Biar kuulangi sebuah kisah tentang malan yang pernah khianat
Ketika dititipkan padanya sebuah rahasia
Yang tak lagi mampu disimpan
di bagian tersembunyi dalam dada seorang wanita
Karena jendela yang mulai terkuak
Dan rasa rahsia itu menggeliat menyeruak
Sebabkan mata tak pula mampu halangi
Bentuk rindu yang semakin berbumbu
Dalam khianatnya
Gemetar malam kala biarkan bulan berpendar
Yang selama satu masa ditahannya agar tak bersinar
Meskipun purnama tetap saja pasi
Supaya apa yang dipercayakan padanya
Aman dalam gelap
Parau suara malam sampaikan risau
Karena gemintang dibiarkannya berkilau
Yang pada waktu tertentu sinarnya terus dia halau
Meski seluruhnya kejora sinarnya padam
Agar apa yang jadi amanat,Tentram dalam pekat
Begitulah ia dengan beban
Ditanggungnya berbulan-bulan
Sampai lelah tak terelakkan
Hingga diserahkan nya hari pada pagi
Tanpa satupun yang tersembunyi
Bicara malam pada embun di daun
Tak rasa bersalah dilantunkannya suara surga
"Hai wanita, petiklah bahagia itu
Ini mengenai rasa yang tak perlu kau ragu"
Kemudian ia pun pamit
Titip salam pada matahari...
Matahari bersuka
Karena panasnya boleh hangatkan cinta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar