“Matanya buka dong Ma, baru mami bisa ngeliat”. Beliau malah menjawab :”justru kalau tutup mata banyak yang nampak”. How come ??!
Sesekali aku coba juga ikutin apa yang dimaksud, duhhhh rasanya hati ini jadi sediiihh bener setelah tau apa yang beliau maksudkan. Introspeksi!
Ditengah sakitnya beliau lebih sering memejamkan mata, katanya dengan menutup mata, beliau bisa melihat mama, papa, kakak dan adiknya serta orang-orang yang dulu pernah dekat, kemudian ibuku menangis, menangisi kesalahan yang mungkin pernah dibuat dan mohon maaf pada mereka serta minta ampun pada Allah. Subhanallah!!
Hal itu semakin membuat hati ini rasa dikoyak-koyak penyesalan, betapa semasa hidupnya aku gak pernah menangkap apa yang beliau ingin coba tunjukkan, aku malah berkomentar “ah…. Mami ngada2 nih, halusinasi tuh Ma!”(pake kata Ah! Lagi).
Begitu banyak kenangan tentangnya, aku coba mencari satu saja kenangan yang kepingin aku buang karena menyakitkan, tapi Ya Allah........ tak satupun!!
Semuanya bermanfaat, menjadi guru sepanjang hidup. Sikap lakunya, kata-katanya, kalimat-kalimatnya dan bahkan intonasi suaranya penuh pendidikan. Sungguh tidak percaya! Delapan anaknya menjadi ”orang” tanpa perlu ada guru tambahan, yang menakjubkan tulisan kami semua bagus-bagus, karena hal sekecil itu menjadi perhatian.
Kini hampir setengah tahun sudah beliau tak ada, kembali pada NYA. Masih terbayang betapa rapuhnya beliau di tempat tidur pada saat-saat terakhir, didera sakit yang semakin berat, namun dalam ketidak berdayaan, kekuatannya justru semakin terlihat, betapa ia mampu menjaga kami anak-anaknya dalam satu perasaan yang sama, saling ketergantungan secara fisik dan psikis, satu sama lain. Satu persatu bergilir menemani, membacakan kalimat Tauhid dan Yaasin bergantian, kadang secara bersama-sama, berdoa dan meminta maaf (semoga Mami mendengar kami saat itu), bahkan kami masih sempat tertawa walau suasana kesedihan begitu terasa. (beliau juga lucu sih, jadi pada saat itu pasti gak marah).
Sekarang aku mencoba melakukan apa yang pernah beliau lakukan, tutup mata…. dan berdiam sejenak. Sungguh dia tidak mengada-ada.
Banyak hal yang terlihat saat kedua mata terkatup , seperti di bioskop, menonton diruang gelap tapi semuanya jelas dan detail
Dengan mata terpejam aku melihatnya dalam sakit berat, (berat karena mungkin tidak diringankan oleh doa ku, anaknya).
Cuci darah hampir sekitar tujuh tahun, tiga kali seminggu, 4–5 jam saat cuci darah, terbaring dalam posisi yang tidak bebas, miring susah, terlentang terus punggung panas, tulang belakang pegal, lengan lurus kaku karena selang terpasang di sana.
Setiapkali merintih kesakitan, aku selalu berkata "sabar Ma!", padahal beliau adalah orang yang paling sabar yang pernah aku tau, kata-kataku keluar karena aku tak pandai menghibur, hampir tidak pernah aku mengusap-usap bagian tubuhnya yang sakit, yang mungkin bisa mengurangi rasa sakit secara psikologis.
Penyesalan memang datang belakangan, tapi tidak boleh sia-sia, penyesalan harus menjadi pelajaran dan pengalaman.
Masih dengan mata yang tertutup aku melihat betapa sombongnya aku dengan ilmuku, mengatakan bahwa penyakitnya sudah tidak bisa sembuh, dan menganjurkan beliau untuk ikhlas saja. Padahal apalah artinya ilmuku jika dibandingkan kehendakNYA, tidak ada yang aku ketahui kecuali atas izinNYA, kok bisa-bisanya aku bilang gak bisa sembuh, sementara penyakitnya datang dari Tuhan, DIA lah satu-satunya yang berhak memutuskan bisa tidaknya sesuatu berlaku di bumi. Seharusnya saat itu aku berdoa , doaku pasti berguna untuk nya, setidaknya hatinya bisa tenteram.
Aku begitu menyesal karena Doaku untuknya standar aja selama ini, hanya memintakan ia diampunkan dosa, disayang seperti beliau menyayangku. sampai suatu saat aku menyadari kesalahan itu, doaku terlalu singkat dan aku harus minta lebih banyak pada Allah.
Di Raudah, saat pertama kali aku memohon kesembuhan baginya karena aku sungguh sangat ingin beliau sembuh dan terlepas dari rasa sakit yang berkepanjangan, kalaupun harus berpenyakit hilangkan sakitnya.
Tetapi sampai akhir hidupnya beliau tetap dalam kesakitan, namun aku percaya Allah mempunyai rencana yang lebih baik untuk ibuku.
Kini, apapun aku minta padaNYA untuknya, satu doa yang aku pelajari, selalu keluar dari hati, insya Allah takkan berhenti walau air mata menyesakkan duka ke dada.
Ya Allah....
Kasihanilah keterasingannya
Temanilah kesendiriannya
Hiburkanlah kegelisahannya
Tenangkanlah ketakutannya
Dan anugrahkanlah padanya salah satu dari RahmatMU
Yang dengannya dia merasa cukup dari (menuntut) kasih sayang kepada selainMU
Serta gabungkanlah dia bersama dengan orang orang yang dicintainya
Di Firdaus milikMU
Amiin ya Rabbal’alamiin.......
Jakarta
Januari 2009
Putri Yoen Aulina
Tidak ada komentar:
Posting Komentar