkit-ungkit masalah sementara perbuatannya seperti sengaja menjadi alat ”reminder”.
Tidakkah ia tahu memaafkan ternyata lebih sulit lagi dari meminta maaf. Tidakkah ia melihat perjuangan berat sahabatku mempertahankan perkawinannya setelah dihadang perselingkuhan. Tidak mampukah ia merasakan hancurnya hati sahabatku akibat kesalahan yang ia nyatakan sebagai khilaf, padahal 22 tahun sudah kedua hati mereka terpaut menjadi satu (dan ada doaku didalamnya, yang aku panjatkan dulu). Mengapa tidak terlihat upayanya untuk membantu sahabatku memulihkan diri dari penderitaannya. Apapun latar belakang kejadian ini, ia (suami sahabatku) tidak boleh mengabaikan hal ini.
Sudah bertahun kejadian ini berlangsung, sudah bertahun pula aku senantiasa memahami perasaan sahabatku dan sudah saatnyalah kini aku bicara.
Dulu ketika aku berusaha untuk membangkitkan pikiran rasional, menjadi orang di luar permasalahannya yang memberikan nasehat, sahabatku malah menangis, menilai aku tidak berempati, padahal bukan sekedar empati, aku bahkan larut dalam kemarahan yang sama besarnya dengan yang ia rasakan, marah pada orang yang aku hormati (suaminya itu), marah pada ia yang coba tegar dan berupaya memperbaiki diri habis-habisan, seolah-olah itu semua terjadi karena kesalahannya. Ia ingin menjadi orang bijaksana yang hatinya lapang, penderma maaf yang tanpa pamrih,bagi suaminya sementara kata-kata kasar dilontarkan bagi perusak, nggak rasional!! . Aku benci hal itu, saat itu!, aku tidak melihatnya sebagai kebaikan. Keinginanku, sahabatku mampu menjadi orang yang ekspresif, lampiaskan marah pada tempatnya, mengajaknya melihat kenyataan yang ada, tapi ternyata aku melukai perasaannya. Maaf.
Sahabat, sekarang saatnya aku bicara dan dengarkan! (liat, aku tetap tak menyebut Arie, namamu, betapapun aku ingin, spy terdengar akrab)
Memaafkan adalah suatu proses, dan kadang berjalannya lambat , tidak bisa total dalam sekejab, tidak perlu menjadi seperti dewa, bahkan setengahnya pun jangan. Menjadi dewasa dalam problematika hidup, silahkan.
Engkau tidak akan dinilai jahat karena belum mampu memaafkan. Luka psikologis memang sulit untuk totally cured.
Memaafkan, hasil akhir dari upaya mu selama ini, yang bahan bakunya adalah air mata, kepedihan dan kepasrahan, jangan dijadikan sebagai bentuk genjatan senjata dalam peperangan. Jadikan ia bagian dari perdamaian oo perdamaian.
Kalau kenangan buruk muncul dalam ingatan, dan menyebabkan dada sakit, paru-paru sesak dan tangan berkeringat banyak sehingga membuatmu menjadi depressed, jangan segan-segan menghubungi seseorang yang selalu akan menguatkan dan membantu memberikan advis medis, secara Aku khan dokter lho!!
Jakarta, 19 Januari 2009
Yoen utk best friend
Ceritanya dimulai dari :
Disuatu senja, di musim yang lalu, ketika itu hujan rintik... terpukau aku menatap wajahmu, setelah tau apa yang terjadi ......!!
Kenyataan itu mengejutkan dan segera menimbulkan kepanikan dan penyangkalan.
”Gak mungkin...... gak mungkin”. Tiba-tiba saja dia menemukan fakta bahwa kasih sayangnya dikhianati, kepercayaannya dimanipulasi, dan sahabatku merasa dihempaskan kedalam jurang yang isinya hanya kepedihan, tiga orang anaknya terseret pula ke dalamnya.
Dan sejak saat itu, dimulailah cerita sedih sepanjang hari, dari hari ke hari.
Perubahan terjadi begitu drastis, sehingga aku tidak sempat mendeteksi gejala awalnya. Sahabatku tidak lagi mampu keluar rumah, ia merasa jantungnya memompakan darah begitu cepat ke seluruh tubuh sehingga aliran darah terasa panas dalam pembuluhnya, debaran jantungnya membuat ia tidak nyaman, terasa sakit di dada disetiap detakannya.
Setiapkali bercerita, airmata seolah menjadi mata air yang tidak pernah habis-habisnya, sumbernya berasal dari lubang di hatinya yang terluka. (Kehilangan airmata begitu banyak kah yang menyebabkan berat badannya hilang lebih dari 10 kg dalam waktu 3 bulan saja??).
Waktu terus berjalan tanpa peduli apakah temanku mampu bertahan di dalam kesedihan yang dalam. Waktu memang tidak mampu kita hentikan, betapapun besar dan gigih nya kita berupaya. Dia berputar terus, menghadirkan pagi dan malam, merubah terang menjadi gelap, membawa hari, bulan ke arah kepastian.
Kemudian harapan mulai memimpin, dia berupaya membangun segala hal yang sudah terlanjur diruntuhkan, menjadi tegar dalam penyangkalan terhadap kerapuhan. Usahanya seringkali membuat kedua tangannya gemetar. Sahabatku seperti sedang mencoba mendirikan istana kokoh dari pasir putir di pantai, sejenak bangunan berdiri, namun roboh lagi begitu datang ombak, sekalipun kecil. Itu membuatnya frustasi, berulang-ulang. Sakit, nangis, pasrah,marah dan akhirnya mencoba berserah pada Allah dalam keikhlasan menerima cobaan, jatuh bangun dalam segala usaha yang dikerahkan untuk menata kembali kehidupan keluarganya. Anak-anak menjadi alasan kekuatan yang membuat sahabatku mampu bertahan dalam kesakitan. Ia mau rumahnya, menjadi tempat ternyaman bagi anak-anaknya, sehingga kemanapun mereka pergi, kesitu anak-anak akan kembali, dalam dekapan keluarga bahagia yang tanpa dusta dan pura-pura.
Sahabatku tidak pernah tersesat dalam alternatif pilihan, pilihannya cuma satu menjadi pemenang dalam permainan itu, mempertahankan kebahagiaan keluarganya.
Ketentraman rumah tangga yang ia harapkan dapat ia ciptakan kembali dari kemauan memaafkan, seringkali diusik tingkah menyakitkan dari orang yang seharusnya bersama-sama mengatasi beban yang ditimbulkan oleh ulahnya.
Kadang, sebagai sahabat, saya menjadi marah juga melihat orang yang telah menyakiti hati temanku ini, yang dengan ringannya berkesimpulan persoalan sudah selesai dengan kata maaf yang diucapkan.
Kata maaf itu digunakan untuk menuntut sahabatku untuk segera melupakan luka tanpa membantu mengobatinya, melarang mengungkit-ungkit masalah sementara perbuatannya seperti sengaja menjadi alat ”reminder”.
Tidakkah ia tahu memaafkan ternyata lebih sulit lagi dari meminta maaf. Tidakkah ia melihat perjuangan berat sahabatku mempertahankan perkawinannya setelah dihadang perselingkuhan. Tidak mampukah ia merasakan hancurnya hati sahabatku akibat kesalahan yang ia nyatakan sebagai khilaf, padahal 22 tahun sudah kedua hati mereka terpaut menjadi satu (dan ada doaku didalamnya, yang aku panjatkan dulu). Mengapa tidak terlihat upayanya untuk membantu sahabatku memulihkan diri dari penderitaannya. Apapun latar belakang kejadian ini, ia (suami sahabatku) tidak boleh mengabaikan hal ini.
Sudah bertahun kejadian ini berlangsung, sudah bertahun pula aku senantiasa memahami perasaan sahabatku dan sudah saatnyalah kini aku bicara.
Dulu ketika aku berusaha untuk membangkitkan pikiran rasional, menjadi orang di luar permasalahannya yang memberikan nasehat, sahabatku malah menangis, menilai aku tidak berempati, padahal bukan sekedar empati, aku bahkan larut dalam kemarahan yang sama besarnya dengan yang ia rasakan, marah pada orang yang aku hormati (suaminya itu), marah pada ia yang coba tegar dan berupaya memperbaiki diri habis-habisan, seolah-olah itu semua terjadi karena kesalahannya. Ia ingin menjadi orang bijaksana yang hatinya lapang, penderma maaf yang tanpa pamrih,bagi suaminya sementara kata-kata kasar dilontarkan bagi perusak, nggak rasional!! . Aku benci hal itu, saat itu!, aku tidak melihatnya sebagai kebaikan. Keinginanku, sahabatku mampu menjadi orang yang ekspresif, lampiaskan marah pada tempatnya, mengajaknya melihat kenyataan yang ada, tapi ternyata aku melukai perasaannya. Maaf.
Sahabat, sekarang saatnya aku bicara dan dengarkan! (liat, aku tetap tak menyebut Arie, namamu, betapapun aku ingin, spy terdengar akrab)
Memaafkan adalah suatu proses, dan kadang berjalannya lambat , tidak bisa total dalam sekejab, tidak perlu menjadi seperti dewa, bahkan setengahnya pun jangan. Menjadi dewasa dalam problematika hidup, silahkan.
Engkau tidak akan dinilai jahat karena belum mampu memaafkan. Luka psikologis memang sulit untuk totally cured.
Memaafkan, hasil akhir dari upaya mu selama ini, yang bahan bakunya adalah air mata, kepedihan dan kepasrahan, jangan dijadikan sebagai bentuk genjatan senjata dalam peperangan. Jadikan ia bagian dari perdamaian oo perdamaian.
Kalau kenangan buruk muncul dalam ingatan, dan menyebabkan dada sakit, paru-paru sesak dan tangan berkeringat banyak sehingga membuatmu menjadi depressed, jangan segan-segan menghubungi seseorang yang selalu akan menguatkan dan membantu memberikan advis medis, secara Aku khan dokter lho!!
Jakarta, 19 Januari 2009
Yoen utk best friend
Tidak ada komentar:
Posting Komentar