Masih tetep mau menyodorkan sisi positif ber efbi , aku coba ikut kuis tipe kepribadian, dua kali mencoba, tetep hasilnya KOLERIS…
Dan bukan karena mau pamer, kalau aku kemudian terpaksa menyodorkan bukti ke koleris an aku, ini cuma sekedar kepengen kaya’ penulis2 psikologi popular itu yang memaparkan pengalaman pribadinya ke dalam buku, dan eh….ternyata bukunya menjadi buku terlaris. (siapa tau note ku jadi note terlaris…hehehe)
(Aku baca personality plus nya Florence Littauer)
Katanya: “Orang koleris dilahirkan sebagai Pemimpin”
Aku gak pernah tau apakah aku dilahirkan dengan membawa tanda lahir seorang pemimpin, dan gak sempet juga nanya ke ibuku saat beliau masih ada. Kalaupun masih sempet, aku juga bingung tanda lahir apa yang harus aku tanyakan , tahi lalat?...bercak merah...? jadi rasanya gak perlu diperpanjang.
Yang aku ingat....semasa di sekolah dasar, aku ikut pramuka. Selama di pramuka itu aku selalu menjadi pemimpin, ketua barung saat siaga, terus jadi ketua regu waktu penggalang, bahkan jadi penggalang pratama. Aku bangga pake setrip merah tiga garis di lengan baju, kaya’nya gimanaaaa gitu.
Di SMP dan SMA hampir gak beda dengan di esde, selalu jadi pemimpin, di kelas jadi ketua kelas. Seingatku aku gak pernah mengacungkan jari untuk dipilih sebagai ketua itu, temen2 selalu milih aku jadi ketua mereka, padahal secara fisik, aku dulu cungkring amat, kaya’nya gak panteslah jadi ketua, tapi mungkin tanda lahir itu dapat mereka lihat.
(Eh.....gak tau juga sih apa alasan mereka milih aku, bisa juga karena sebel..., tapi gak pentinglah buat aku...kalau mereka milih karena sebel, kan mereka sendiri yang kena batunya. Hehehe...)
Katanya lagi : orang Koleris kuat sangat memerlukan perubahan. Mereka serba memaksa merubah segala sesuatu yang tidak pada tempatnya dan selalu mengoreksi apa saja yang tidak benar.
Wah kalo yang ini gw banget!
Jika ingin mencari pembuktian pada statement di atas, bisa menghubungi anak buahku, betapa aku dinilai keras, kadang suka tidak peduli pada pendapat mereka ketika aku menginginkan suatu berjalan sesuai dengan yang seharusnya. Kenyamanan yang sudah mereka nikmati sekian lama, (bekerja tidak terstruktur dan melenceng dari sistem), bisa porak poranda dengan kehadiranku. Gak heranlah kalau banyak yang kemudian merasa terganggu dengan aturan-aturan baruku.
Aku selalu bilang kepada mereka ” saya gak peduli apakah kalian suka atau tidak suka pada saya, tetapi selama kita didalam jam kerja, kita harus sanggup bekerjasama, dan bekerjasama secara harmonis...”
Kejam juga ya kedengarannya.....
Tukang koreksi? Hmmm ada benarnya, aku paling suka berlaku seperti ibu pada siapa saja (maksudnya tkg benerin lebih tepatnya), misalnya ada stafku yang pake baju krahnya ngelipet sebelah, aku secara gak sengaja kadang memperbaiki, sehingga orang tersebut jadi bergerak ke kiri salah, ke kanan gak bener. Salah tingkah gak karuan.
Masih katanya juga : Watak koleris unggul dalam keadaan darurat.
Mungkin ini ada benarnya juga.
Pada ulang taun Kemerdekaan kita tahun 1995 (Indonesia 50 tahun) ada perayaan kembang api besar di Monas. Saat itu, aku dan suamiku ikut berbondong-bondong ke sana. Waktu datang, kita memang masih bebas memilih tempat mana yang paling cozy buat kami, gelar tiker, dan duduk berempat anak beranak, si uni 4 tahun, ade’nya 2 tahun. Setelah acara selesai barulah aku dan suami terkaget2, begitu banyaknya orang, keluar secara bersamaan, saling mendorong. Sudah pasti kami gak bisa terus berpegangan tangan karena terdorong kesana sini oleh kekuatan yang begitu dahsyat. Melihat situasi yang demikian, aku langsung keluar sifat pengaturnya deh, mulai membagi tanggung jawab, aku megang si bungsu, suami harus konsentrasi pada yang sulung. Aku katakan saat itu, untuk tidak memikirkan satu sama lain, selamatkan diri masing2 dan janji ketemu di Istiqlal.
Alhamdulillah...selamat berkumpul kembali berempat.
Peristiwa yang teranyar, saat ibuku meninggal dunia. Anakku sampai heran, ”kok mama masih bisa ngatur-ngatur segala sih?” tanyanya. Iya memang, didalam kesedihan yang dalam karena baru saja melepas ibu pergi. (Ibuku menghembuskan nafas terakhirnya dipelukanku), aku bukannya menangis diam di depan jasad almarhumah, justru langsung instruksi ini, urus itu. Suruh pesen dan pasang tenda, suru urus pemakaman, suruh beli bunga dan menganjurkan untuk tidak berbusana warna hitam pada seluruh keluarga, dan sempet-sempetnya memarahi adikku yang menangis keras. (tega ya aku...? buat adikku maaf ya!). Aku sendiri mengaturyang lainnya
Alqur’an bahkan sudah kami siapkan sebelumnya, untuk mereka yang ingin membacakan Ya siin buat ibuku, saat mereka bertakziah
Katanya lagi sih, itu sesuai dengan sifat watak Koleris : ”mengorganisasi dengan baik”
Rasanya tak imbang kalau membahas pribadi hanya dari sebelah sisi, karena sebagai seorang koleris pasti ada juga hal-hal negatif yang melekat di diri.
Katanya pula : Orang koleris punya keyakinan dasar bahwa mereka selalu benar, sehingga tidak menyadari bahwa mereka mungkin salah.
Jujur, memang seperti itulah aku, sok tau! Terkadang karena merasa selalu pendapatku yang benar, maka orang jadi malas beradu argmentasi denganku, buntut-buntutnya aku malah jadi gak dapet masukan dari mereka-mereka itu.
Padahal mana ada manusia yang gak pernah salah, tapi yah begitulah kenyataannya. Salah tapi gak mau mengaku salah, selalu berhasil mencari alasan logis, yang akhirnya orang lain jadi terpengaruh dan sejalan dengan alur pikiranku ” Hmm.... bener juga ya!” bathin mereka, sementara aku juga ngomong dalam hati ”wah..gw salah nih!”
Katanya lagi : orang koleris hanya merasa senang kalau berada dalam posisi memegang kendali.
Ihh serem bener pendapat itu ya, kaya’nya aku egois banget sebagai seorang koleris. Mau bilang gak setuju, tapi kaya’nya aku harus berkaca dulu deh, kalau aku mau mengklaim bahwa aku gak begitu. Bisa jadi begitu itu memang apa adanya aku. Aku selalu menuntut orang lain bekerja ala aku, yang seringkali hanya menghasilkan frustasi bagi mereka yang bekerja dibawah komandoku. Dan terkadang sikapku yang begitu bisa berakibat menyepelekan orang lain. Masya Allah.....emangnya aku siapa?
Kasian juga ya mereka....pasti stress terus menerus.
Katanya : Orang koleris Gak sabaran...
Yang ini juga aku banget....Aku susah sekali mentolerir orang yang lamban, yang bekerja gak efektif dan seringkali membuat aku geregetan.
Kalo udah begini aku cuma bisa bilang ” Ondeh ...mandeeee!!”
Ini yang menjadi hambatan dalam bekerja tim, bagi orang koleris.
Katanya Juga : bahwa sulit sekali menasehati orang koleris kuat karena mereka mengetahui segala-galanya, selalu menimpakan kesalahan pada orang lain dan selalu punya alasan untuk kesalahannya sendiri.
Aku gak tau apakah aku seperti ini? Sepertinya lebih baik kalau ada orang lain yang menilai.....
Catatan
Kalau kemudian saya bisa menjadi tidak koleris sertus persen, dan bisa jadi phlegmatis, sanguinis dan melankolis pada kondisi-kondisi tertentu, itu karena belajar.
Mengenali kekuatan dan kelemahan kita bisa membantu kita untuk memahami orang lain
Tidak ada komentar:
Posting Komentar