Ketika rasa kantuk tak juga mampu membujuk mata untuk sejenak beristirahat, tuk biarkan penat tak terus membebani perasaan. Aku mendengar percakapan dua bagian hati diam-diam. percakapan pun dilantunkan perlahan, berbisik, seolah enggan mengusik rasaku yang ada di dalamnya...yang tengah meringkuk.
Keheningan tetap berdiam, mendengarkan juga
Hati yang pertama adalah bahagian dari hati lainnya, milikku, yang seharusnya tak terpisah oleh sayatan pisau yang bergerigi, tinggalkan jejas, suguhkan kelukaan yang ditimbulkan oleh irisan yang sebabkan ada serpihan yang terlepas , membawa ku sengsara
Hati yang kedua adalah bagian hatimu yang telah menyatu kedalam hatiku, miliki hampir keseluruhan harap yang telah sengaja kusimpankan padamu, kini pun terlepas, terhempas membawa serta apa yang kupercayakan untuk kau jaga, tinggalkan derita di milikku..
mereka berbicara tentang aku...
Hati pertama:
Duhai kekasih...terlihatkah oleh mata kasihmu, sanubarinya yang terisi kini menjadi kosong. Lelapnya hampa,tak ada bunga dalam taman tidurnya. setiap malam resah berharap pagi segera datang, ketika pagi menghampiri, wajahnya tetap tak berseri. Tengoklah lingkaran kepiluan disekitar matanya, membiru halangi ketentraman, pancarkan kegelisahan karena mu
hati kedua:
duhai belahan jiwaku...hati yang senantiasa aku jaga ini adalah miliknya, tak kan lah mungkin aku biarkan, sekalipun sekejap, sehingga kedukaan dapat menyelinap dan menetap di hatinya, mengganggu tenang nya, kacaukan cahaya di matanya, yang aku suka...
hati pertama:
duhai kekasih...tak terlihatkah olehmu, tak adalagi bintang-bintang di mata yang kau puja, redup dan gelap tak berkilat. Hambar yang terpancar. Hatinya menyampaikan lewat jendela yang terbuka, tentang pucatnya cinta yang kau biarkan memudar...yang ia paksakan hilang
Hati kedua:
duhai belahan jiwaku...rasa itu ia yang renggutkan keluar dari tempatnya semula dimana ia tenang bersemayam di lubukku. Jejaknya pun mengalirkan darah dari pembuluhku, melarut dalam sesuatu yang kau sebutkan kepiluan itu. mengapa kah ia berlari tinggalkan, akupun sehampa nya
Hati pertama:
duhai kekasih...kecintaannya terhadapmu terbangkan harapan yang tadinya diikatnya kuat di tonggak kesetiaan. Dikaitkan pada pilar kepercayaan yang diamanatkan padanya, yang semula tak bergeming, kini berlarian bersama angan, melayang dan berlabuh dalam perahu mu. Tujuanmu menjadi tempat yang ingin pula ia tuju, tapi ia tersesat dalam ketakpastian arahmu.
Kau bawa dia, tapi tak kau sertakan. Kau beri dia tapi pemberianmu tetap kau genggam, bukan menjadi miliknya. Yang kau inginkan adalah angin yang hembuskan kenyamanan, yang dia berikan adalah semesta alam cintanya.
Gemercik air dijadikan musik buatmu, kau pun terbuai dalam bahteramu.
Hembusan angin dijadikan nya kidung yang dikumandangkan untuk menghantar lelahmu ke pembaringan yang tenteram, kaupun terlelap.
Kabut, awan dirajutnya jadi pelukan gantikan gelisahmu, sehingga kau pun terlena
ditungguinya malam sepanjang putarannya agar bisa disediakannya pagi bahagia
hanya buatmu...dari hatinya
tak mampukah kau sadari keinginannya...?
Hati kedua:
duhai belahan jiwa...telah kusaksikan, dan bukan tak kurasakan semesta kasih yang telah disajikan olehnya untukku. Tak jua ku ingkari kebahagiaan, damba rindu yang dikemasnya rasuki hidupku, jadi kenikmatan azali yang terus kurasakan di sepanjang hariku, mulai dari pagi yang bermentari, siang yang berpelangi hingga malam yang tak bisa kelam karena disinari berbagai macam cahaya dari bulan yang selamanya purnama, bintangpun seluruhnya kejora.
Juga saat pagi berisi kabut dan embun, siang yang mendung dan matahari tak kuasa menyeruak lewati gumpalan awan tebal yang pekat, sampai malam yang sepenuhnya hitam, sembunyikan semua sinar kedalam pelukan kabut yang mengental.
samudra yang aku arungi ini, aku angankan bersamanya
sekali lagi kusampaikan, cinta yang kujaga ini miliknya
tak sampaikah padanya, kebersamaan impiannya adalah juga khayalku...
***
Percakapan itu tak hentikan malam barang sejenak
waktu terus bergulir bawa letih pada kelopak
akupun tak lagi mendengar apa kelanjutan perbincangan
yang sembunyi-sembunyi aku dengarkan
kata yang terangkai jadi ayunan yang buaikan kelelahan
ninabobokkan hati agar tertidur dengan tenang
dan...
mata terbuka karena hari sudah tak lagi gelap
aahhh...aku tertidur ...
dan hatiku tetap rasakan hal yang sama seperti yang kemarin kurasa
bermimpi aku rupanya
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar